SURIAH (SYRIA)

SURIAH (SYRIA)


Republik Arab Suriah
الجمهورية العربية السورية
(Al-Jumhūriyyah al-ʿArabiyyah as-Sūriyyah
Arab)
                                                 
                                                      Bendera                    Lambang
Motoوحدة، حرية، اشتراكية
Waḥdah, Ḥurrīyah, Ishtirākīyah
(
Arab: "Persatuan, Kebebasan, Sosialisme")
Lagu kebangsaan
حماة الديار
Humāt ad-Diyār

 - 
 - 
مجلس الشعب
Majlis asy-Sya'ab
Pendirian

 - 
8 Maret 1920 
 - 
1 Desember 1924 
 - 
14 Mei 1930 
 - 
Kemerdekaan
24 Oktober 1945 
 - 
Memisahkan diri dari Republik Arab Bersatu
28 September 1961 
 - 
Partai Ba'athmengambil alih kekuasaan
8 Maret 1963 
 - 
Total
185.180 km2 (87)
 - 
0,84
 - 
Perkiraan 2015
23.423.062 (54)
 - 
115/km2 (96)
PDB (KKB)
Perkiraan 2010
 - 
Total
$107.831 miliar (77)
 - 
$5.040 (136)
PDB (nominal)
Perkiraan 2010
 - 
Total
$59.957 miliar[1] (69)
 - 
$2.802[1] (147)
Gini (2014)
55,8 (tinggi)[2]
IPM (2015)
▼0,343 (rendah) (166)
Pound Suriah (LS) (SYP)
 - 
Musim panas (DST)
kanan
Republik Arab Suriah (Arabالجمهورية العربية السورية al-jumhūriyyaħ al-arabiyyaħ as-sūriyyaħ; bahasa InggrisSyria), adalah negara yang terletak di Timur Tengah, dengan negara Turki di sebelah utaraIrak di TimurLaut Tengah di barat dan Yordania di selatan. Suriah beribukota Damaskus.[3]
Geografi
Keadaan iklim
Sepanjang barat gunung pantai, Suriah beriklim mediteranian, sebagaimana di daerah beriklim mediterania lain, di sana ada musim kering yang panjang dari bulan Mei ke bulan OktoberHujan musim panas sangatlah jarang terjadi di Suriah. Di pantai, musim panas sangat panas dan lembap, dengan suhu rata-rata 29°C, ketika musim dingin, daerah ini mempunyai suhu minimal harian 10 °C.[4]
Ini hanya wilayah yang musim panasnya dingin di Suriah, adalah tempat dengan ketinggian di atas 600 meterSlunfehBludan dan Mashtan al Helou adalah lokasi wisata favorit penduduk lokal.[4]
Di Aleppo, di arah utara-barat, suhu rata-rata pada bulan Agustus adalah 30 °C, sedangkan pada bulan Januari suhunya sekitar 4,4 °C dan di Damaskus sangat mirip.[4]



Peta lokasi
Suriah mempunyai 14 kota dengan kode ISO-3166-2, diantaranya adalah sebagai berikut.[5]
·         DA - Dara
·         DI - Dimashq
·         DZ - Dayr az Zawr
·         HA - Al Hasakah
·         HI - Hims
·         HL - Halab
·         HM - Hamah
·         ID - Idlib
·         LA - Al Ladhiqiyah
·         QU - Al Qunaytirah
·         RD - Rif Dimashq
·         RQ - Ar Raqqah
·         SU - As Suwayda
·         TA - Tartus
            Suriah merupakan bagian dari kumpulan tanah Bulan Sabit Subur. Sejak zaman kuno hingga berada pada kekuasaan Turki Ustmaniyah, Suriah merupakan istilah geografis untuk seluruh daerah meliputi Suriah, Lebanon, Yordania, Palestina dan Israel sekarang yang dahulu dikenal dengan nama wilayah Syam.
Suriah pernah menjadi wilayah kekuasaan berbagai bangsa, mulai dari berada dibawah kekuasaan bangsa Funisia sebagai nenek moyang mereka, lalu dibawah kekuasaan bangsa Mesir pada tahun 1600 SM, bangsa Aramea pada 1200 SM yang pada saat itu menamai wilayah kekuasaannya “Suriah” berasal dari kata Syriac dialek Aramea serta mendirikan kota Damaskus sebagai pusat kegiatan dan tempat tinggal masyarakatnya. Abad ke-6 SM, Suriah menjadi bagian kekuasaan kekaisaran Persia.
Selanjutnya pada abad ke-4 SM, Suriah menjadi bagian kekuasaan Imperium Iskandar yang Agung yang berhasil menghancurkan kekuataan Persia dan membuka jalan bagi penaklukan Suriah dibawah Imperium Romawi. Terpecahnya Imperium Romawi pada abad ke-4 sesudah Masehi menjadikan Suriah berada dibawah kekuasaan Imperium Bizantium yang berpusat di Konstantinopel.
Pada tahun 634-634 M, kaum Muslim Arab berhasil menaklukan Suriah dan memberikan ciri peninggalan yang begitu kuat hingga saat ini yaitu bahasa Arab dan agama Islam. Tahun 661 M, Suriah menjadi pusat berkembangnya Islam karena Damaskus menjadi ibukota kekuasaan Bani Umaiyah. Selanjutnya tahun 1516, Suriah ditaklukkan oleh Imperium Turki Ustmani yang pada saat itu dalam perjalanan menyerang Mesir. (Oslon, 2002:248)
Akhir abad ke-18, banyak daerah-daerah di Suriah dikuasai oleh para pasha (panglima perang) setempat. Kemunduran Imperium Turki memberikan peluang bagi masuknya kekuasan Eropa di Suriah.
Kekalahan Turki dalam perang dunia I, menyebabkan Turki harus menyerahkan sebagian wilayah kekuasaannya berada dibawah pengawasan Liga Bangsa-Bangsa. (Khoury, 2004:429)
Prancis mendapatkan hak atas Levant (istilah untuk wilayah Suriah dan Lebanon) dibawah pengawasan Liga Bangsa-Bangsa berdasarkan keputusan Konferensi San Remo yang Akta mandatnya ditanda tangani di London pada 24 Juli 1922. Alasan Prancis mendapatkan hak atas Levant sendiri didasarkan kepada hubungan sejarah yang panjang antara Prancis dengan penguasa Suriah jauh sebelum terjadinya perang salib. Pada saat itu Prancis menerima Kapitulasi Sultan mengenai izin didirikannya kantor dagang dan konsulat Prancis di Suriah. Hubungan baik tersebut dilanjutkan oleh Henri IV, Richelieau dan Louis XIV. Pada 1740, Prancis memperbarui kapitulasi dengan tambahan reverensi khusus atas Levant mengenai tempat-tempat suci di Palestina dan hak istimewa Prancis tersebut dikukuhkan melalui perjanjian pribadi Napoleon dengan Sultan yang berkuasa atas wilayah Suriah pada 1802. Kondisi tersebut selanjutnya mengukuhkan hubungan yang sangat akrab antara Prancis dengan umat Katolik Maronit. (Lenczowski, 1993:198)
Tumbuhnya nasionalisme Arab di Suriah menjadi kekecewaan tersendiri bagi Prancis karena tidak sesuai dengan misi budaya yang diusungnya di Levant, selain itu masyarakat Suriah pada saat itu lebih setuju berada dibawah mandat Inggris atau Amerika dari pada Prancis. Melihat kondisi tersebut, Prancis selanjutnya menyerang Damaskus dan mengusir Emir Faisal sebagai pemimpin tentara padang pasir yang nasionalis yang memiliki kekuasaan atas daerah pedalaman Suriah pada saat itu. (Khoury, 2004:429-431).
Setelah berhasil menguasai Suriah secara utuh, Prancis mulai melaksanakan politik divide et impera dengan memecah belah wilayah Suriah menjadi empat bagian yaitu Lebanon Raya, negara Damaskus meliputi Jabal Druze, Aleppo termasuk sanjaq Alexandretta dan wilayah Lattakia atau wilayah Alawi. Pengawasan atas Levant sendiri dilakukan oleh Komisaris Tinggi Prancis.
Dari keempat wilayah yang dibentuknya, Prancis relatif berhasil di Lebanon dan Lattakia. Penduduk Lebanon yang mayoritas beragama Kristen lebih menikmati status terpisahnya dan lebih berharap mendapat perlindungan dari Prancis. Pada tahun 1925, Dewan Perwakilan Lebanon bentukan Prancis membuat rancangan undang-undang yang disahkan menjadi undang-undang dasar oleh komisaris tinggi pada Mei 1926 dan mensahkan system negara parlementer mengikuti pola barat. Dalam pasal 30 konstitusinya menyebutkan mengenai hubungan republic yang bergantung pada Prancis. Konstitusi tersebut diamandemen oleh pemerintah Lebanon pada 1927 dan 1929.
Tahun 1931, Lebanon mengalami krisis ekonomi yang mengakibatkan terjadinya peningkatan angka pengangguran. Hal tersebut memaksa komisaris tinggi Prancis menghapus konstitusi dan membentuk pemerintahan sementara untuk membenahi keadaan kas negara. Krisis tersebut juga membuat Prancis mengubah Lebanon menjadi negara korporatif semiotoriter, selanjutnya komisaris tinggi yang baru, Count de Martel memberlakukan konstitusi baru Lebanon pada 2 Januari 1934 yang isinya tidak menyatakan agama resmi negara, menjamin perwakilan profesi, membatasi wewenang parlemen, memperkuat kekuasaan eksekutif dan menjaga keuntungan negara dari pembelanjaan yang tidak bertanggung jawab.
Selanjutnya secara bertahap tradisi baru dibentuk yaitu Presiden harus orang Katolik Maronit dan perdana menterinya orang Muslim Sunni tujuannya agar ada keseimbangan diantara dua kelompok mayoritas Lebanon. Pemberlakuan Millet atau zakat disesuaikan dengan kebijakan agama masing-masing. Kekuatan politik di Lebanon terbagi diantara pemimpin agama dan partai politik dan terdapat kelompok bersama dengan Prancis. Pada perkembangan selanjutnya muncul kelompok yang menentang dan menuntut dihapuskannya pemerintahan mandat. (Lenczowski, 1993:199)
Pada 9 September 1936 enam tokoh nasionalis dan moderat dari Suriah berangkat ke Prancis untuk membuat perjanjian dengan pihak pemerintah Prancis yang pada saat itu diwakili oleh Menteri Luar Negeri Prancis, Vienot. Isi perjanjian yang berhasil disepakati dan ditandatangani pihak Prancis dan Suriah yang pada saat itu diwakili oleh Hasyim Bey Al Atassi adalah:
·                     Upaya Suriah untuk merdeka dalam waktu tiga tahun dan meminta Prancis untuk mendukung masuknya Suriah dalam keanggotaan Liga Bangsa-Bangsa
·                     Prancis dan suriah mengadakan aliansi militer
·                     Hak Prancis untuk menggunakan dua pangkalan udara Suriah (d) Izin atas angkatan darat Prancis untuk berada di daerah Alawi dan Druze selama lima tahun termasuk pengakuan atas distrik-distrik tersebut kedalam wilayah Suriah
·                     Instruktur militer Prancis diakui sebagai penasihat militer Suriah
·                     Prancis harus memasok senjata dan perlengkapan militer bagi Suriah
·                     Apabila terjadi perang, Suriah dan Prancis harus bekerjasama melindungi dan memasok pangkalan udara Prancis serta menyediakan komunikasi dan transit.

