SURIAH (SYRIA)
SURIAH (SYRIA)
Republik Arab Suriah
|
||
Bendera Lambang
|
||
-
|
||
-
|
||
Pendirian
|
||
-
|
8 Maret 1920
|
|
-
|
1 Desember 1924
|
|
-
|
14 Mei 1930
|
|
-
|
Kemerdekaan
|
24 Oktober 1945
|
-
|
Memisahkan diri dari Republik Arab Bersatu
|
28 September 1961
|
-
|
Partai Ba'athmengambil alih kekuasaan
|
8 Maret 1963
|
-
|
Total
|
|
-
|
0,84
|
|
-
|
Perkiraan 2015
|
|
-
|
||
Perkiraan 2010
|
||
-
|
Total
|
|
-
|
||
PDB (nominal)
|
Perkiraan 2010
|
|
-
|
Total
|
|
-
|
||
Gini (2014)
|
55,8 (tinggi)[2]
|
|
IPM (2015)
|
||
-
|
||
kanan
|
||
Republik Arab Suriah (Arab: الجمهورية
العربية السورية al-jumhūriyyaħ al-arabiyyaħ as-sūriyyaħ; bahasa Inggris: Syria),
adalah negara yang terletak di Timur Tengah, dengan negara Turki di sebelah utara, Irak di Timur, Laut Tengah di barat dan Yordania di selatan. Suriah beribukota Damaskus.[3]
Geografi
Keadaan iklim
Sepanjang barat gunung pantai, Suriah beriklim
mediteranian, sebagaimana di daerah beriklim mediterania lain, di sana ada
musim kering yang panjang dari bulan Mei ke bulan Oktober. Hujan musim panas sangatlah jarang
terjadi di Suriah. Di pantai, musim panas sangat panas dan lembap, dengan suhu rata-rata 29°C, ketika musim dingin, daerah ini mempunyai suhu minimal harian 10 °C.[4]
Ini hanya wilayah yang musim
panasnya dingin di Suriah, adalah tempat dengan ketinggian di atas 600 meter. Slunfeh, Bludan dan Mashtan
al Helou adalah lokasi wisata favorit penduduk lokal.[4]
Di Aleppo, di arah utara-barat,
suhu rata-rata pada bulan Agustus adalah
30 °C, sedangkan pada bulan Januari suhunya sekitar
4,4 °C dan di Damaskus sangat mirip.[4]
Peta lokasi
Suriah merupakan bagian
dari kumpulan tanah Bulan Sabit Subur. Sejak zaman kuno hingga berada pada
kekuasaan Turki Ustmaniyah, Suriah merupakan istilah geografis untuk seluruh
daerah meliputi Suriah, Lebanon, Yordania, Palestina dan Israel sekarang yang
dahulu dikenal dengan nama wilayah Syam.
Suriah pernah menjadi wilayah kekuasaan berbagai
bangsa, mulai dari berada dibawah kekuasaan bangsa Funisia sebagai nenek moyang
mereka, lalu dibawah kekuasaan bangsa Mesir pada tahun 1600 SM, bangsa Aramea
pada 1200 SM yang pada saat itu menamai wilayah kekuasaannya “Suriah” berasal
dari kata Syriac dialek Aramea serta mendirikan kota Damaskus sebagai pusat
kegiatan dan tempat tinggal masyarakatnya. Abad ke-6 SM, Suriah menjadi bagian
kekuasaan kekaisaran Persia.
Selanjutnya pada abad ke-4 SM, Suriah menjadi bagian
kekuasaan Imperium Iskandar yang Agung yang berhasil menghancurkan kekuataan
Persia dan membuka jalan bagi penaklukan Suriah dibawah Imperium Romawi. Terpecahnya Imperium Romawi
pada abad ke-4 sesudah Masehi menjadikan Suriah berada dibawah kekuasaan
Imperium Bizantium yang berpusat di Konstantinopel.
Pada tahun
634-634 M, kaum Muslim Arab berhasil menaklukan Suriah dan memberikan ciri
peninggalan yang begitu kuat hingga saat ini yaitu bahasa Arab dan agama Islam.
Tahun 661 M, Suriah menjadi pusat berkembangnya Islam karena Damaskus menjadi
ibukota kekuasaan Bani Umaiyah. Selanjutnya tahun 1516, Suriah ditaklukkan oleh
Imperium Turki Ustmani yang pada saat itu dalam perjalanan menyerang Mesir.
(Oslon, 2002:248)
Akhir abad
ke-18, banyak daerah-daerah di Suriah dikuasai oleh para pasha (panglima
perang) setempat. Kemunduran Imperium Turki memberikan peluang bagi masuknya
kekuasan Eropa di Suriah.
Kekalahan Turki
dalam perang dunia I, menyebabkan Turki harus menyerahkan sebagian wilayah
kekuasaannya berada dibawah pengawasan Liga Bangsa-Bangsa. (Khoury, 2004:429)
Prancis
mendapatkan hak atas Levant (istilah untuk wilayah Suriah dan Lebanon) dibawah
pengawasan Liga Bangsa-Bangsa berdasarkan keputusan Konferensi San Remo yang
Akta mandatnya ditanda tangani di London pada 24 Juli 1922. Alasan Prancis
mendapatkan hak atas Levant sendiri didasarkan kepada hubungan sejarah yang
panjang antara Prancis dengan penguasa Suriah jauh sebelum terjadinya perang
salib. Pada saat itu Prancis menerima Kapitulasi Sultan mengenai izin
didirikannya kantor dagang dan konsulat Prancis di Suriah. Hubungan baik
tersebut dilanjutkan oleh Henri IV, Richelieau dan Louis XIV. Pada 1740,
Prancis memperbarui kapitulasi dengan tambahan reverensi khusus atas Levant
mengenai tempat-tempat suci di Palestina dan hak istimewa Prancis tersebut
dikukuhkan melalui perjanjian pribadi Napoleon dengan Sultan yang berkuasa atas
wilayah Suriah pada 1802. Kondisi tersebut selanjutnya mengukuhkan hubungan yang
sangat akrab antara Prancis dengan umat Katolik
Maronit. (Lenczowski, 1993:198)
Tumbuhnya nasionalisme Arab di Suriah menjadi
kekecewaan tersendiri bagi Prancis karena tidak sesuai dengan misi budaya yang
diusungnya di Levant, selain itu masyarakat Suriah pada saat itu lebih setuju
berada dibawah mandat Inggris atau Amerika dari pada Prancis. Melihat kondisi tersebut,
Prancis selanjutnya menyerang Damaskus dan mengusir Emir Faisal sebagai
pemimpin tentara padang pasir yang nasionalis yang memiliki kekuasaan atas
daerah pedalaman Suriah pada saat itu. (Khoury, 2004:429-431).
Setelah berhasil menguasai Suriah secara utuh, Prancis
mulai melaksanakan politik divide et impera dengan memecah belah wilayah Suriah
menjadi empat bagian yaitu Lebanon Raya, negara Damaskus meliputi Jabal Druze,
Aleppo termasuk sanjaq Alexandretta dan wilayah Lattakia atau wilayah Alawi. Pengawasan atas Levant sendiri
dilakukan oleh Komisaris Tinggi Prancis.
Dari keempat
wilayah yang dibentuknya, Prancis relatif berhasil di Lebanon dan Lattakia.
Penduduk Lebanon yang mayoritas beragama Kristen lebih menikmati status
terpisahnya dan lebih berharap mendapat perlindungan dari Prancis. Pada tahun
1925, Dewan Perwakilan Lebanon bentukan Prancis membuat rancangan undang-undang
yang disahkan menjadi undang-undang dasar oleh komisaris tinggi pada Mei 1926
dan mensahkan system negara parlementer mengikuti pola barat. Dalam pasal 30
konstitusinya menyebutkan mengenai hubungan republic yang bergantung pada
Prancis. Konstitusi tersebut diamandemen oleh pemerintah Lebanon pada 1927 dan
1929.
Tahun 1931,
Lebanon mengalami krisis ekonomi yang mengakibatkan terjadinya peningkatan
angka pengangguran. Hal tersebut memaksa komisaris tinggi Prancis menghapus
konstitusi dan membentuk pemerintahan sementara untuk membenahi keadaan kas
negara. Krisis tersebut juga membuat Prancis mengubah Lebanon menjadi negara
korporatif semiotoriter, selanjutnya komisaris tinggi yang baru, Count de
Martel memberlakukan konstitusi baru Lebanon pada 2 Januari 1934 yang isinya tidak
menyatakan agama resmi negara, menjamin perwakilan profesi, membatasi wewenang
parlemen, memperkuat kekuasaan eksekutif dan menjaga keuntungan negara dari
pembelanjaan yang tidak bertanggung jawab.
Selanjutnya
secara bertahap tradisi baru dibentuk yaitu Presiden harus orang Katolik
Maronit dan perdana menterinya orang Muslim Sunni tujuannya agar ada
keseimbangan diantara dua kelompok mayoritas Lebanon. Pemberlakuan Millet atau
zakat disesuaikan dengan kebijakan agama masing-masing. Kekuatan politik di Lebanon
terbagi diantara pemimpin agama dan partai politik dan terdapat kelompok
bersama dengan Prancis. Pada perkembangan selanjutnya muncul kelompok yang
menentang dan menuntut dihapuskannya pemerintahan mandat. (Lenczowski,
1993:199)
Pada 9 September
1936 enam tokoh nasionalis dan moderat dari Suriah berangkat ke Prancis untuk
membuat perjanjian dengan pihak pemerintah Prancis yang pada saat itu diwakili
oleh Menteri Luar Negeri Prancis, Vienot. Isi perjanjian yang berhasil
disepakati dan ditandatangani pihak Prancis dan Suriah yang pada saat itu
diwakili oleh Hasyim Bey Al Atassi adalah:
·
Upaya
Suriah untuk merdeka dalam waktu tiga tahun dan meminta Prancis untuk mendukung
masuknya Suriah dalam keanggotaan Liga Bangsa-Bangsa
·
Prancis
dan suriah mengadakan aliansi militer
·
Hak
Prancis untuk menggunakan dua pangkalan udara Suriah (d) Izin atas angkatan
darat Prancis untuk berada di daerah Alawi dan Druze selama lima tahun
termasuk pengakuan atas distrik-distrik tersebut kedalam wilayah Suriah
·
Instruktur
militer Prancis diakui sebagai penasihat militer Suriah
·
Prancis
harus memasok senjata dan perlengkapan militer bagi Suriah
·
Apabila
terjadi perang, Suriah dan Prancis harus bekerjasama melindungi dan memasok
pangkalan udara Prancis serta menyediakan komunikasi dan transit.
Dalam
surat-surat lampiran lainnya, Suriah juga setuju untuk merekrut para penasihat
dan ahli teknik dari Prancis, membentuk system hukum khusus bagi perlindungan
orang asing dan duta besar Prancis diistimewakan dari para perwakilan
diplomatik lainnya. Ketetapan selanjutnya adalah:
1.
Meskipun
Suriah berhak atas Lattakia dan Jabal Druze, otonomi wilayah tersebut tetap di
jamin;
2.
Biro
khusus didirikan bagi sekolah asing, lembaga amal dan misi arkeologi;
3.
Perjanjian
dibuat guna merundingkan perkembangan universitas yang ada;
4.
Suriah
berjanji akan menghormati hak-hak resmi dan kekayaan pribadi milik bangsa
Prancis;
5.
Persetujuan
dibidang moneter;
6.
Perjanjian
keuangan. (Lenczowski, 1993:201)
Perjanjian yang
sama juga dibuat dan disahkan Prancis dengan Lebanon, yang ditanda tangani oleh
Komisaris Tinggi Count de Martel dan Emile Adde di Beirut 13 November 1936,
isinya sendiri merupakan duplikat perjanjian dengan Suriah kecuali masalah
ketentuan teritorial dan minoritas sehingga tidak ada batasan bagi tentara
Prancis dalam hal penempatannya.
Optimisme para
kaum nasionalis di Suriah dan Lebanon kembali suram karena pertama Prancis
menolak meratifikasi perjanjian. Perubahan peta politik Prancis dan masalah
keamanan nasional yang terancam menjadi faktor pendukung hal tersebut. Saat itu
Prancis khawatir mendapat serangan dari Jerman dan Italia sehingga Prancis
tidak mau kehilangan pangkalan militernya di Mediterania Timur. Keduanya adalah
karena Suriah tetap memperjuangkan upaya persatuan dan kesatuan bangsanya.
Penolakan Prancis untuk meratifikasi perjanjian yang
dibuat tahun 1936 mempengaruhi situasi politik di Suriah dan Lebanon pada saat
itu, tetapi karena kuatnya pengaruh Prancis dikedua wilayah tersebut kalangan
politisi dari kedua belah pihak masih menunjukkan loyalitasnya terhadap Prancis
sehingga menjelang pecahnya perang dunia II kekuatan pangkalan militer Prancis
di Mediterania Timur masih kuat.
Dipihak lain pihak para masyarakat Arab saat itu
justru sangat membenci Prancis dan sekutunya, hal tersebut dilatar belakangi
oleh pengkhianatan Prancis terhadap bangsa Arab menyusul berakhirnya perang
dunia I, dukungan terhadap Turki dalam masalah sanjaq Alexandretta, tidak
diratifikasinya perjanjian dengan Suriah dan Lebanon, serta pengakuan terhadap
keberadaan zionisme di Palestina.
Pada 8 Juni
1941, pasukan Inggris dibawah pimpinan Jenderal Sir Henry Haitland Wilson
menyerang Suriah melalui Palestina, transyordania dan Irak, tetapi unsur-unsur
Prancis bebas menyertai penyerangan tersebut, keadaan tersebut dikarenakan pada
saat itu Suriah termasuk juga Lebanon berada dibawah kekuasaan Vichy dan
pejabat Prancis yang anti-Inggris dan menolak Komite Prancis Bebas bentukan
Jenderal de Gaulle.
Sehari setelah
invasi, panglima Prancis, Jenderal Catroux menyatakan bahwa pemerintah Prancis
Bebas akan mengakhiri mandatnya atas Suriah dan Lebanon. Dengan demikian
keduanya akan merdeka dan akan merundingkan hubungan timbal balik dengan
Prancis.
Pada saat yang
sama Inggris pun setuju dengan pernyataan Prancis tersebut. Selanjutnya
Jenderal de Gaulle menunjuk jenderal Catroux sebagai “Delegasi Jenderal dan
Berkuasa Penuh Prancis Bebas di Levant”, menggantikan jabatan komisaris tinggi
pada 24 Juni 1941. Dalam upaya tersebut Prancis menyertakan Inggris didalamnya,
namun konsep mengenai kemerdekaan Suriah dan Lebanon antara Inggris dan Prancis
ternyata berbeda sehingga Jenderal de Gaulle melakukan penangguhan. Situasi
tersebut dimanfaatkan oleh pihak Prancis untuk kembali memperkuat posisi
istimewanya atas Suriah dan Lebanon.
Perbedaan antara
Prancis dan Inggris selanjutnya tidak dapat disembunyikan sehingga menimbulkan
kecurigaan keduanya dalam masalah penyelesaian Levant.
Pada 28 September 1941,
Jenderal Catroux memproklamasikan kemerdekaan Suriah, yang isi naskahnya
adalah:
Suriah berhak menjadi negara
merdeka dan berdaulat;Suriah berkuasa menunjuk perwakilan diplomatiknya;Suriah
berhak menyusun angkatan perangnya;Suriah bersedia membantu Prancis selama
perang;Segala syarat terdahulu dengan perjanjian Prancis-Suriah yang baru yang
menjamin kemerdekaan Suriah.
Tindakan
tersebut juga diikuti dengan proklamasi kemerdekaan bagi Lebanon pada 26
November 1941. Isi naskahnya hampir sama dengan isi naskah proklamasi Suriah.
Untuk pelaksanaanya Jenderal Catroux mengangkat Seikh Taj ad-din sebagai
presiden Suriah dan Alfred Naccache sebagai presiden Lebanon.
Menaggapi hal
tersebut, Inggris mengakui kemerdekaan kedua negara tersebut secara de jure,
dan mengangkat Jenderal Spear sebagai duta besar pertama untuk kedua negara
tersebut. Negara-negara Arab lainnya justru merasa ragu dengan kejadian
tersebut, dilain pihak Amerika tidak langsung mengakui kemerdekaan kedua negara
baru tersebut tetapi bersikap menunggu proses berakhirnya mandat secara resmi
dan tercapainya keepakatan resmi bilateral Prancis dengan Suriah dan Lebanon.
(Lenczowski, 1993:203-205). [6]
Sejarah Suriah
Template : Sejarah Suriah Sejarah Suriah meliputi perkembangan di kawasan Suriah (bahasa Yunani: Συρία) dan Republik Arab Suriah modern. Seriah tampaknya datang dari nama Kekaisaran Neo-Asiria yang didirikan pada abad ke-10 SM. Suriah modern meraih kemerdekaan
pada 1946 setelah masa penjajahan Perancis (1917–20) dan Mandat (1920-1946).