Dalam surat-surat lampiran lainnya, Suriah juga setuju untuk merekrut para penasihat dan ahli teknik dari Prancis, membentuk system hukum khusus bagi perlindungan orang asing dan duta besar Prancis diistimewakan dari para perwakilan diplomatik lainnya. Ketetapan selanjutnya adalah:
1.                  Meskipun Suriah berhak atas Lattakia dan Jabal Druze, otonomi wilayah tersebut tetap di jamin;
2.                  Biro khusus didirikan bagi sekolah asing, lembaga amal dan misi arkeologi;
3.                  Perjanjian dibuat guna merundingkan perkembangan universitas yang ada;
4.                  Suriah berjanji akan menghormati hak-hak resmi dan kekayaan pribadi milik bangsa Prancis;
5.                  Persetujuan dibidang moneter;
6.                  Perjanjian keuangan. (Lenczowski, 1993:201)

Perjanjian yang sama juga dibuat dan disahkan Prancis dengan Lebanon, yang ditanda tangani oleh Komisaris Tinggi Count de Martel dan Emile Adde di Beirut 13 November 1936, isinya sendiri merupakan duplikat perjanjian dengan Suriah kecuali masalah ketentuan teritorial dan minoritas sehingga tidak ada batasan bagi tentara Prancis dalam hal penempatannya.
Optimisme para kaum nasionalis di Suriah dan Lebanon kembali suram karena pertama Prancis menolak meratifikasi perjanjian. Perubahan peta politik Prancis dan masalah keamanan nasional yang terancam menjadi faktor pendukung hal tersebut. Saat itu Prancis khawatir mendapat serangan dari Jerman dan Italia sehingga Prancis tidak mau kehilangan pangkalan militernya di Mediterania Timur. Keduanya adalah karena Suriah tetap memperjuangkan upaya persatuan dan kesatuan bangsanya.
Penolakan Prancis untuk meratifikasi perjanjian yang dibuat tahun 1936 mempengaruhi situasi politik di Suriah dan Lebanon pada saat itu, tetapi karena kuatnya pengaruh Prancis dikedua wilayah tersebut kalangan politisi dari kedua belah pihak masih menunjukkan loyalitasnya terhadap Prancis sehingga menjelang pecahnya perang dunia II kekuatan pangkalan militer Prancis di Mediterania Timur masih kuat.
Dipihak lain pihak para masyarakat Arab saat itu justru sangat membenci Prancis dan sekutunya, hal tersebut dilatar belakangi oleh pengkhianatan Prancis terhadap bangsa Arab menyusul berakhirnya perang dunia I, dukungan terhadap Turki dalam masalah sanjaq Alexandretta, tidak diratifikasinya perjanjian dengan Suriah dan Lebanon, serta pengakuan terhadap keberadaan zionisme di Palestina.
Pada 8 Juni 1941, pasukan Inggris dibawah pimpinan Jenderal Sir Henry Haitland Wilson menyerang Suriah melalui Palestina, transyordania dan Irak, tetapi unsur-unsur Prancis bebas menyertai penyerangan tersebut, keadaan tersebut dikarenakan pada saat itu Suriah termasuk juga Lebanon berada dibawah kekuasaan Vichy dan pejabat Prancis yang anti-Inggris dan menolak Komite Prancis Bebas bentukan Jenderal de Gaulle.
Sehari setelah invasi, panglima Prancis, Jenderal Catroux menyatakan bahwa pemerintah Prancis Bebas akan mengakhiri mandatnya atas Suriah dan Lebanon. Dengan demikian keduanya akan merdeka dan akan merundingkan hubungan timbal balik dengan Prancis.
Pada saat yang sama Inggris pun setuju dengan pernyataan Prancis tersebut. Selanjutnya Jenderal de Gaulle menunjuk jenderal Catroux sebagai “Delegasi Jenderal dan Berkuasa Penuh Prancis Bebas di Levant”, menggantikan jabatan komisaris tinggi pada 24 Juni 1941. Dalam upaya tersebut Prancis menyertakan Inggris didalamnya, namun konsep mengenai kemerdekaan Suriah dan Lebanon antara Inggris dan Prancis ternyata berbeda sehingga Jenderal de Gaulle melakukan penangguhan. Situasi tersebut dimanfaatkan oleh pihak Prancis untuk kembali memperkuat posisi istimewanya atas Suriah dan Lebanon.
Perbedaan antara Prancis dan Inggris selanjutnya tidak dapat disembunyikan sehingga menimbulkan kecurigaan keduanya dalam masalah penyelesaian Levant.
Pada 28 September 1941, Jenderal Catroux memproklamasikan kemerdekaan Suriah, yang isi naskahnya adalah:
Suriah berhak menjadi negara merdeka dan berdaulat;Suriah berkuasa menunjuk perwakilan diplomatiknya;Suriah berhak menyusun angkatan perangnya;Suriah bersedia membantu Prancis selama perang;Segala syarat terdahulu dengan perjanjian Prancis-Suriah yang baru yang menjamin kemerdekaan Suriah.
Tindakan tersebut juga diikuti dengan proklamasi kemerdekaan bagi Lebanon pada 26 November 1941. Isi naskahnya hampir sama dengan isi naskah proklamasi Suriah. Untuk pelaksanaanya Jenderal Catroux mengangkat Seikh Taj ad-din sebagai presiden Suriah dan Alfred Naccache sebagai presiden Lebanon.
Menaggapi hal tersebut, Inggris mengakui kemerdekaan kedua negara tersebut secara de jure, dan mengangkat Jenderal Spear sebagai duta besar pertama untuk kedua negara tersebut. Negara-negara Arab lainnya justru merasa ragu dengan kejadian tersebut, dilain pihak Amerika tidak langsung mengakui kemerdekaan kedua negara baru tersebut tetapi bersikap menunggu proses berakhirnya mandat secara resmi dan tercapainya keepakatan resmi bilateral Prancis dengan Suriah dan Lebanon. (Lenczowski, 1993:203-205). [6]

Sejarah Suriah
Template : Sejarah Suriah Sejarah Suriah meliputi perkembangan di kawasan Suriah (bahasa YunaniΣυρία) dan Republik Arab Suriah modern. Seriah tampaknya datang dari nama Kekaisaran Neo-Asiria yang didirikan pada abad ke-10 SM. Suriah modern meraih kemerdekaan pada 1946 setelah masa penjajahan Perancis (1917–20) dan Mandat (1920-1946). Pada 1958, Republik Suriah menjadi bagian dari Republik Arab Bersatu namun pada 1961 menarik diri dari federasi tersebut. Dari 1963, Republik Arab Suriah telah dikuasai oleh Ba'ath dengan keluarga Assad secara eksklusif dari 1970. Suriah saat ini menghadapi perseteruan antara pasukan-pasukan yang saling bersaing dalam Perang Saudara Suriah.
Sejarah kawasan tersebut terbagi dalam periode-periode berikut ini,
·         Syam Prasejarah
·         Zaman Modern awal: lihat Suriah Utsmaniyah,
Penaklukan Suriah oleh Muslim
Penaklukan Suriah oleh Muslim

Peta penaklukan 
Khalid bin Walid di Suriah
Tanggal
634-638
Lokasi
PalestinaSuriahYordaniaLebanonIsrael dan Anatolia Tenggara.
Hasil
Kemenangan Rasyidin
Perubahan
wilayah
Levant dikuasai oleh Muslim
Pihak terlibat
Tokoh dan pemimpin
Heraklius
Jabalah bin Al-Aiham
Theodore Trithyrius
Vahan
Vardan
Thomas
Buccinator
Gregory
·         Penaklukan Suriah oleh Muslim terjadi pada paruh pertama abad ke-7, di mana wilayah ini sudah dikenal sebelumnya dengan nama lain seperti Bilad al-ShamLevant, atau Suriah Raya. Sebenarnya pasukan Islam sudah berada di perbatasan selatan beberapa tahun sebelum Nabi Muhammad SAW meninggal dunia tahun 632 M, seperti terjadinya pertempuran Mu'tahpada tahun 629 M, akan tetapi penaklukan sesungguhnya baru dimulai pada tahun 634 M di bawah perintah Kalifah Abu Bakardan Umar bin Khattab, dengan Khalid bin Walid sebagai panglima utamanya.[8]

Suriah Bizantium

Suriah di bawah pemerintahan Romawi timur selama 7 abad sebelum Islam datang, juga pernah di invasi beberapa kali oleh Kekaisaran Sassania Persia yaitu pada abad ke-3, 6 dan 7; Suriah juga menjadi target serangan sekutu Sassania, Lakhmid. Wilayah ini disebut Provinsi Iudaea oleh Bizantium. Selama perang Romawi-Persia terakhir, yang dimulai pada tahun 603, pasukan Persia di bawah pimpinan Khisra II berhasil menduduki Suriah, Palestina and Mesir selama lebih dari satu dekade sebelum akhirnya berhasil dipukul mundur oleh Heraclius dan dipaksa berdamai dan mundur dari wilayah yang mereka kuasai itu pada tahun 628 M. Jadi, pada saat Islam berperang melawan Romawi ini sebenarnya mereka sedang menata kembali wilayahnya yang sempat hilang selama kurang lebih 20 tahun tersebut.

 

Penaklukan Suriah Dibawah Kekhalifahan Abu Bakar

Khalid segera dikirim menuju barisan Suriah. Ia berangkat ke Suriah dari Al-Hirah, di Irak pada awal Juni 634, ia membawa separuh tentaranya yaitu 8000 orang. [9]Ada dua rute menuju Suriah dari Irak: salah satunya melalui Daumatul Jandal, dan yang lainnya melalui Mesopotamia, melewati Ar-Raqqah. Tentara muslim di Suriah yang membutuhkan bantuan darurat, jadi Khalid menghindari rute konvensional menuju Suriah melalui Daumatul Jandal, karena rute itu merupakan rute yang jauh, dan butuh beberapa minggu untuk mencapai Suriah. Khalid menghindari pula rute Mesopotamia, karena adanya garnisun Romawi di Suriah Utara dan Mesopotamia.
Untuk melibatkan mereka ketika tentara Muslim terkepung di Suriah adalah bukan ide yang bijaksana. Khalid memilih rute yang lebih dekat menuju Suriah, yaitu rute yang tidak konvensional melewati Gurun Suriah. Dengan berani, ia memimpin tentaranya melewati gurun. Tercatat bahwa tentaranya berjalan selama dua hari tanpa setetes air, sebelum mencapai tanda-tanda sumber air di oasis. Khalid kemudian memasuki Suriah Utara dan menjebak sayap kanan tentara Bizantium. Menurut sejarawan modern, inilah manuver strategis cerdik Khalid, barisannya yang berbahaya melalui gurun dan muncul pada front timur laut Bizantium, sementara mereka (Bizantium) diduduki dalam menanggulangi tentara Muslim di Suriah Selatan, menjadikan mereka lepas kendali akan pertahanan Bizantium di Suriah.[10]



Penaklukan Suriah Selatan
Peta yang menunjukkan rute invasi Khalid bin Walid atas Suriah.
SawaSuriah, dan kota bersejarah Tadmur telah jatuh pertama kali ke tangan Khalid. SukhnahQaryatain, dan Hawarin ditaklukan setelah Pertempuran Qarteen dan Pertempuran Hawarin. Setelah berurusan dengan semua kota ini, Khalid bergerak menuju Damaskus, melewati gunung yang sekarang diketahui sebagai Sanital Uqab (celah Uqab) setelah nama standar tentara Khalid. Dari sini, ia pindah menuju Bosra, ibukota kerajaan Ghassaniyah Arab, Negara Vasal Kekaisaran Bizantium.
Ia memerintahkan komandan Muslim lainnya untuk berkonsentrasi terhadap tentara-tentara mereka yang dekat dengan perbatasan Suriah-Arab di Bosra. Di Maraj-al-RahitKhalid mengalahkan tentara Kristen-Arab Ghassaniyah pada sebuah pertempuran cepat, yang disebut Pertemuran Maraj-al-Rahit. Sementara itu, Abu Ubaidah bin Jarrah, komandan tertinggi tentara Muslim di Suriah, telah memerintahkan Syurahbil bin Hasanah untuk menyerang Bosra. Pengepungan terakhir di Bosra membawa tentara yang kecil yang terdiri dari 4000 orang.
Penaklukan pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab
Wilayah Islam tahun 622-750 M.
  Perluasan wilayah pada masa Nabi Muhammad, 622-632
  Perluasan wilayah pada masa Khulafaur Rasyidin, 632-661
  Perluasan wilayah pada masa Bani Umayyah, 661-750
Wilayah pertama yang berhasil ditaklukkan adalah Damaskus pada tahun 635 M, dan Yerusalem pada tahun 637 M. dipimpin oleh panglima Khalid bin Walid pada masa pemerintahan khalifah Umar bin Khattab.
Pada saat menyerahnya Damaskus ke tangan Islam, penduduk dijamin keamanannya (harta, nyawa, bahkan gereja) dengan syarat mereka mau membayar upeti atau jizyah.
Serangan balik Heraklius sempat membuat kaum muslimin mundur dari Yerusalem dan Damaskus, tetapi hanya sebentar saja karena pasukan Romawi berhasil dihancurkan pada pertempuran Yarmuk (636 M). Akhirnya kedua wilayah ini berhasil direbut kembali pada tahun 640 M. yang sekaligus menandai selesainya penaklukan di Suriah secara total.
Khalifah Umar membagi Suriah menjadi 4 distrik besar yaitu Damaskus, HimsYordania, dan Palestina (kemudian ditambah lagi distrik Kinnasrin). Ia juga memerintahkan kepada seluruh tentara Islam agar tetap tinggal dalam barak-barak militer, sehingga kehidupan masyarakat lokal tidak terganggu dan tetap berjalan seperti biasa.
Banyak suku-suku arab yang sudah lama menetap di Suriah akhirnya beralih ke Islam dan juga suku Ghassan. Khalifah juga menerapkan toleransi beragama sehingga memberi citra positif bagi pemeluk agama Kristen Nestorian, Kristen Yacobite dan Yahudi di mana pada masa kekuasaan Romawi mereka dianiaya. Hal inilah yang dianggap sebagai hal terpenting dari suksesnya pemerintah Islam menata wilayah mereka disamping pemerintah juga menghindari pemungutan jizyah secara berlebihan apalagi disertai pemaksaan. Zakat dikenakan kepada petani hanya sesuai dengan hasil panennya, jizyah diambil dari penduduk yang masih kafir sebagai imbalan atas jaminan perlindungan pemerintah dan pembebasan dari wajib militer.
Khalifah Umar juga membuat zona penyangga diseluruh jazirah arab (tempat lahirnya Islam), dan setelah Suriah yang terletak di barat jatuh ke tangan kaum muslimin, pasukan Islam bisa memfokuskan arah ke wilayah timur untuk menaklukkan Kekaisaran Sassania Persia. Setelah Persia juga jatuh ke tangan kaum muslimin mereka kemudian memfokuskan kembali ke provinsi Bizantium, Aegiptus.
Penaklukan pada masa pemerintahan Khalifah Ustman bin Affan
Selama kepemimpinan UsmanKonstantinus III memutuskan untuk menaklukkan kembali Levant, yang telah jatuh ke pihak Muslim selama pemerintahan Umar. [11] Invasi skala besar direncanakan dan pasukan besar dikirim untuk merebut kembali SuriahMuawiyah I, gubernur Suriah dipanggil untuk memberi bala bantuan dan Usman memerintahkan gubernur Kufah untuk mengirim kontingen, yang bersama-sama dengan garnisun Suriah mengalahkan tentara Bizantium di Suriah Utara.
Usman memberi izin kepada Muawiyah, gubernur Suriah, untuk membangun angkatan laut. Dari basis mereka di Suriah, umat Islam menggunakan armada ini untuk menaklukkan Siprus pada 649 dan Kreta dan kemudian Rodos dan dilancarkannya serangan tahunan menuju Anatolia Barat ini menggagalkan Bizantium untuk membuat upaya lebih lanjut untuk menaklukkan kembali Suriah.
Pada 654-655, Usman memerintahkan dilaksanakannya persiapan ekspedisi untuk menaklukkan ibukota Romawi Timur, Konstantinopel, tetapi karena adanya kekacauan di kekhalifahan yang berkembang pada 655 dan mengakibatkan terbunuhnya Utsman, ekspedisi tersebut dibatalkan selama beberapa dekade dan dilaksanakan di bawah dinasti berikutnya, yaitu Umayyah, namun berakhir dengan kegagalan.
Penaklukan pada masa Bani Umayyah
Mu'awiyah menjadikan Damaskus sebagai basis kekuatan untuk melebarkan wilayah Islam saat ia menjadi khalifah pada tahun 660 M. Ia tercatat sebagai khalifah bani Umayyah pertama yang memimpin kekhalifahan Islam dengan pusat di Suriah dan menjadikan Damaskus sebagai ibukotanya yang terus bertahan hingga abad berikutnya.
Kekristenan di Suriah
Kekristenan di Suriah mencapai jumlah umat sekitar 10% dari total populasi.[12] Denominasi Kristen terbesar di negara itu adalah Gereja Ortodoks Yunani dari Antiokhia (dikenal sebagai Ortodoks Yunani Patriak Antiokhia dan semua di Timur),[13][14][15] diikuti oleh Gereja Katolik-Yunani Melkit, sendiri merupakan cabang Ritus Timur,[16] dan kemudian oleh Gereja Ortodoks Suriah Oriental, ada juga minoritas Protestan dan anggota dari Gereja Timur Asiria dan Gereja Katolik Kaldea. Kota Aleppo diyakini memiliki jumlah terbesar dari orang-orang Kristen di Suriah.