Pada 1958, Republik Suriah menjadi bagian dari Republik Arab Bersatu namun pada 1961 menarik diri dari federasi tersebut. Dari 1963, Republik Arab Suriah telah dikuasai oleh Ba'ath dengan keluarga Assad secara eksklusif dari 1970. Suriah saat ini
menghadapi perseteruan antara pasukan-pasukan yang saling bersaing dalam Perang Saudara Suriah.
Sejarah kawasan
tersebut terbagi dalam periode-periode berikut ini,
·
Zaman Klasik: Kekaisaran Neo-Babilonia, Suriah Achaemenid, Suriah Hellenistik, Suriah Romawi, Kekaisaran Parthia, Kekaisaran Sasaniyah
·
Abad Pertengahan: Penaklukan Suriah oleh Muslim, Kekhalifahan Umayyad, Kekaisaran Seljuk, Negara Edessa, Kepangeranan Antiokhia, Invasi Suriah
oleh Mongol, Ilkhanate, Kesultanan Mamluk (Kairo)
·
Sejarah Suriah modern: lihat Suriah Mandar Perancis, Republik
Suriah (1930–1958), Kudeta Suriah 1963, Partai Ba'ath (faksi pimpinan Suriah), Perang Saudara Suriah[7]
Penaklukan Suriah
oleh Muslim
Penaklukan Suriah oleh Muslim
|
|||||||||
|
|||||||||
Pihak terlibat
|
|||||||||
Tokoh dan pemimpin
|
|||||||||
·
Penaklukan Suriah oleh
Muslim terjadi pada paruh pertama abad ke-7, di mana
wilayah ini sudah dikenal sebelumnya dengan nama lain seperti Bilad
al-Sham, Levant, atau Suriah Raya. Sebenarnya pasukan Islam
sudah berada di perbatasan selatan beberapa tahun sebelum Nabi Muhammad SAW
meninggal dunia tahun 632 M, seperti terjadinya pertempuran Mu'tahpada tahun 629 M, akan tetapi penaklukan sesungguhnya baru dimulai pada
tahun 634 M di bawah perintah Kalifah Abu Bakardan Umar bin Khattab, dengan Khalid bin
Walid sebagai panglima utamanya.[8]
Suriah Bizantium
Suriah
di bawah pemerintahan Romawi timur selama 7 abad sebelum Islam datang, juga
pernah di invasi beberapa kali oleh Kekaisaran Sassania Persia yaitu pada abad ke-3, 6 dan 7;
Suriah juga menjadi target serangan sekutu Sassania, Lakhmid.
Wilayah ini disebut Provinsi Iudaea oleh Bizantium. Selama
perang Romawi-Persia terakhir, yang dimulai pada tahun 603, pasukan Persia di
bawah pimpinan Khisra II berhasil menduduki Suriah, Palestina and Mesir selama lebih dari satu dekade sebelum
akhirnya berhasil dipukul mundur oleh Heraclius dan dipaksa berdamai dan mundur
dari wilayah yang mereka kuasai itu pada tahun 628 M. Jadi, pada saat Islam
berperang melawan Romawi ini sebenarnya mereka sedang menata kembali wilayahnya
yang sempat hilang selama kurang lebih 20 tahun tersebut.
Penaklukan Suriah Dibawah Kekhalifahan Abu Bakar
Khalid
segera dikirim menuju barisan Suriah. Ia berangkat ke Suriah dari Al-Hirah,
di Irak pada
awal Juni 634, ia membawa separuh tentaranya yaitu 8000
orang. [9]Ada
dua rute menuju Suriah dari Irak: salah satunya melalui Daumatul Jandal, dan yang lainnya melalui Mesopotamia,
melewati Ar-Raqqah. Tentara muslim di Suriah yang membutuhkan
bantuan darurat, jadi Khalid menghindari rute konvensional menuju Suriah
melalui Daumatul Jandal, karena rute itu merupakan rute yang jauh, dan butuh
beberapa minggu untuk mencapai Suriah. Khalid menghindari pula rute
Mesopotamia, karena adanya garnisun Romawi di Suriah Utara dan Mesopotamia.
Untuk
melibatkan mereka ketika tentara Muslim terkepung di Suriah adalah bukan ide
yang bijaksana. Khalid memilih rute yang lebih dekat menuju Suriah, yaitu rute
yang tidak konvensional melewati Gurun Suriah. Dengan
berani, ia memimpin tentaranya melewati gurun. Tercatat bahwa tentaranya
berjalan selama dua hari tanpa setetes air, sebelum mencapai tanda-tanda
sumber air di oasis. Khalid kemudian memasuki Suriah Utara dan menjebak sayap kanan tentara
Bizantium. Menurut sejarawan modern, inilah manuver strategis cerdik Khalid,
barisannya yang berbahaya melalui gurun dan muncul pada front timur laut Bizantium,
sementara mereka (Bizantium) diduduki dalam menanggulangi tentara Muslim di
Suriah Selatan, menjadikan mereka lepas kendali akan pertahanan Bizantium di
Suriah.[10]
Penaklukan Suriah
Selatan
Peta yang menunjukkan rute invasi Khalid bin Walid
atas Suriah.
Sawa, Suriah, dan kota bersejarah Tadmur telah jatuh pertama kali ke tangan Khalid. Sukhnah, Qaryatain, dan Hawarin ditaklukan setelah Pertempuran Qarteen dan Pertempuran Hawarin. Setelah berurusan dengan semua kota ini, Khalid bergerak menuju Damaskus, melewati gunung yang sekarang diketahui sebagai Sanital Uqab (celah
Uqab) setelah nama standar tentara Khalid. Dari sini, ia pindah menuju Bosra, ibukota kerajaan Ghassaniyah Arab, Negara Vasal Kekaisaran Bizantium.
Ia memerintahkan komandan Muslim lainnya untuk berkonsentrasi terhadap tentara-tentara mereka yang dekat
dengan perbatasan Suriah-Arab di Bosra. Di Maraj-al-Rahit, Khalid mengalahkan tentara Kristen-Arab Ghassaniyah pada sebuah pertempuran cepat, yang disebut Pertemuran
Maraj-al-Rahit. Sementara itu, Abu
Ubaidah bin Jarrah, komandan tertinggi tentara Muslim di Suriah, telah memerintahkan Syurahbil bin Hasanah untuk menyerang Bosra. Pengepungan terakhir di Bosra membawa tentara
yang kecil yang terdiri dari 4000 orang.
Penaklukan pada masa
pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab
Wilayah Islam tahun
622-750 M.
Wilayah pertama yang berhasil ditaklukkan adalah Damaskus pada tahun 635 M,
dan Yerusalem pada tahun 637 M.
dipimpin oleh panglima Khalid bin Walid pada masa pemerintahan khalifah Umar
bin Khattab.
Pada saat menyerahnya Damaskus ke tangan Islam, penduduk dijamin
keamanannya (harta, nyawa, bahkan gereja) dengan syarat mereka mau membayar
upeti atau jizyah.
Serangan balik Heraklius sempat membuat kaum muslimin mundur dari Yerusalem
dan Damaskus, tetapi hanya sebentar saja karena pasukan Romawi berhasil
dihancurkan pada pertempuran
Yarmuk (636 M). Akhirnya kedua wilayah ini berhasil direbut kembali pada
tahun 640 M. yang sekaligus menandai selesainya penaklukan di Suriah secara
total.
Khalifah Umar membagi Suriah menjadi 4 distrik besar yaitu Damaskus, Hims, Yordania, dan Palestina (kemudian
ditambah lagi distrik Kinnasrin). Ia juga
memerintahkan kepada seluruh tentara Islam agar tetap tinggal dalam barak-barak
militer, sehingga kehidupan masyarakat lokal tidak terganggu dan tetap berjalan
seperti biasa.
Banyak suku-suku arab yang sudah lama menetap di Suriah akhirnya beralih ke
Islam dan juga suku Ghassan. Khalifah juga menerapkan toleransi beragama
sehingga memberi citra positif bagi pemeluk agama Kristen Nestorian, Kristen
Yacobite dan Yahudi di mana pada masa kekuasaan Romawi mereka dianiaya. Hal
inilah yang dianggap sebagai hal terpenting dari suksesnya pemerintah Islam
menata wilayah mereka disamping pemerintah juga menghindari pemungutan jizyah
secara berlebihan apalagi disertai pemaksaan. Zakat dikenakan
kepada petani hanya sesuai dengan hasil panennya, jizyah diambil dari penduduk
yang masih kafir sebagai imbalan
atas jaminan perlindungan pemerintah dan pembebasan dari wajib militer.
Khalifah Umar juga membuat zona penyangga diseluruh jazirah arab (tempat
lahirnya Islam), dan setelah Suriah yang terletak di barat jatuh ke tangan kaum
muslimin, pasukan Islam bisa memfokuskan arah ke wilayah timur untuk
menaklukkan Kekaisaran Sassania Persia. Setelah Persia juga jatuh ke tangan
kaum muslimin mereka kemudian memfokuskan kembali ke provinsi Bizantium, Aegiptus.
Penaklukan pada masa
pemerintahan Khalifah Ustman bin Affan
Selama kepemimpinan Usman, Konstantinus III memutuskan untuk
menaklukkan kembali Levant, yang telah jatuh ke
pihak Muslim selama pemerintahan Umar. [11] Invasi skala besar
direncanakan dan pasukan besar dikirim untuk merebut kembali Suriah. Muawiyah I, gubernur Suriah dipanggil
untuk memberi bala bantuan dan Usman memerintahkan gubernur Kufah untuk mengirim
kontingen, yang bersama-sama dengan garnisun Suriah mengalahkan tentara Bizantium di Suriah Utara.
Usman memberi izin kepada Muawiyah, gubernur Suriah, untuk membangun
angkatan laut. Dari basis mereka di Suriah, umat Islam
menggunakan armada ini untuk menaklukkan Siprus pada 649
dan Kreta dan
kemudian Rodos dan
dilancarkannya serangan tahunan menuju Anatolia Barat ini menggagalkan Bizantium
untuk membuat upaya lebih lanjut untuk menaklukkan kembali Suriah.
Pada 654-655, Usman memerintahkan dilaksanakannya persiapan ekspedisi untuk
menaklukkan ibukota Romawi Timur, Konstantinopel, tetapi karena adanya
kekacauan di kekhalifahan yang berkembang pada 655 dan mengakibatkan
terbunuhnya Utsman, ekspedisi tersebut dibatalkan selama beberapa dekade dan
dilaksanakan di bawah dinasti berikutnya, yaitu Umayyah, namun berakhir dengan
kegagalan.
Penaklukan pada masa
Bani Umayyah
Mu'awiyah menjadikan Damaskus sebagai basis kekuatan untuk melebarkan
wilayah Islam saat ia menjadi khalifah pada tahun 660 M. Ia tercatat sebagai
khalifah bani Umayyah pertama yang memimpin kekhalifahan Islam dengan pusat di
Suriah dan menjadikan Damaskus sebagai ibukotanya yang terus bertahan hingga
abad berikutnya.
Kekristenan di Suriah
Kekristenan di Suriah mencapai jumlah
umat sekitar 10% dari total populasi.[12] Denominasi Kristen terbesar di negara itu adalah Gereja Ortodoks Yunani dari Antiokhia (dikenal
sebagai Ortodoks Yunani Patriak Antiokhia dan semua di Timur),[13][14][15] diikuti oleh Gereja Katolik-Yunani Melkit, sendiri merupakan cabang Ritus Timur,[16] dan kemudian oleh Gereja Ortodoks Suriah Oriental, ada juga minoritas Protestan dan anggota dari Gereja Timur Asiria dan Gereja Katolik Kaldea. Kota Aleppo diyakini memiliki jumlah terbesar dari orang-orang Kristen di Suriah.
Status Kristen di Suriah
Damaskus adalah
salah satu daerah pertama yang menerima Kristen selama pelayanan Simon Petrus. Ada
lebih banyak orang Kristen di Damaskus daripada di tempat lain. Setelah
ekspansi militer kekaisaran Umayyah ke Suriah dan Anatolia,
ajaran Islam datang
dan banyak yang menjadi Muslim.
Saat
ini, Damaskus masih memiliki jumlah yang cukup besar untuk orang Kristen,
gereja-gereja di seluruh kota, terutama di distrik Bab Touma (The Gate of Thomas dalam
bahasa Aram dan Arab). Misa
diadakan setiap hari Minggu dan pegawai negeri sipil diberikan waktu ibadah di
hari Minggu pagi untuk memungkinkan mereka untuk datang ke gereja, meskipun
Minggu adalah hari bekerja di Suriah. Sekolah-sekolah di kabupaten Kristen yang
didominasi memiliki hari Sabtu dan Minggu sebagai akhir pekan, sementara akhir
pekan resmi Suriah jatuh pada hari Jumat dan Sabtu.
Pada Mei
2011, International
Christian Concern mengklaim bahwa orang-orang Kristen di
Suriah lebih takut pada demonstran anti-pemerintah daripada pemerintah sendiri,
karena di bawah pemerintahan Assad Suriah telah ada toleransi terhadap agama
minoritas.[17][18]
Hubungan
Orang
Kristen (serta orang-orang Yahudi yang tersisa beberapa di negara ini) terlibat
dalam setiap aspek kehidupan Suriah. Mengikuti tradisi Paulus, yang memberikan khotbah dan pelayanan di
pasar, orang-orang Kristen Suriah adalah pelaku dalam ekonomi, akademik,
ilmiah, teknik, seni, dan kehidupan intelektual, hiburan, dan Politik Suriah.
Banyak
orang Kristen Suriah adalah pelaku dalam sektor publik dan manajer dan direktur
sektor swasta, sementara beberapa yang administrator lokal, anggota parlemen,
dan menteri dalam pemerintahan. Sejumlah Kristen Suriah juga perwira di
angkatan bersenjata Suriah. Mereka lebih suka bercampur dengan Muslim daripada
membentuk unit dan brigade Kristen, dan berjuang bersama rekan-rekan Muslim
mereka melawan pasukan Israel di berbagai konflik Arab-Israel dari abad ke-20.
Selain
pekerjaan sehari-hari mereka, orang-orang Kristen Suriah juga berpartisipasi
dalam kegiatan sukarela di daerah yang kurang berkembang dari Suriah.
Akibatnya, Kristen Suriah umumnya dipandang oleh warga Suriah lainnya sebagai
aset untuk komunitas yang lebih besar.
Terpisah
Kristen
Suriah memiliki pengadilan sendiri yang menangani kasus-kasus perdata seperti
pernikahan, perceraian dan warisan berdasarkan ajaran Alkitab. Dengan
kesepakatan dengan masyarakat lain, gereja-gereja Kristen Suriah tidak
mendakwahi Muslim dan tidak menerima perpindahan dari Islam. Tokoh Kristen
Suriah yang perlu diperhatikan termasuk penulis sejarah Paul dari Aleppo,
pemain catur Philip Stamma, dan musisi Armenia Suriah George Tutunjian.
Kristen dan Islam
Di Suriah, ada beberapa perbedaan sosial antara
Kristen dan Muslim. Sepanjang sejarah, orang-orang Kristen Suriah lebih tinggi
dalam hal tingkat urbanisasi daripada Muslim, banyak dari mereka yang hidup
layak dalam atau di sekitar Aleppo, Hamah, atau Latakia, dan ada relatif sedikit dari mereka dalam kelompok berpenghasilan rendah[19]. Secara proporsional lebih banyak Kristen daripada Muslim yang dididik
melampaui tingkat dasar,[butuh rujukan] dan kebanyakan dari mereka relatif menjadi pekerja kerah putih dan pekerjaan profesional.[20]
Presiden Suriah harus sebagai Muslim, sebagai akibat dari permintaan
populer pada saat konstitusi ditulis. Namun, Suriah tidak mengakui negara
berlandaskan agama.
Area penduduk Kristen
Kekristenan menyebar ke seluruh Suriah dan mereka
adalah mayoritas di beberapa provinsi, daerah penting adalah
·
Homs, yang dikenal memiliki populasi Kristen terbesar kedua, terutama di dekat
Lembah Kristen, sebuah situs wisata populer dekat dengan Crac des Chevaliers
·
Ma'loula
·
Saidnaya
·
Tartous
·
Latakia
·
Suwayda
Daftar Presiden Suriah
Kepala Pemerintahan
Suriah
Geografi Suriah
Geografi Suriah menggambarkan keadaan rupa geografis negara Suriah
secara keseluruhan. Suriah terletak di Asia Barat, bersebelahan dengan
Laut Mediterania, antara Lebanon dan Turki. Suriah terdiri dari dataran tinggi kering, meskipun bagian barat lautnya
yang bersebelahan dengan Laut Tengah cukup hijau. Sungai Eufrat, sungai paling penting di
Suriah, melintasi negara ini di timur. Negara ini dianggap sebagai salah satu
dari lima belas negara yang dianggap termasuk kedalam "tempat berawalnya
tamadun" (cradle of civilization).
Kota besar termasuk ibu kota negara Damaskus di barat
daya, Aleppo di utara,
dan Homs. Kebanyakan kota penting lain terletak di sepanjang
pesisir.