Status Kristen di Suriah

Damaskus adalah salah satu daerah pertama yang menerima Kristen selama pelayanan Simon Petrus. Ada lebih banyak orang Kristen di Damaskus daripada di tempat lain. Setelah ekspansi militer kekaisaran Umayyah ke Suriah dan Anatolia, ajaran Islam datang dan banyak yang menjadi Muslim.
Saat ini, Damaskus masih memiliki jumlah yang cukup besar untuk orang Kristen, gereja-gereja di seluruh kota, terutama di distrik Bab Touma (The Gate of Thomas dalam bahasa Aram dan Arab). Misa diadakan setiap hari Minggu dan pegawai negeri sipil diberikan waktu ibadah di hari Minggu pagi untuk memungkinkan mereka untuk datang ke gereja, meskipun Minggu adalah hari bekerja di Suriah. Sekolah-sekolah di kabupaten Kristen yang didominasi memiliki hari Sabtu dan Minggu sebagai akhir pekan, sementara akhir pekan resmi Suriah jatuh pada hari Jumat dan Sabtu.
Pada Mei 2011, International Christian Concern mengklaim bahwa orang-orang Kristen di Suriah lebih takut pada demonstran anti-pemerintah daripada pemerintah sendiri, karena di bawah pemerintahan Assad Suriah telah ada toleransi terhadap agama minoritas.[17][18]

Hubungan

Orang Kristen (serta orang-orang Yahudi yang tersisa beberapa di negara ini) terlibat dalam setiap aspek kehidupan Suriah. Mengikuti tradisi Paulus, yang memberikan khotbah dan pelayanan di pasar, orang-orang Kristen Suriah adalah pelaku dalam ekonomi, akademik, ilmiah, teknik, seni, dan kehidupan intelektual, hiburan, dan Politik Suriah.
Banyak orang Kristen Suriah adalah pelaku dalam sektor publik dan manajer dan direktur sektor swasta, sementara beberapa yang administrator lokal, anggota parlemen, dan menteri dalam pemerintahan. Sejumlah Kristen Suriah juga perwira di angkatan bersenjata Suriah. Mereka lebih suka bercampur dengan Muslim daripada membentuk unit dan brigade Kristen, dan berjuang bersama rekan-rekan Muslim mereka melawan pasukan Israel di berbagai konflik Arab-Israel dari abad ke-20.
Selain pekerjaan sehari-hari mereka, orang-orang Kristen Suriah juga berpartisipasi dalam kegiatan sukarela di daerah yang kurang berkembang dari Suriah. Akibatnya, Kristen Suriah umumnya dipandang oleh warga Suriah lainnya sebagai aset untuk komunitas yang lebih besar.

Terpisah

Kristen Suriah memiliki pengadilan sendiri yang menangani kasus-kasus perdata seperti pernikahan, perceraian dan warisan berdasarkan ajaran Alkitab. Dengan kesepakatan dengan masyarakat lain, gereja-gereja Kristen Suriah tidak mendakwahi Muslim dan tidak menerima perpindahan dari Islam. Tokoh Kristen Suriah yang perlu diperhatikan termasuk penulis sejarah Paul dari Aleppo, pemain catur Philip Stamma, dan musisi Armenia Suriah George Tutunjian.
Kristen dan Islam
Di Suriah, ada beberapa perbedaan sosial antara Kristen dan Muslim. Sepanjang sejarah, orang-orang Kristen Suriah lebih tinggi dalam hal tingkat urbanisasi daripada Muslim, banyak dari mereka yang hidup layak dalam atau di sekitar AleppoHamah, atau Latakia, dan ada relatif sedikit dari mereka dalam kelompok berpenghasilan rendah[19]. Secara proporsional lebih banyak Kristen daripada Muslim yang dididik melampaui tingkat dasar,[butuh rujukan] dan kebanyakan dari mereka relatif menjadi pekerja kerah putih dan pekerjaan profesional.[20]
Presiden Suriah harus sebagai Muslim, sebagai akibat dari permintaan populer pada saat konstitusi ditulis. Namun, Suriah tidak mengakui negara berlandaskan agama.
Area penduduk Kristen
Kekristenan menyebar ke seluruh Suriah dan mereka adalah mayoritas di beberapa provinsi, daerah penting adalah
·         Aleppo, di mana tinggal populasi Armenia terbesar.
·         Damaskus memiliki komunitas Kristen yang cukup besar.
·         Homs, yang dikenal memiliki populasi Kristen terbesar kedua, terutama di dekat Lembah Kristen, sebuah situs wisata populer dekat dengan Crac des Chevaliers
·         Ma'loula
·         Saidnaya
·         Tartous
·         Latakia
·         Suwayda
·         Al-Hasakah dan Qamishli, yang memiliki etnis besar populasi Assyria/Suriah.

 

Daftar Presiden Suriah


Kepala Pemerintahan Suriah
·         'Ali Rida Basha ar-Rikabi                                     30 September – 5 Oktober 1918
·         Emir Faisal                                                            5 Oktober 1918 – 8 Maret 1920
Raja Suriah 1920
·         Faisal I                                                                  8 Maret – 28 Juli 1920
Kepala Negara Suriah 1922 – 1936 (Mandat Perancis)
·         Subhi Bay Barakat al-Khalidi                              28 Juni 1922 – 21 Desember 1925
·         François Pierre-Alype (sementara)                       9 Februari – 28 April 1926
·         Damad-i Shariyari Ahmad Nami Bay                  28 April 1926 – 15 Februari 1928
·         Shaykh Taj ad-Din al-Hasani                               15 Februari 1928 – 19 November 1931
·         Muhammad 'Ali Bay al-'Abid                              11 Juni 1932 – 21 Desember 1936
Presiden Suriah 1936 – Sekarang (Republik)       
·         Hashim al-Atassi                                                  21 Desember 1936 – 7 Juli 1939
·         Bahij al-Khatib (Ketua Dewan Komisioner)        10 Juli 1939 – 16 September 1941
·         Khalid al-Azm (sementara)                                  4 April – 16 September 1941
·         Taj al-Din al-Hasani                                              16 September 1941 – 17 Januari 1943
·         Jamil al-Ulshi (sementara)                                    17 Januari – 25 Maret 1943
·         'Ata' Bay al-Ayyubi (Head of State)                    25 Maret – 17 Agustus 1943
·         Shukri al-Kuwatli                                                 17 Agustus 1943 – 30 Maret 1949
·         Husni al-Za'im                                                      30 Maret – 14 Agustus 1949
·         Hashim al-Atassi (Head of State)                                    15 Agustus 1949 – 2 Desember 1951
·         Fawzi Selu (Kepala Negara)                                 3 Desember 1951 – 11 Juli 1953
·         Adib al-Shishakli                                                  11 Juli 1953 – 25 Februari 1954
·         Hashim al-Atassi                                                  28 Februari 1954 – 6 September 1955
·         Shukri al-Kuwatli                                                 6 September 1955 – 22 Februari 1958
·         Bagian Uni Republik Arab                                   22 Februari 1958 – 29 September 1961
·         Maamun al-Kuzbari (sementara)                          29 September – 20 November 1961
·         Izzat an-Nuss (sementara)                                    20 November – 14 Desember 1961
·         Nazim al-Kudsi                                                    14 Desember 1961 – 8 Maret 1963
·         Luai al-Atassi (Ketua Dewan Komando Revolusioner Nasional) : 9 Maret – 27 Juli 1963
·         Amin al-Hafez (Ketua Dewan Presidensial)        27 Juli 1963 – 23 Februari 1966
·         Nureddin al-Atassi (Kepala Negara)                    25 Februari 1966 – 18 November 1970
·         Ahmad al-Khatib (Kepala Negara)                      18 November 1970 – 22 Februari 1971
·         Hafez al-Assad                                                     22 Februari 1971 – 10 Juni 2000
·         Abdul Halim Khaddam (sementara)                    10 Juni – 17 Juli 2000
·         Bashar al-Assad                                                    17 Juli 2000 – Sekarang.

Geografi Suriah


Geografi Suriah menggambarkan keadaan rupa geografis negara Suriah secara keseluruhan. Suriah terletak di Asia Barat, bersebelahan dengan Laut Mediterania, antara Lebanon dan Turki. Suriah terdiri dari dataran tinggi kering, meskipun bagian barat lautnya yang bersebelahan dengan Laut Tengah cukup hijau. Sungai Eufrat, sungai paling penting di Suriah, melintasi negara ini di timur. Negara ini dianggap sebagai salah satu dari lima belas negara yang dianggap termasuk kedalam "tempat berawalnya tamadun" (cradle of civilization).
Kota besar termasuk ibu kota negara Damaskus di barat daya, Aleppo di utara, dan Homs. Kebanyakan kota penting lain terletak di sepanjang pesisir.
Iklim di Syria panas dan kering, meskipun musim dingin termasuk ringan. Dikarenakan kondisi ketinggian negara ini, terkadang terjadi hujan salju pada saat musim dingin.
SOSIAL
            Maraknya pemberitaan tidak berimbang dan kabar hoax terkait konflik di Suriah membuat Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI), Damaskus, Suriah memberikan sejumlah verifikasi atas pemberitaan yang tidak berimbang terkait Suriah. Mereka meminta masyarakat Indonesia untuk tidak mudah terprovokasi oleh berita yang tidak jelas sumbernya terkait konflik di negara tersebut.
Dalam press release yang ditandatangani oleh Susilo Priyadi sebagai ketua PPI Damaskus Suriah dan Lion Fikyanto sebagai sekretaris, PPI Suriah menyatakan bahwa konflik di Suriah bukanlah konflik sektarian. Melainkan konflik yang berkaitan erat dengan berbagai kepentingan politik regional dan global.
Suriah, lanjut mereka, merupakan negara sekuler-sosialis, multi-etnis, sekaligus multi-agama & sekte. Di negara tersebut terdapat etnis yang berasal dari, antara lain, Arab, Kurdi,  Armenia, dan Turkman. 
Sementara itu, para penduduknya merupakan penganut Sunni, Syi’ah, Kristen Katolik, Ortodox Timur, Ortodox Syria, Protestan, dan Druze. Terdapat pula penduduk yang atheis di negara tersebut. Oleh karenanya, Tentara Nasional Suriah merupakan tentara yang terdiri dari berbagai suku dan agama.
"Kehidupan beragama di Suriah cukup moderat dan sangat toleran," kata pernyataan dari PPI tersebut. Sebelum konflik yang terjadi pada tahun 2011, Suriah termasuk dalam 5 besar kategori negara-negara dengan tingkat kriminalitas terendah. Kebutuhan pokok masyarakat seperti listrik, air dan roti disubsidi oleh pemerintah. Selain kebutuhan pokok, pendidikan dan pelayanan kesehatan di rumah sakit negeri pun juga mendapatkan subsidi penuh dari pemerintah.
Terkait Aleppo, PPI Suriah mengatakan, secara geografis, letak provinsi tersebut sangat strategis dan merupakan kota terbesar kedua setelah ibukota Damaskus yang terkena imbas konflik paling parah. Hal ini membuatnya diperebutkan oleh kelompok-kelompok yang terlibat konflik.
Mereka juga menghimbau agar pemerintah RI mewaspadai WNI yang pernah terlibat konflik Suriah dan melakukan kordinasi dengan Perkumpulan Alumni Syam Indonesia (AL-SYAMI) sebagai wadah resmi alumni PPI Suriah di tanah air.
Sementara bagi masyarakat Indonesia yang ingin memberikan bantuan untuk warga Suriah, PPI Suriah menyarankan agar bantuan itu disalurkan melalui lembaga resmi yang dikoordinasikan dengan perwakilan RI setempat. Mereka juga mendesak pemerintah Indonesia untuk lebih berperan aktif dalam penyelesaian konflik di Suriah melalui jalur diplomasi di forum-forum internasional.
Di sisi lain, Suriah, tambah mereka, merupakan negara yang menaruh kepedulian yang sangat tinggi terhadap problematika Palestina dan menjadikannya sebagai isu nasional. 
BUDAYA
            Suriah adalah masyarakat tradisional dengan sejarah budaya yang panjang. Pentingnya ditempatkan pada keluarga, agama, pendidikan, disiplin diri dan hormat. Rasa Suriah untuk kesenian tradisional dinyatakan dalam tarian seperti alSamah, yang Dabkeh dalam semua variasi mereka, dan tarian pedang. Upacara pernikahan dan kelahiran anak-anak kesempatan untuk demonstrasi hidup adat rakyat.
Galeri seni di Damaskus
Literatur Suriah telah memberikan kontribusi terhadap sastra Arab dan memiliki tradisi bangga puisi lisan dan tertulis. Penulis Suriah, banyak dari mereka bermigrasi ke Mesir, memainkan peran penting dalam Nahda atau kebangkitan sastra dan budaya Arab abad ke-19. Tokoh penulis Suriah kontemporer meliputi, antara lain, Adonis, Muhammad Maghout, Haidar Haidar, Ghada al - Samman, Nizar Qabbani dan Zakariyya Tamer .
Aturan Ba'ath Party, sejak 1966 kudeta, telah membawa sensor baru. Dalam konteks ini, genre novel sejarah, dipelopori oleh Nabil Sulayman, Fawwaz Haddad, Khyri al - Dzahabi dan Nihad Siris, kadang-kadang digunakan sebagai sarana untuk mengekspresikan perbedaan pendapat, mengkritisi hadir melalui penggambaran masa lalu. Narasi rakyat Suriah, sebagai subgenre fiksi sejarah, dijiwai dengan realisme magis, dan juga digunakan sebagai sarana kritik terselubung masa kini. Salim Barakat, seorang imigran Suriah yang tinggal di Swedia, adalah salah satu tokoh terkemuka dari genre. Sastra kontemporer Suriah juga mencakup fiksi ilmiah dan utopiae futuristik (Nuhad Sharif, Talib Umran), yang juga dapat berfungsi sebagai media perbedaan pendapat.
Cinema iklan di Aleppo
Dunia musik Suriah, khususnya yang dari Damaskus, telah lama di antara Arab paling penting di dunia, khususnya di bidang musik Arab klasik. Suriah telah menghasilkan beberapa bintang pan - Arab, termasuk Asmahan, Farid al - Atrash dan penyanyi Lena Chamamyan. Kota Aleppo dikenal muwashshah, sebuah bentuk Andalous dinyanyikan puisi dipopulerkan oleh Sabri Moudallal, serta untuk bintang populer seperti Sabah Fakhri.
Televisi pertama kali diperkenalkan ke Suriah pada tahun 1960, ketika Suriah dan Mesir ( yang mengadopsi televisi pada tahun yang sama ) adalah bagian dari Republik Persatuan Arab. Ini disiarkan dalam warna hitam dan putih sampai 1976. Sinetron Suriah memiliki penetrasi pasar yang cukup besar di seluruh dunia Arab Timur .
Hampir semua media Suriah adalah milik negara, dan Partai Ba'ath mengontrol hampir semua surat kabar. Pihak berwenang mengoperasikan beberapa badan intelijen, di antara mereka Shu'bat al – mukhabarat alAskariyya, mempekerjakan sejumlah besar koperasi.
Olahraga
Olahraga paling populer di Suriah adalah sepak bola, basket, renang, dan tenis. Damaskus adalah rumah bagi kelima dan ketujuh Pan Arab Games. Banyak tim sepak bola populer yang berbasis di Damaskus, Aleppo, Homs, Latakia, dll. The Stadium Abbasiyyin di Damaskus adalah rumah bagi tim nasional sepak bola Suriah. Tim menikmati beberapa keberhasilan, setelah lolos ke empat kompetisi Piala Asia. Tim itu internasional pertamanya pada tanggal 20 November 1949, kalah dari Turki 7-0. Tim ini peringkat 138 di dunia oleh FIFA pada Mei 2013.
Masakan Suriah
Terkait dengan wilayah Suriah di mana hidangan tertentu telah berasal, masakan Suriah kaya dan beragam dalam bahan-bahan. Syrian food sebagian besar terdiri dari Southern Mediterania, Yunani, dan hidangan Asia Barat Daya. Beberapa hidangan Suriah juga berkembang dari Turki dan Perancis memasak : hidangan seperti shish kebab, boneka zucchini, yabra ' (diisi daun anggur, kata yapra ' berasal dari kata Turki ' Yaprak ' yang berarti daun).
Hidangan utama yang membentuk masakan Suriah adalah kibbeh, hummus, tabbouleh, fattoush, labneh, shawarma, mujaddara, shanklish, ppastırma, sujuk dan baklava. Baklava terbuat dari filo pastry diisi dengan kacang cincang dan direndam dalam madu. Suriah sering melayani pilihan makanan pembuka, yang dikenal sebagai meze, sebelum hidangan utama. Za'atar, daging sapi cincang, dan keju manakish populer hors d' oeuvres. The Arab flatbread khubz selalu dimakan bersama-sama dengan meze.
Minuman di Suriah bervariasi, tergantung pada waktu hari dan kesempatan. Kopi Arab, juga dikenal sebagai kopi Turki, adalah minuman panas yang paling terkenal, biasanya dibuat di pagi hari saat sarapan atau di malam hari. Hal ini biasanya disajikan untuk tamu atau setelah makan. Arak, minuman beralkohol, juga merupakan minuman yang terkenal kebanyakan disajikan pada acara-acara khusus. Lebih banyak contoh minuman Suriah termasuk Ayran, Jallab, kopi putih, dan bir yang diproduksi secara lokal disebut Al Shark.
           