Iklim di Syria panas
dan kering, meskipun musim dingin termasuk ringan. Dikarenakan kondisi
ketinggian negara ini, terkadang terjadi hujan salju pada saat musim dingin.
SOSIAL
Maraknya pemberitaan tidak berimbang dan kabar hoax terkait
konflik di Suriah membuat Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI), Damaskus, Suriah
memberikan sejumlah verifikasi atas pemberitaan yang tidak berimbang terkait
Suriah. Mereka meminta masyarakat Indonesia untuk tidak mudah terprovokasi oleh
berita yang tidak jelas sumbernya terkait konflik di negara tersebut.
Dalam press release yang
ditandatangani oleh Susilo Priyadi sebagai ketua PPI Damaskus Suriah
dan Lion Fikyanto sebagai sekretaris, PPI Suriah menyatakan bahwa
konflik di Suriah bukanlah konflik sektarian. Melainkan konflik yang berkaitan
erat dengan berbagai kepentingan politik regional dan global.
Suriah, lanjut mereka, merupakan negara sekuler-sosialis,
multi-etnis, sekaligus multi-agama & sekte. Di negara tersebut terdapat
etnis yang berasal dari, antara lain, Arab, Kurdi, Armenia,
dan Turkman.
Sementara itu, para penduduknya merupakan penganut Sunni,
Syi’ah, Kristen Katolik, Ortodox Timur, Ortodox Syria, Protestan,
dan Druze. Terdapat pula penduduk yang atheis di negara tersebut.
Oleh karenanya, Tentara Nasional Suriah merupakan tentara yang terdiri
dari berbagai suku dan agama.
"Kehidupan beragama di Suriah cukup moderat dan sangat
toleran," kata pernyataan dari PPI tersebut. Sebelum konflik yang terjadi pada tahun 2011, Suriah
termasuk dalam 5 besar kategori negara-negara dengan tingkat kriminalitas
terendah. Kebutuhan pokok masyarakat seperti listrik, air dan roti disubsidi
oleh pemerintah. Selain kebutuhan pokok, pendidikan dan pelayanan kesehatan di
rumah sakit negeri pun juga mendapatkan subsidi penuh dari pemerintah.
Terkait Aleppo, PPI Suriah mengatakan, secara geografis,
letak provinsi tersebut sangat strategis dan merupakan kota terbesar kedua
setelah ibukota Damaskus yang terkena imbas konflik paling parah. Hal ini
membuatnya diperebutkan oleh kelompok-kelompok yang terlibat konflik.
Mereka juga menghimbau agar pemerintah RI mewaspadai WNI yang
pernah terlibat konflik Suriah dan melakukan kordinasi dengan Perkumpulan
Alumni Syam Indonesia (AL-SYAMI) sebagai wadah resmi alumni PPI Suriah di tanah
air.
Sementara bagi masyarakat Indonesia yang ingin memberikan
bantuan untuk warga Suriah, PPI Suriah menyarankan agar bantuan itu
disalurkan melalui lembaga resmi yang dikoordinasikan dengan perwakilan RI
setempat. Mereka juga mendesak pemerintah Indonesia untuk lebih berperan aktif
dalam penyelesaian konflik di Suriah melalui jalur diplomasi di forum-forum
internasional.
Di sisi lain, Suriah, tambah mereka, merupakan negara yang
menaruh kepedulian yang sangat tinggi terhadap problematika Palestina dan
menjadikannya sebagai isu nasional.
BUDAYA
Suriah adalah masyarakat tradisional dengan sejarah
budaya yang panjang. Pentingnya ditempatkan pada keluarga, agama, pendidikan,
disiplin diri dan hormat. Rasa Suriah untuk kesenian tradisional dinyatakan
dalam tarian seperti al – Samah, yang Dabkeh dalam semua variasi
mereka, dan tarian pedang. Upacara pernikahan dan kelahiran anak-anak
kesempatan untuk demonstrasi hidup adat rakyat.
Galeri seni di Damaskus
Literatur
Suriah telah memberikan kontribusi terhadap sastra Arab dan memiliki tradisi bangga
puisi lisan dan tertulis. Penulis Suriah, banyak dari mereka bermigrasi ke
Mesir, memainkan peran penting dalam Nahda atau kebangkitan sastra dan budaya
Arab abad ke-19. Tokoh penulis Suriah kontemporer meliputi, antara lain,
Adonis, Muhammad Maghout, Haidar Haidar, Ghada al - Samman, Nizar Qabbani dan
Zakariyya Tamer .
Aturan
Ba'ath Party, sejak 1966 kudeta, telah membawa sensor baru. Dalam konteks ini,
genre novel sejarah, dipelopori oleh Nabil Sulayman, Fawwaz Haddad, Khyri al -
Dzahabi dan Nihad Siris, kadang-kadang digunakan sebagai sarana untuk mengekspresikan
perbedaan pendapat, mengkritisi hadir melalui penggambaran masa lalu. Narasi
rakyat Suriah, sebagai subgenre fiksi sejarah, dijiwai dengan realisme magis,
dan juga digunakan sebagai sarana kritik terselubung masa kini. Salim Barakat,
seorang imigran Suriah yang tinggal di Swedia, adalah salah satu tokoh
terkemuka dari genre. Sastra kontemporer Suriah juga mencakup fiksi ilmiah dan
utopiae futuristik (Nuhad Sharif, Talib Umran), yang juga dapat berfungsi
sebagai media perbedaan pendapat.
Cinema iklan di Aleppo
Dunia musik
Suriah, khususnya yang dari Damaskus, telah lama di antara Arab paling penting
di dunia, khususnya di bidang musik Arab klasik. Suriah telah menghasilkan
beberapa bintang pan - Arab, termasuk Asmahan, Farid al - Atrash dan penyanyi
Lena Chamamyan. Kota Aleppo dikenal muwashshah, sebuah bentuk Andalous
dinyanyikan puisi dipopulerkan oleh Sabri Moudallal, serta untuk bintang
populer seperti Sabah Fakhri.
Televisi
pertama kali diperkenalkan ke Suriah pada tahun 1960, ketika Suriah dan Mesir (
yang mengadopsi televisi pada tahun yang sama ) adalah bagian dari Republik
Persatuan Arab. Ini disiarkan dalam warna hitam dan putih sampai 1976. Sinetron
Suriah memiliki penetrasi pasar yang cukup besar di seluruh dunia Arab Timur .
Hampir semua
media Suriah adalah milik negara, dan Partai Ba'ath mengontrol hampir semua
surat kabar. Pihak berwenang mengoperasikan beberapa badan intelijen, di antara
mereka Shu'bat al – mukhabarat al – Askariyya, mempekerjakan sejumlah besar
koperasi.
Olahraga
Olahraga
paling populer di Suriah adalah sepak bola, basket, renang, dan tenis. Damaskus
adalah rumah bagi kelima dan ketujuh Pan Arab Games. Banyak tim sepak bola
populer yang berbasis di Damaskus, Aleppo, Homs, Latakia, dll. The Stadium Abbasiyyin di Damaskus adalah rumah bagi tim nasional sepak
bola Suriah. Tim menikmati beberapa keberhasilan, setelah lolos ke empat
kompetisi Piala Asia. Tim itu internasional pertamanya pada tanggal 20 November
1949, kalah dari Turki 7-0. Tim ini peringkat 138 di dunia oleh FIFA pada Mei
2013.
Masakan Suriah
Terkait
dengan wilayah Suriah di mana hidangan tertentu telah berasal, masakan Suriah
kaya dan beragam dalam bahan-bahan. Syrian food sebagian besar terdiri dari
Southern Mediterania, Yunani, dan hidangan Asia Barat Daya. Beberapa hidangan
Suriah juga berkembang dari Turki dan Perancis memasak : hidangan seperti shish
kebab, boneka zucchini, yabra ' (diisi daun anggur, kata yapra ' berasal dari
kata Turki ' Yaprak ' yang berarti daun).
Hidangan
utama yang membentuk masakan Suriah adalah kibbeh, hummus, tabbouleh, fattoush,
labneh, shawarma, mujaddara, shanklish, ppastırma, sujuk dan baklava. Baklava
terbuat dari filo pastry diisi dengan kacang cincang dan direndam dalam madu.
Suriah sering melayani pilihan makanan pembuka, yang dikenal sebagai meze,
sebelum hidangan utama. Za'atar, daging sapi cincang, dan keju manakish populer
hors d' oeuvres. The Arab flatbread khubz selalu dimakan bersama-sama dengan meze.