POLITIK

Peta Kekuatan di Suriah
Konflik Suriah yang semula pemberontakan melawan rezim diktator dan bengis berubah menjadi konflik antara kekuatan. Konflik itu membuat Suriah terbagi menjadi empat wilayah yang dikontrol empat kekuatan. Ini peta kekuatan di Suriah seperti yang dipantau Al-Jazeera pada Selasa (18/08):
Empat tahun lebih enam bulan konflik berdarah di Suriah berlalu. Revolusi warga yang menginginkan lengsernya rezim diktator lagi kejam kini berubah menjadi konflik antara kelompok. Konflik itu pun mengubah Suriah menjadi empat wilayah yang terlihat sama-sama kuat. Mereka adalah rezim Suriah, faksi-faksi oposisi Suriah, milisi Kurdi dan organisasi Daulah Islamiyah.
Pada tahun, milisi Kurdi nampaknya menjadi kekuatan di Suriah yang meraih kemajuan pesat di utara negara tersebut. Sebelumnya, mereka hanya bercokol di pinggiran timur laut Suriah dan beberapa titik lainnya. Kini, Kurdi diperkirakan hampir mengontrol mayoritas Suriah utara mulai dari provinsi Hasakah hingga Aleppo Timur, ditambah daerah Ifrin di timur laut Suriah.
Sementara faksi oposisi Suriah mengontrol wilayah yang luas di timur kota Aleppo dan wilayah pedesaannya. Pejuang masih merebutkan wilayah dengan rezim di sejumlah daerah di dalam Aleppo, termasuk di kota Nubul dan Zahra yang dihuni mayoritas Syiah pro rezim Bashar Assad.
Daulah Islamiyah juga mengontrol sejumlah wilayah di pedesaan Aleppo. Mereka menduduki antara sekitar kota Marik dan ‘Azaz di dekat perbatasan Turki. Dan juga di kota Manbaj, Al-Bab dan Jarabis. Saat ini mereka masih terlibat pertempuran dengan faksi oposisi di sejumlah titik di wilayah itu.
Wilayah kontrol Daulah Islamiyah juga menyebar luas di wilayah gurun (lembah Syam) di pusat dan timur Suriah. Titik utama mereka berada di provinsi Raqqah dan Dier Zour. Sementara di kota Tadmir dan sekitarnya di pedesaan Homs Timur serta di sejumlah daerah di provinsi Hasakah, mereka masih memperebutkan wilayah dengan Kurdi.
peta-2zpxoye6jrj99rqa8k6qkq.jpg
Merah: Wilayah Rezim, Hijau: Wilayah Oposisi, Kuning: Wilayah Kurdi Titik Hitam: Wilayah ISIS
Di provinsi Idlib, nampaknya hampir seluruhnya provinsi itu dikontrol pejuang Suriah. Hanya ada dua kota di kota itu yang belum dibebaskan, yaitu kota Kufreya dan Al-Fu’ah yang dihuni Syiah. Namun, kedua kota itu sepenuhnya di bawah kepungan pejuang.
Sementara itu, wilayah rezim Suriah masih membentang di sebagian besar Suriah barat, mulai dari perbatasan dengan Turki di Utara hingga ke perbatasan Yordania di Selatan. Begitu juga, mayoritas provinsi Latakia yang dikenal basis pendukung Bashar Asad.
Rezim juga masih mengontrol mayoritas provinsi Hama, sebagian Homs barat, ibukota Damaskus dan pedesaannya, provinsi Suwaida dan sekitar sepertiga provinsi Daraa.
Akan tetapi, sebagian dari wilayah-wilayah yang dikontrol rezim itu sebagian di antaranya diduduki mujahidin. Kekuatan pejuang masih berupaya memperluas wilayah, terlebih ke wilayah-wilayah strategis.


EKONOMI
            Suriah diklasifikasikan oleh Bank Dunia sebagai negara berpendapatan menengah ke bawah. Suriah tetap tergantung pada sektor minyak dan pertanian. Sektor minyak menyediakan sekitar 40% dari pendapatan ekspor. Berkontribusi sektor pertanian sekitar 20% dari PDB dan 20% dari pekerjaan. Cadangan minyak diperkirakan akan menurun di tahun-tahun mendatang dan Suriah sudah menjadi net oil importer. Sejak perang saudara dimulai, ekonomi menyusut sebesar 35%, dan Suriah pound telah jatuh ke seperenam dari nilai sebelum perang. Pemerintah semakin mengandalkan kredit dari Iran, Rusia dan Cina.
Perekonomian sangat diatur oleh pemerintah, yang telah meningkatkan subsidi dan memperketat kontrol perdagangan untuk meredakan pengunjuk rasa dan melindungi cadangan mata uang asing. Kendala ekonomi jangka-panjang termasuk hambatan perdagangan luar negeri, penurunan produksi minyak, pengangguran yang tinggi, meningkatnya defisit anggaran, dan meningkatkan tekanan pada pasokan air yang disebabkan oleh penggunaan berat di bidang pertanian, pertumbuhan penduduk yang cepat, perluasan industri, dan polusi air.
UNDP mengumumkan pada tahun 2005 bahwa 30% dari populasi Suriah hidup dalam kemiskinan dan 11,4% hidup di bawah tingkat subsistensi. Ekspor utama Suriah termasuk minyak mentah, produk olahan, kapas mentah, pakaian, buah-buahan, dan biji-bijian. Sebagian besar impor Suriah adalah bahan baku penting untuk industri, kendaraan, peralatan pertanian, dan mesin berat. Penghasilan dari ekspor minyak serta pengiriman uang dari pekerja Suriah adalah sumber pemerintah yang paling penting dari valuta asing.
Suriah di ekspor global telah mengikis secara bertahap sejak tahun 2001. Pengangguran tinggi di atas 10%. Tingkat kemiskinan meningkat dari 11% pada tahun 2004 menjadi 12,3% pada tahun 2007.
Ketidakstabilan politik menimbulkan ancaman signifikan terhadap pembangunan ekonomi di masa depan. Investasi asing dibatasi oleh kekerasan, pembatasan pemerintah, sanksi ekonomi, dan isolasi internasional.
Ekonomi Suriah juga masih tertatih-tatih oleh birokrasi negara, jatuh produksi minyak, meningkatnya defisit anggaran, dan inflasi. Sebelum perang sipil pada tahun 2011, pemerintah berharap untuk menarik investasi baru di sektor pariwisata, gas alam, dan layanan untuk diversifikasi ekonomi dan mengurangi ketergantungan pada minyak dan pertanian.
Pemerintah mulai melembagakan reformasi ekonomi yang bertujuan liberalisasi sebagian besar pasar, namun reformasi itu adalah lambat dan ad hoc, dan telah benar-benar terbalik sejak pecahnya konflik pada tahun 2011.
Pada 2012, karena perang sipil Suriah yang sedang berlangsung, nilai ekspor keseluruhan Suriah telah memangkas dua pertiga, dari angka $12 milyar USD pada tahun 2010 menjadi hanya $4 milyar USD pada tahun 2012. Suriah PDB menurun lebih 3% pada tahun 2011, dan diharapkan penurunan lebih lanjut sebesar 20% pada tahun 2012.
Pada 2012, minyak dan industri pariwisata Suriah pada khususnya telah hancur, dengan $5 miliar USD hilang dengan konflik yang sedang berlangsung perang sipil. Rekonstruksi diperlukan karena perang sipil yang sedang berlangsung akan dikenakan biaya sebanyak $10 miliar USD. Sanksi telah melemahkan keuangan pemerintah. AS dan Uni Eropa melarang impor minyak, yang mulai berlaku pada tahun 2012, diperkirakan biaya Suriah sekitar $400 juta per bulan.
Pendapatan dari pariwisata telah menurun drastis, dengan tingkat hunian hotel jatuh dari 90% sebelum perang menjadi kurang dari 15% pada Mei 2012. Sekitar 40% dari semua karyawan di sektor pariwisata telah kehilangan pekerjaan mereka sejak awal perang.
Industri perminyakan
Suriah telah menghasilkan minyak dari ladang yang terletak di timur laut sejak akhir 1960-an. Pada awal 1980-an, cahaya - grade, minyak rendah sulfur ditemukan di dekat Deir ez - Zor di Suriah timur. Tingkat Suriah produksi minyak telah menurun secara dramatis dari puncak dekat dengan 600.000 barel per hari (95.000 m3/d) (bph) pada tahun 1995 turun menjadi kurang dari 140.000 bbl/d (22.000 m3/d ) pada tahun 2012.
Suriah diekspor sekitar 200.000 bbl/d (32.000 m3/d) pada tahun 2005, dan minyak masih menyumbang sebagian besar pendapatan ekspor negara itu. Suriah juga memproduksi 22 juta meter kubik gas per hari, dengan perkiraan cadangan sekitar 8,5 triliun kaki kubik (240 km3).
Sementara pemerintah telah mulai bekerja sama dengan perusahaan-perusahaan energi internasional dengan harapan akhirnya menjadi eksportir gas, semua gas yang dihasilkan saat ini dikonsumsi di dalam negeri.
Sebelum pemberontakan, lebih dari 90% dari ekspor minyak Suriah adalah untuk negara-negara Uni Eropa, dengan sisanya pergi ke Turki. Pendapatan minyak dan gas merupakan sekitar 20% dari total GDP dan 25% dari pendapatan total pemerintah.
Transportasi
Suriah memiliki tiga bandara internasional (Damaskus , Aleppo dan Lattakia), yang berfungsi sebagai hub untuk Syrian Air dan juga dilayani oleh berbagai operator asing. Mayoritas kargo Suriah dibawa oleh Chemins de Fer Syriens (perusahaan kereta api Suriah), yang menghubungkan dengan Turkish Negara Kereta Api (mitra Turki). Untuk sebuah negara yang relatif terbelakang, prasarana perkeretaapian Suriah adalah terpelihara dengan banyak layanan ekspres dan kereta api modern.
Saat ini negara Suriah sedang mengalami konflik perang, selain itu juga diidentikan dengan pergerakan islam radikal yaitu ISIS, Islamic State of Iraq and Syria. Aksi unjuk rasa antirezim Presiden Bashar al-Assad, di Suriah, Kamis (15/3), genap memasuki usia satu tahun. Protes oposisi telah melemahkan kondisi perekonomian negara. Sanksi ekonomi Liga Arab, Uni Eropa, dan AS terhadap Suriah membuat perekonomian lunglai.
Kurs lira (mata uang Suriah) terhadap dollar AS terus merosot. Nilai satu dollar AS pekan ini mencapai 100 lira. Dua pekan lalu, nilai satu dollar AS sama dengan 75 lira. Tahun lalu, kurs adalah sekitar 40 lira per dollar AS.
Buntunya solusi politik krisis Suriah dan semakin lemahnya bank sentral mempertahankan kurs lira membuat mata uang Suriah itu kembali merosot tajam dalam pekan ini. Merosotnya nilai mata uang lira hingga lebih dari 50 persen itu tentu diikuti pula dengan meningkatnya inflasi. Barang-barang impor menjadi lebih mahal.
Namun, Pemerintah Suriah saat ini tidak menaikkan gaji pegawai negeri dan swasta untuk mencegah naiknya angka inflasi itu. Hal tersebut semakin membebani hidup kebanyakan penduduk Suriah. Merosotnya kemampuan Bank Sentral Suriah dalam mengontrol nilai mata uang lira itu disebabkan cadangan devisa Suriah, yang diperkirakan sekitar 17 miliar dollar AS pada pertengahan tahun lalu, kini terus berkurang menjadi hanya setengah miliar dollar AS.
Warga Suriah kini ramai-ramai menggunakan lira untuk membeli barang apa saja. Mereka khawatir kurs lira semakin merosot dalam beberapa hari mendatang sehingga daya belinya merosot.
Para analis menyebutkan, kondisi perekonomian Suriah saat ini merupakan yang terburuk dalam beberapa dekade terakhir. Akibat aksi unjuk rasa oposisi untuk pergantian rezim, sektor pariwisata Suriah terpukul hingga mengalami kerugian 1 miliar dollar AS selama setahun ini.
Arus masuk investasi asing ke negara itu juga berhenti total, khususnya investasi dari negara-negara Arab Teluk yang merambah ke berbagai sektor. Hubungan Suriah dan negara-negara Arab Teluk (GCC) mengalami keterpurukan dan tergolong paling parah saat ini. Ini diwarnai penutupan kantor-kantor kedubes negara anggota GCC itu di Damaskus.
Sebelumnya, Kementerian Luar Negeri Arab Saudi, Rabu lalu, memutuskan untuk menutup kantor kedutaan besar di Damaskus. Arab Saudi memulangkan semua diplomat dan karyawan di ibu kota Suriah itu.
Hal serupa dilakukan Uni Emirat Arab, Oman, Kuwait, dan Qatar. Bahrain sudah lebih dulu melakukannya. Aktivitas perdagangan internasional, khususnya dengan negara tetangga seperti Turki, Jordania, dan Lebanon terhenti. Ekspor minyak Suriah praktis macet. Sejak tahun 2005 Suriah memproduksi minyak sekitar 425.000 barrel per hari. Hal itu membuat sumber penghasilan mata uang asing bagi Suriah menciut, untuk tidak mengatakan terhenti.
Negara-negara yang dikenal pendukung setia Suriah, seperti Rusia, China, dan Iran, tampak tidak siap membantu keuangan rezim Presiden Bashar al-Assad. Rusia dan China membela rezim Presiden Assad lebih disebabkan faktor persaingan pamor politik dengan Barat di kancah internasional, bukan karena faktor ekonomi.
Rusia dan China juga sudah mulai mengubah tonasi terhadap Suriah. Walau tak menyukai intervensi Barat, Suriah diminta berubah. Iran sendiri juga menghadapi sanksi ekonomi dari Barat akibat program nuklir sehingga tidak mampu mengucurkan bantuan ke Suriah.
Kini banyak warga Suriah terpaksa mengungsi ke negara tetangga, seperti Turki, Lebanon, dan Jordania, akibat aksi kekerasan dan kondisi ekonomi yang terus memburuk. Kondisi yang saat ini masih bisa menolong rezim Presiden Assad adalah karakter perekonomian Suriah yang banyak mengandalkan produk dalam negeri. Akan tetapi, terus meningkatnya sanksi internasional terhadap Suriah tetap melemahkan sendi-sendi produksi di negara itu. Ini antara lain terjadi akibat anjloknya kurs lira. Dikhawatirkan kekacauan ekonomi akan membuat rezim Presiden Assad kehilangan kontrol.
Jika tidak segera dicapai solusi politik, maka cepat atau lambat akan meledak pula kemarahan sosial yang dahsyat akibat tekanan ekonomi itu. Seperti diketahui, aksi unjuk rasa di Suriah merupakan yang terlama dibanding dengan yang pernah terjadi negara - negara Arab lainnya, seperti ; Tunisia, Mesir, Libya dan Yaman.
PENDIDIKAN
Pendidikan di SuriahJawdat al - Hashimi Sekolah di Damaskus
Pendidikan gratis dan wajib dari usia 6 sampai 12. Sekolah terdiri dari 6 tahun pendidikan dasar diikuti dengan periode pelatihan umum atau kejuruan 3 tahun dan program akademis atau kejuruan 3 tahun. Kedua periode 3 tahun dari pelatihan akademis diperlukan untuk masuk universitas. Jumlah pendaftaran di sekolah pasca-sekolah menengah adalah lebih dari 150.000. Tingkat melek huruf Suriah berusia 15 dan lebih tua adalah 90,7 % untuk pria dan 82,2 % untuk perempuan.
Sejak tahun 1967, semua sekolah, perguruan tinggi, dan universitas telah berada di bawah pengawasan pemerintah dekat Partai Ba'ath. Ada 6 perguruan tinggi negeri di Suriah dan 15 perguruan tinggi swasta Atas dua perguruan tinggi negeri adalah Universitas Damaskus (180.000 siswa) dan Universitas Aleppo.
The universitas swasta top di Suriah adalah  : Suriah Perguruan Tinggi Swasta, Arab International UniversitY, University of Kalamoon dan International University untuk Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. Ada juga banyak lembaga yang lebih tinggi di Suriah, seperti Higher Institute of Business Administration, yang menawarkan program sarjana dan pascasarjana dalam bisnis.
Menurut Webometrics Ranking of World Universities, universitas peringkat teratas di negara tersebut Damascus University (3540 seluruh dunia), University of Aleppo (7176) dan Tishreen University (7968).
DEMOGRAFI
Populasi sejarah ( dalam ribuan )
Kebanyakan orang hidup di lembah Sungai Efrat dan di sepanjang dataran pantai, strip subur antara pegunungan pesisir dan padang pasir. Kepadatan penduduk secara keseluruhan di Suriah adalah sekitar 99 per km²  258 per mil persegi . Menurut Survey Pengungsi Dunia 2008, yang diterbitkan oleh Komite AS untuk Pengungsi dan Imigran, Suriah host populasi pengungsi dan pencari suaka yang jumlahnya sekitar 1.852.300. Sebagian besar penduduk ini dari Irak (1.300.000), namun populasi yang cukup besar dari mantan Palestina (543.400) dan Somalia (5.200) juga tinggal di negara ini.
Lebih dari 7 juta warga Suriah telah mengungsi, dan lebih dari 2,1 juta warga Suriah melarikan diri dari negaranya dan menjadi pengungsi sejak pecahnya perang sipil pada Maret 2011.
Kelompok etnis (Anak Bedu di Aleppo)
Damascus, pakaian tradisional
Suriah merupakan orang pribumi keseluruhan Levantine, terkait erat dengan tetangga dekat mereka, seperti orang-orang Lebanon, Palestina, Israel, Irak, Yordania dan Malta. Suriah memiliki populasi sekitar 22,5 juta. Arab Suriah, bersama dengan sekitar 400.000 orang Arab Palestina UNRWA, membentuk sekitar 77% dari populasi (jika Syriac Kristen dikecualikan). Selain itu, sekitar 1.300.000 pengungsi Irak diperkirakan tinggal di Suriah pada tahun 2007.
Kelompok etnis terbesar kedua di Suriah adalah orang-orang pribumi Kristen Syriac - Aramaic dan Asyur, yang bersama-sama berjumlah sekitar 2.300.000, atau hanya lebih dari 10% dari populasi, dengan Aram terdiri dari 7,5% menjadi 8% dan Asyur 2% menjadi 2,5%. dengan kelompok Syriac - Aramaic yang tinggal di seluruh negeri, khususnya di kota-kota besar, sementara Asyur terutama berada di utara dan timur laut (Homs, Aleppo, Qamishli, Hasakah). Banyak (terutama kelompok Assyrian) masih mempertahankan beberapa Akkadia diresapi Neo – Aramaic dialek sebagai bahasa lisan dan tulisan, sementara sejumlah kecil Siria - Aram masih mempertahankan Western Aram. Jumlah mereka telah didorong oleh banyak pengungsi Irak Asyur melarikan diri dari penganiayaan agama dan etnis sejak Perang Irak , sehingga populasi sekarang mungkin lebih tinggi dari yang tercantum.
Kurdi berbicara Indo - Eropa merupakan sekitar 9% dari populasi, atau sekitar 2 juta orang. Kebanyakan Kurdi berada di sudut timur laut Suriah dan sebagian besar berbicara Kurmanji varian dari bahasa Kurdi. Mayoritas Turkmen Suriah tinggal di Aleppo, Damaskus dan Latakia dan nomor sekitar 500.000-1.000.000, yang terdiri dari suatu tempat antara 2% sampai 4% dari populasi.
Armenia, seorang orang Kristen Indo - Eropa, jumlah sekitar 100.000, atau sekitar 0,5% dari seluruh penduduk. Kebanyakan tiba selama Genosida Armenia. Suriah memegang 7th penduduk Armenia terbesar di dunia. Mereka terutama berkumpul di Aleppo, Qamishli, Damaskus dan Kesab.
Pria Suriah di Damaskus
Circassians, ras Kaukasia berbicara Northwest, sejumlah 100.000. Yazidi , sebuah kelompok etnis yang berbeda dengan agama mereka sendiri Yazidism, jumlah sekitar 10.000 orang, terutama yang tinggal di wilayah Jabal Sinjar. Jumlah orang Yunani sekitar 5.000 orang, yang berada terutama di Damaskus dan Aleppo.
Mhallami, sebuah cabang dari penduduk Siria - Aram yang masuk Islam sekuler, tetapi yang mempertahankan nomor identitas Aram sekitar 2.000. Mandean, sebuah Mandaic berbicara etno - agama minoritas, jumlah beberapa ratus, terutama pengungsi dari Irak.
Yahudi, sekali terjadi di Suriah, sekarang account hanya 200 orang atau lebih. Konsentrasi terbesar dari diaspora Suriah di luar dunia Arab di Brazil, yang memiliki jutaan orang Arab dan lainnya lainnya ancestries Timur Dekat. Brasil adalah negara pertama di Amerika untuk menawarkan visa kemanusiaan untuk pengungsi Suriah. Mayoritas Arab Argentina berasal dari latar belakang baik Lebanon atau Suriah
AGAMA
Arab Sunni mencapai 59-60% dari populasi, sebagian besar orang Kurdi (9%) dan Turkomen (3%) adalah Sunni, sementara 13% adalah Syiah (Alawit, Dua Belas, dan Ismailiyah gabungan), 10% Kristen, mayoritas Antiokhia Ortodoks,, sisanya termasuk Katolik Yunani, Assyria Gereja Timur, Armenia Ortodoks, Protestan dan denominasi lainnya, dan 3% Druze. Nomor Druze sekitar 500.000, dan berkonsentrasi terutama di daerah selatan Jabal al- Druze. Keluarga Presiden Bashar al - Assad adalah Alawit dan Alawi mendominasi pemerintah Suriah dan memegang posisi kunci militer.
Kristen (2,5 juta), sejumlah besar dari mereka ditemukan di antara populasi Suriah pengungsi Palestina, yang dibagi menjadi beberapa kelompok. Chalcedonian Antiokhia Orthodox membentuk 35,7% dari penduduk Kristen, Katolik (Melkite, Armenia Katolik, Katolik Siria, Maronit, Kasdim Katolik dan Latin) membentuk 26,2% ; Gereja Apostolik Armenia 10,9%, Ortodoks Suriah membentuk 22,4% ; Asiria Gereja Timur dan beberapa denominasi Kristen yang lebih kecil akun sisanya. Banyak biara-biara Kristen juga ada. Banyak Suriah Kristen termasuk kelas sosial - ekonomi yang tinggi.
Internet dan telekomunikasi
Telekomunikasi di Suriah diawasi oleh Kementerian Komunikasi dan Teknologi. Selain itu, Suriah Telecom memainkan peran integral dalam distribusi akses internet pemerintah. Tentara Elektronik Suriah berfungsi sebagai faksi militer pro - pemerintah di dunia maya dan telah lama dianggap sebagai musuh dari kelompok hacktivist Anonymous. Karena undang-undang sensor internet, 13.000 aktivis internet telah ditangkap antara Maret 2011 dan Agustus 2012.