Minuman di
Suriah bervariasi, tergantung pada waktu hari dan kesempatan. Kopi Arab, juga
dikenal sebagai kopi Turki, adalah minuman panas yang paling terkenal, biasanya
dibuat di pagi hari saat sarapan atau di malam hari. Hal ini biasanya disajikan
untuk tamu atau setelah makan. Arak, minuman beralkohol, juga merupakan minuman
yang terkenal kebanyakan disajikan pada acara-acara khusus. Lebih banyak contoh
minuman Suriah termasuk Ayran, Jallab, kopi putih, dan bir yang diproduksi
secara lokal disebut Al Shark.
POLITIK
Peta Kekuatan di Suriah
Konflik Suriah yang semula pemberontakan melawan rezim diktator dan bengis
berubah menjadi konflik antara kekuatan. Konflik itu membuat Suriah terbagi
menjadi empat wilayah yang dikontrol empat kekuatan. Ini peta kekuatan di
Suriah seperti yang dipantau Al-Jazeera pada Selasa (18/08):
Empat tahun lebih enam bulan konflik berdarah di Suriah berlalu. Revolusi
warga yang menginginkan lengsernya rezim diktator lagi kejam kini berubah
menjadi konflik antara kelompok. Konflik itu pun mengubah Suriah menjadi empat
wilayah yang terlihat sama-sama kuat. Mereka adalah rezim Suriah, faksi-faksi
oposisi Suriah, milisi Kurdi dan organisasi Daulah Islamiyah.
Pada tahun, milisi Kurdi nampaknya menjadi kekuatan di Suriah yang meraih
kemajuan pesat di utara negara tersebut. Sebelumnya, mereka hanya bercokol di
pinggiran timur laut Suriah dan beberapa titik lainnya. Kini, Kurdi
diperkirakan hampir mengontrol mayoritas Suriah utara mulai dari provinsi
Hasakah hingga Aleppo Timur, ditambah daerah Ifrin di timur laut Suriah.
Sementara faksi oposisi Suriah mengontrol wilayah yang luas di timur kota
Aleppo dan wilayah pedesaannya. Pejuang masih merebutkan wilayah dengan rezim
di sejumlah daerah di dalam Aleppo, termasuk di kota Nubul dan Zahra yang
dihuni mayoritas Syiah pro rezim Bashar Assad.
Daulah Islamiyah juga mengontrol sejumlah wilayah di pedesaan Aleppo.
Mereka menduduki antara sekitar kota Marik dan ‘Azaz di dekat perbatasan Turki.
Dan juga di kota Manbaj, Al-Bab dan Jarabis. Saat ini mereka masih terlibat
pertempuran dengan faksi oposisi di sejumlah titik di wilayah itu.
Wilayah kontrol Daulah Islamiyah juga menyebar luas di wilayah gurun
(lembah Syam) di pusat dan timur Suriah. Titik utama mereka berada di provinsi
Raqqah dan Dier Zour. Sementara di kota Tadmir dan sekitarnya di pedesaan Homs
Timur serta di sejumlah daerah di provinsi Hasakah, mereka masih memperebutkan
wilayah dengan Kurdi.

Merah: Wilayah Rezim, Hijau: Wilayah Oposisi, Kuning:
Wilayah Kurdi Titik Hitam: Wilayah ISIS
Di provinsi Idlib, nampaknya hampir seluruhnya provinsi itu dikontrol
pejuang Suriah. Hanya ada dua kota di kota itu yang belum dibebaskan, yaitu
kota Kufreya dan Al-Fu’ah yang dihuni Syiah. Namun, kedua kota itu sepenuhnya
di bawah kepungan pejuang.
Sementara itu, wilayah rezim Suriah masih membentang di sebagian besar
Suriah barat, mulai dari perbatasan dengan Turki di Utara hingga ke perbatasan
Yordania di Selatan. Begitu juga, mayoritas provinsi Latakia yang dikenal basis
pendukung Bashar Asad.
Rezim juga masih mengontrol mayoritas provinsi Hama, sebagian Homs barat,
ibukota Damaskus dan pedesaannya, provinsi Suwaida dan sekitar sepertiga
provinsi Daraa.
Akan tetapi, sebagian dari wilayah-wilayah yang dikontrol rezim itu
sebagian di antaranya diduduki mujahidin. Kekuatan pejuang masih berupaya
memperluas wilayah, terlebih ke wilayah-wilayah strategis.
EKONOMI
Suriah diklasifikasikan oleh Bank Dunia sebagai negara berpendapatan
menengah ke bawah. Suriah tetap tergantung pada sektor minyak dan pertanian. Sektor minyak menyediakan sekitar 40% dari pendapatan ekspor. Berkontribusi sektor
pertanian sekitar 20% dari PDB dan 20% dari pekerjaan. Cadangan minyak diperkirakan
akan menurun di tahun-tahun mendatang dan Suriah sudah menjadi net oil importer. Sejak perang saudara dimulai, ekonomi menyusut sebesar 35%, dan Suriah pound
telah jatuh ke seperenam dari nilai sebelum perang. Pemerintah semakin
mengandalkan kredit dari Iran, Rusia dan Cina.
Perekonomian sangat diatur oleh pemerintah, yang telah meningkatkan subsidi dan
memperketat kontrol perdagangan untuk meredakan pengunjuk rasa dan melindungi
cadangan mata
uang asing. Kendala ekonomi
jangka-panjang termasuk hambatan perdagangan luar negeri, penurunan produksi
minyak, pengangguran yang tinggi, meningkatnya defisit anggaran, dan meningkatkan
tekanan pada pasokan air yang disebabkan oleh penggunaan berat di bidang pertanian, pertumbuhan penduduk yang cepat, perluasan
industri, dan polusi air.
UNDP mengumumkan
pada tahun 2005 bahwa 30% dari
populasi Suriah hidup dalam
kemiskinan dan 11,4% hidup
di bawah tingkat subsistensi. Ekspor utama Suriah termasuk minyak mentah, produk olahan, kapas mentah, pakaian, buah-buahan, dan
biji-bijian. Sebagian besar impor
Suriah adalah bahan baku penting untuk industri, kendaraan, peralatan pertanian, dan mesin berat. Penghasilan dari ekspor minyak serta pengiriman uang
dari pekerja Suriah adalah sumber pemerintah yang paling penting dari valuta asing.
Suriah di ekspor global telah mengikis secara bertahap sejak tahun 2001. Pengangguran tinggi di atas 10%. Tingkat kemiskinan meningkat dari 11% pada tahun 2004
menjadi 12,3% pada tahun 2007.
Ketidakstabilan politik menimbulkan ancaman signifikan terhadap
pembangunan ekonomi di masa depan. Investasi asing dibatasi oleh kekerasan, pembatasan
pemerintah, sanksi ekonomi, dan isolasi internasional.
Ekonomi Suriah juga masih tertatih-tatih oleh birokrasi negara, jatuh produksi minyak, meningkatnya defisit anggaran, dan inflasi. Sebelum perang sipil pada tahun 2011, pemerintah berharap untuk menarik investasi baru di sektor pariwisata, gas alam, dan layanan untuk diversifikasi ekonomi dan
mengurangi ketergantungan pada
minyak dan pertanian.
Pemerintah mulai melembagakan reformasi ekonomi yang bertujuan liberalisasi sebagian besar pasar, namun reformasi itu adalah lambat dan ad hoc, dan telah
benar-benar terbalik sejak pecahnya konflik pada tahun 2011.
Pada 2012, karena perang sipil Suriah yang sedang berlangsung, nilai ekspor keseluruhan Suriah
telah memangkas dua pertiga,
dari angka $12 milyar USD pada tahun 2010
menjadi hanya $4 milyar USD pada tahun 2012. Suriah PDB menurun lebih 3%
pada tahun 2011, dan
diharapkan penurunan lebih lanjut
sebesar 20% pada tahun 2012.
Pada 2012, minyak dan industri
pariwisata Suriah pada khususnya telah hancur, dengan $5 miliar USD hilang dengan konflik
yang sedang berlangsung perang sipil. Rekonstruksi
diperlukan karena perang sipil yang sedang berlangsung akan dikenakan biaya sebanyak $10 miliar USD. Sanksi telah melemahkan keuangan pemerintah. AS dan Uni Eropa melarang impor minyak, yang mulai berlaku pada tahun 2012, diperkirakan biaya Suriah sekitar $400 juta per
bulan.
Pendapatan dari pariwisata telah menurun drastis, dengan tingkat hunian hotel jatuh dari 90% sebelum perang menjadi kurang dari 15% pada Mei
2012. Sekitar 40% dari semua karyawan di sektor pariwisata telah
kehilangan pekerjaan mereka sejak awal perang.