Referensi
1.       "Syria"International Monetary Fund. Diakses tanggal 14 Oktober 2015.
2.       "Gini Index". World Bank. Diakses tanggal 2 Maret 2011.
3.       "Ibukota Suriah" (URL). Diakses tanggal 19 Juni 2009.
4.       ""Climate in Syria"" (URL). Diakses tanggal 19 Juni 2009.
5.        "Syria Map With 1S0-3166-2 Country Code" (URL). Diakses tanggal 19 Juni 2009.
6.       Sumberhttp://hbmulyana.wordpress.com/2008/02/19/sejarah-mengenai-suriah-dan-lebanon/. Diakses tanggal 6 Januari 2018.
7.       http://www.Wikipedia.id. Diakses tanggal 6 Januari 2018.
8.       "Syria." Encyclopædia Britannica. 2006. Encyclopædia Britannica Online. Diakses tanggal 20 Oktober 2006.
9.       The Sword of Allah: Khalid bin al-Waleed, His Life and Campaigns: page no:576 by Lieutenant-General Agha Ibrahim Akram, Nat. Publishing. House, Rawalpindi (1970) ISBN 978-0-7101-0104-4.
10.     Tabari: Vol. 2, p. 609.
11.     "Umar (634–644)", The Islamic World to 1600Multimedia History Tutorials by the Applied History Group, University of Calgary. Diakses 20 Oktober 2006.
13.    "Religion in Syria - Christianity". Atheism.about.com. 2009-12-16. Diakses tanggal 6 September 2013.
14.    Bailey, Betty Jane; Bailey, J. Martin (2003). Who Are the Christians in the Middle East?. Grand Rapids, Michigan: William B. Eerdman. ISBN 0-8028-1020-9.
15.    "Syria". State.gov. Diakses tanggal 6 September 2013.
16.    SyriaUS State Department The July–December, 2010 International Religious Freedom Report.
17.    "Syria: Activists set free to promote for National Dialogue". DayPress. May 16, 2011. Diakses tanggal 11 Juni 2011.
18.    Charlie Butts (May 16, 2011). "Anti-gov't protesters after Syrian Christians". OneNewsNow.com. Diakses tanggal 11 Juni 2011.
19.    Saint Terzia Church in Aleppo Christians in Aleppo (in Arabic).
20.    BBC News Guide: Christians in the Middle East. Diakses tanggal 15 Desember 2005.
21.     

Komentar

Postingan Populer