Industri perminyakan
Suriah telah menghasilkan minyak dari ladang yang terletak di timur laut sejak akhir 1960-an. Pada awal
1980-an, cahaya - grade, minyak rendah sulfur ditemukan di
dekat Deir ez - Zor di Suriah timur. Tingkat Suriah produksi minyak telah
menurun secara dramatis dari puncak dekat dengan 600.000 barel per hari (95.000 m3/d)
(bph) pada tahun 1995 turun menjadi kurang dari 140.000 bbl/d (22.000 m3/d ) pada tahun 2012.
Suriah diekspor sekitar 200.000 bbl/d (32.000 m3/d) pada tahun 2005, dan minyak masih
menyumbang sebagian besar pendapatan ekspor negara itu. Suriah juga
memproduksi 22 juta meter kubik gas per hari, dengan perkiraan cadangan sekitar 8,5 triliun kaki kubik (240 km3).
Sementara pemerintah telah mulai bekerja sama
dengan perusahaan-perusahaan energi internasional dengan harapan akhirnya menjadi eksportir gas, semua gas yang dihasilkan saat ini dikonsumsi
di dalam negeri.
Sebelum pemberontakan, lebih dari 90% dari ekspor minyak Suriah adalah
untuk negara-negara Uni Eropa, dengan sisanya pergi ke Turki. Pendapatan minyak dan gas merupakan sekitar 20% dari total
GDP dan 25% dari pendapatan total pemerintah.
Transportasi
Suriah memiliki tiga bandara internasional (Damaskus , Aleppo dan Lattakia), yang berfungsi
sebagai hub untuk Syrian Air dan juga dilayani oleh berbagai operator asing. Mayoritas kargo Suriah dibawa oleh Chemins de Fer Syriens (perusahaan kereta api
Suriah), yang menghubungkan dengan Turkish Negara Kereta Api (mitra Turki). Untuk sebuah negara yang relatif terbelakang, prasarana
perkeretaapian Suriah adalah terpelihara dengan banyak layanan ekspres dan
kereta api modern.
Saat ini negara Suriah sedang mengalami konflik perang, selain itu
juga diidentikan dengan pergerakan islam radikal yaitu ISIS, Islamic State of
Iraq and Syria. Aksi unjuk rasa antirezim Presiden Bashar al-Assad, di Suriah, Kamis
(15/3), genap memasuki usia satu tahun. Protes oposisi telah melemahkan kondisi
perekonomian negara. Sanksi ekonomi Liga Arab, Uni Eropa, dan AS terhadap
Suriah membuat perekonomian lunglai.
Kurs lira
(mata uang Suriah) terhadap dollar AS terus merosot. Nilai satu dollar AS pekan
ini mencapai 100 lira. Dua pekan lalu, nilai satu dollar AS sama dengan 75
lira. Tahun lalu, kurs adalah sekitar 40 lira per dollar AS.
Buntunya solusi politik krisis Suriah dan semakin lemahnya bank
sentral mempertahankan kurs lira membuat mata uang Suriah itu kembali merosot
tajam dalam pekan ini. Merosotnya nilai mata uang lira hingga lebih dari 50
persen itu tentu diikuti pula dengan meningkatnya inflasi. Barang-barang impor
menjadi lebih mahal.
Namun, Pemerintah Suriah saat ini tidak menaikkan gaji pegawai
negeri dan swasta untuk mencegah naiknya angka inflasi itu. Hal tersebut semakin membebani hidup
kebanyakan penduduk Suriah. Merosotnya kemampuan Bank Sentral Suriah
dalam mengontrol nilai mata uang lira itu disebabkan cadangan devisa Suriah,
yang diperkirakan sekitar 17 miliar dollar AS pada pertengahan tahun lalu, kini
terus berkurang menjadi hanya setengah miliar dollar AS.
Warga Suriah
kini ramai-ramai menggunakan lira untuk membeli barang apa saja. Mereka
khawatir kurs lira semakin merosot dalam beberapa hari mendatang sehingga daya
belinya merosot.
Para analis
menyebutkan, kondisi perekonomian Suriah saat ini merupakan yang terburuk dalam
beberapa dekade terakhir. Akibat aksi unjuk rasa oposisi untuk pergantian
rezim, sektor pariwisata Suriah terpukul hingga mengalami kerugian 1 miliar
dollar AS selama setahun ini.
Arus masuk
investasi asing ke negara itu juga berhenti total, khususnya investasi dari
negara-negara Arab Teluk yang merambah ke berbagai sektor. Hubungan Suriah dan negara-negara Arab Teluk (GCC) mengalami
keterpurukan dan tergolong paling parah saat ini. Ini diwarnai penutupan
kantor-kantor kedubes negara anggota GCC itu di Damaskus.
Sebelumnya,
Kementerian Luar Negeri Arab Saudi, Rabu lalu, memutuskan untuk menutup kantor
kedutaan besar di Damaskus. Arab Saudi memulangkan semua diplomat dan karyawan
di ibu kota Suriah itu.
Hal serupa
dilakukan Uni Emirat Arab, Oman, Kuwait, dan Qatar. Bahrain sudah lebih dulu
melakukannya. Aktivitas perdagangan internasional,
khususnya dengan negara tetangga seperti Turki, Jordania, dan Lebanon terhenti.
Ekspor minyak Suriah praktis macet. Sejak tahun 2005 Suriah memproduksi minyak
sekitar 425.000 barrel per hari. Hal itu membuat sumber penghasilan mata
uang asing bagi Suriah menciut, untuk tidak mengatakan terhenti.
Negara-negara
yang dikenal pendukung setia Suriah, seperti Rusia, China, dan Iran, tampak
tidak siap membantu keuangan rezim Presiden Bashar al-Assad. Rusia dan China
membela rezim Presiden Assad lebih disebabkan faktor persaingan pamor politik
dengan Barat di kancah internasional, bukan karena faktor ekonomi.
Rusia dan
China juga sudah mulai mengubah tonasi terhadap Suriah. Walau tak menyukai
intervensi Barat, Suriah diminta berubah. Iran sendiri juga menghadapi sanksi
ekonomi dari Barat akibat program nuklir sehingga tidak mampu mengucurkan
bantuan ke Suriah.
Kini banyak
warga Suriah terpaksa mengungsi ke negara tetangga, seperti Turki, Lebanon, dan
Jordania, akibat aksi kekerasan dan kondisi ekonomi yang terus memburuk. Kondisi yang saat ini masih bisa menolong rezim Presiden Assad adalah
karakter perekonomian Suriah yang banyak mengandalkan produk dalam negeri. Akan tetapi, terus meningkatnya sanksi internasional terhadap Suriah
tetap melemahkan sendi-sendi produksi di negara itu. Ini antara lain terjadi
akibat anjloknya kurs lira. Dikhawatirkan kekacauan ekonomi akan membuat rezim
Presiden Assad kehilangan kontrol.
Jika tidak
segera dicapai solusi politik, maka cepat atau lambat akan meledak pula
kemarahan sosial yang dahsyat akibat tekanan ekonomi itu. Seperti diketahui,
aksi unjuk rasa di Suriah merupakan yang terlama dibanding dengan yang pernah
terjadi negara - negara Arab lainnya, seperti ; Tunisia, Mesir, Libya dan
Yaman.
PENDIDIKAN
Pendidikan di SuriahJawdat al - Hashimi
Sekolah di Damaskus
Pendidikan
gratis dan wajib dari usia 6 sampai 12. Sekolah terdiri dari 6 tahun pendidikan
dasar diikuti dengan periode pelatihan umum atau kejuruan 3 tahun dan program
akademis atau kejuruan 3 tahun. Kedua periode 3 tahun dari pelatihan akademis
diperlukan untuk masuk universitas. Jumlah pendaftaran di sekolah pasca-sekolah
menengah adalah lebih dari 150.000. Tingkat melek huruf Suriah berusia 15 dan
lebih tua adalah 90,7 % untuk pria dan 82,2 % untuk perempuan.
Sejak tahun
1967, semua sekolah, perguruan tinggi, dan universitas telah berada di bawah
pengawasan pemerintah dekat Partai Ba'ath. Ada 6 perguruan tinggi negeri di
Suriah dan 15 perguruan tinggi swasta Atas dua perguruan tinggi negeri adalah
Universitas Damaskus (180.000 siswa) dan Universitas Aleppo.
The
universitas swasta top di Suriah adalah
: Suriah Perguruan Tinggi Swasta, Arab International UniversitY, University of Kalamoon dan International University untuk Ilmu
Pengetahuan dan Teknologi. Ada juga banyak lembaga yang lebih tinggi di Suriah,
seperti Higher Institute of Business Administration, yang menawarkan program
sarjana dan pascasarjana dalam bisnis.
Menurut
Webometrics Ranking of World Universities, universitas peringkat teratas di
negara tersebut Damascus University (3540 seluruh dunia), University of Aleppo
(7176) dan Tishreen University (7968).
DEMOGRAFI
Populasi sejarah ( dalam ribuan )
Kebanyakan
orang hidup di lembah Sungai Efrat dan di sepanjang dataran pantai, strip subur
antara pegunungan pesisir dan padang pasir. Kepadatan penduduk secara
keseluruhan di Suriah adalah sekitar 99 per km²
258 per mil persegi . Menurut Survey Pengungsi Dunia 2008, yang
diterbitkan oleh Komite AS untuk Pengungsi dan Imigran, Suriah host populasi
pengungsi dan pencari suaka yang jumlahnya sekitar 1.852.300. Sebagian besar penduduk
ini dari Irak (1.300.000), namun populasi yang cukup besar dari mantan Palestina
(543.400) dan Somalia (5.200) juga tinggal di negara ini.
Lebih dari 7 juta warga Suriah telah mengungsi, dan lebih dari 2,1
juta warga Suriah melarikan diri dari negaranya dan menjadi pengungsi sejak
pecahnya perang sipil pada Maret 2011.
Kelompok etnis (Anak Bedu di Aleppo)
Damascus, pakaian tradisional
Suriah
merupakan orang pribumi keseluruhan Levantine, terkait erat dengan tetangga
dekat mereka, seperti orang-orang Lebanon, Palestina, Israel, Irak, Yordania
dan Malta. Suriah memiliki populasi sekitar 22,5 juta. Arab Suriah, bersama
dengan sekitar 400.000 orang Arab Palestina UNRWA, membentuk sekitar 77% dari
populasi (jika Syriac Kristen dikecualikan). Selain itu, sekitar 1.300.000 pengungsi Irak diperkirakan tinggal di
Suriah pada tahun 2007.
Kelompok etnis terbesar kedua di Suriah adalah orang-orang pribumi
Kristen Syriac - Aramaic dan Asyur, yang bersama-sama berjumlah sekitar
2.300.000, atau hanya lebih dari 10% dari populasi, dengan Aram terdiri dari
7,5% menjadi 8% dan Asyur 2% menjadi 2,5%. dengan kelompok Syriac - Aramaic
yang tinggal di seluruh negeri, khususnya di kota-kota besar, sementara Asyur
terutama berada di utara dan timur laut (Homs, Aleppo, Qamishli, Hasakah). Banyak
(terutama kelompok Assyrian) masih mempertahankan beberapa Akkadia diresapi Neo
– Aramaic dialek sebagai bahasa lisan dan tulisan, sementara sejumlah kecil
Siria - Aram masih mempertahankan Western Aram. Jumlah mereka telah didorong
oleh banyak pengungsi Irak Asyur melarikan diri dari penganiayaan agama dan
etnis sejak Perang Irak , sehingga populasi sekarang mungkin lebih tinggi dari
yang tercantum.
Kurdi berbicara Indo - Eropa merupakan sekitar 9% dari populasi,
atau sekitar 2 juta orang. Kebanyakan Kurdi berada di sudut timur laut Suriah dan
sebagian besar berbicara Kurmanji varian dari bahasa Kurdi. Mayoritas Turkmen Suriah tinggal di Aleppo, Damaskus dan Latakia dan
nomor sekitar 500.000-1.000.000, yang terdiri dari suatu tempat antara
2% sampai 4% dari populasi.
Armenia, seorang
orang Kristen Indo - Eropa, jumlah sekitar 100.000, atau sekitar 0,5% dari
seluruh penduduk. Kebanyakan tiba selama Genosida Armenia. Suriah memegang 7th
penduduk Armenia terbesar di dunia. Mereka terutama berkumpul di Aleppo, Qamishli,
Damaskus dan Kesab.
Pria Suriah di Damaskus
Circassians,
ras Kaukasia berbicara Northwest, sejumlah 100.000. Yazidi , sebuah kelompok etnis yang berbeda dengan agama mereka
sendiri Yazidism, jumlah sekitar 10.000 orang, terutama yang tinggal di wilayah
Jabal Sinjar. Jumlah orang Yunani sekitar 5.000 orang, yang berada terutama di
Damaskus dan Aleppo.
Mhallami,
sebuah cabang dari penduduk Siria - Aram yang masuk Islam sekuler, tetapi yang
mempertahankan nomor identitas Aram sekitar 2.000. Mandean, sebuah Mandaic berbicara etno - agama minoritas, jumlah
beberapa ratus, terutama pengungsi dari Irak.
Yahudi, sekali terjadi di Suriah, sekarang account hanya 200 orang
atau lebih. Konsentrasi terbesar dari diaspora Suriah di luar dunia Arab di
Brazil, yang memiliki jutaan orang Arab dan lainnya lainnya ancestries Timur
Dekat. Brasil adalah negara pertama di Amerika untuk menawarkan visa
kemanusiaan untuk pengungsi Suriah. Mayoritas Arab Argentina berasal dari latar
belakang baik Lebanon atau Suriah
AGAMA
Arab Sunni mencapai 59-60%
dari populasi, sebagian besar orang Kurdi (9%) dan Turkomen (3%) adalah Sunni,
sementara 13% adalah Syiah (Alawit, Dua Belas, dan Ismailiyah gabungan), 10%
Kristen, mayoritas Antiokhia Ortodoks,, sisanya termasuk Katolik Yunani, Assyria Gereja Timur, Armenia Ortodoks, Protestan dan
denominasi lainnya, dan 3% Druze. Nomor Druze sekitar 500.000, dan berkonsentrasi
terutama di daerah selatan Jabal al- Druze. Keluarga Presiden Bashar al - Assad adalah
Alawit dan Alawi mendominasi pemerintah Suriah dan memegang posisi kunci militer.
Kristen (2,5
juta), sejumlah besar dari mereka ditemukan di antara populasi Suriah pengungsi Palestina, yang dibagi menjadi beberapa kelompok. Chalcedonian Antiokhia Orthodox membentuk 35,7% dari penduduk Kristen, Katolik (Melkite, Armenia Katolik, Katolik Siria, Maronit, Kasdim Katolik dan Latin) membentuk 26,2% ; Gereja Apostolik Armenia 10,9%, Ortodoks Suriah membentuk 22,4% ; Asiria Gereja
Timur dan beberapa denominasi Kristen yang lebih kecil akun sisanya. Banyak biara-biara Kristen juga ada. Banyak Suriah
Kristen termasuk kelas sosial - ekonomi yang tinggi.
Internet dan
telekomunikasi
Telekomunikasi di Suriah diawasi oleh Kementerian Komunikasi dan Teknologi. Selain itu, Suriah Telecom
memainkan peran integral dalam distribusi akses internet pemerintah. Tentara Elektronik
Suriah berfungsi sebagai faksi militer pro - pemerintah di dunia maya dan telah
lama dianggap sebagai musuh dari kelompok hacktivist Anonymous. Karena undang-undang sensor internet, 13.000 aktivis
internet telah ditangkap antara Maret 2011 dan Agustus 2012.
Referensi
6. Sumber: http://hbmulyana.wordpress.com/2008/02/19/sejarah-mengenai-suriah-dan-lebanon/. Diakses tanggal 6 Januari 2018.
8. "Syria." Encyclopædia
Britannica. 2006. Encyclopædia Britannica Online. Diakses tanggal 20 Oktober 2006.
9. The Sword of Allah: Khalid bin al-Waleed, His Life and
Campaigns: page no:576 by Lieutenant-General Agha Ibrahim Akram, Nat. Publishing. House, Rawalpindi (1970) ISBN
978-0-7101-0104-4.
10. Tabari: Vol. 2, p. 609.
11. "Umar
(634–644)", The Islamic World to 1600Multimedia History Tutorials by
the Applied History Group, University of Calgary. Diakses 20
Oktober 2006.
13. "Religion
in Syria - Christianity". Atheism.about.com.
2009-12-16. Diakses tanggal 6
September 2013.
14. Bailey, Betty Jane; Bailey, J. Martin (2003). Who
Are the Christians in the Middle East?. Grand Rapids, Michigan: William B.
Eerdman. ISBN 0-8028-1020-9.
17. "Syria:
Activists set free to promote for National Dialogue". DayPress. May 16, 2011. Diakses tanggal 11 Juni 2011.
18. Charlie Butts (May 16, 2011). "Anti-gov't
protesters after Syrian Christians". OneNewsNow.com. Diakses tanggal 11 Juni 2011.
21.


Komentar
Posting Komentar