BAHASA KABILAH - KABILAH ARAB
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Bahasa adalah realitas yang tumbuh berkembang sesuai dengan tumbuh
kembangnya manusia pengguna bahasa itu. Realitas bahasa dalam kehidupan ini
semakin menambah kuatnya eksistensi manusia sebagai makhluk berbudaya dan
beragama. Kekuatan eksistensi manusia sebagai makhluk berbudaya dan beragama
antara lain ditunjukkan oleh kemampuannya memproduksi karya-karya besar berupa
sains, teknologi, dan seni yang tidak terlepas dari peran-peran bahasa yang
digunakannya. Namun dalam konteks lain, bahasa bisa dijadikan alat propaganda,
bahkan peperangan yang bisa membahayakan sesama jika pengguna bahasa tidak lagi
melihat rambu- rambu agama dan kemanusiaan dalam penggunaannya.
Bahasa pula dapat diartikan sebagai sistem suara yang terdiri atas
simbol-simbol arbitrer yang digunakan oleh sesorang atau sekelompok
orang untuk bertukar pikiran atau berbagi rasa,dan bahasa adalah sistem yang
terbentuk oleh simbol–simbol, diusahakan, dan dapat berubah untuk
mengekspresikan tujuan pribadi atau komunikasi antarindividu. Bahasa itu
sebagaimana masyarakat pemakai bahasa tersebut, bahasa itu tumbuh, berkembang,
dan akhirnya mati (punah). Syekh Ahmad al-Iskandari dan Mustafa Inany telah
mengungkapkan hal tersebut bahwa bahasa ‘Ad dan Samud dan lain sebagainya telah
lenyap, berita mereka hanya dapat diketahui lewat pemberitaan al-Qur’an dan
hadis Rasulullah saw. Bahasa Arab itu sendiri adalah salah satu bahasa Samiyah
yakni bahasa Arab kuno, wilayah tempat tinggal mereka di Jazirah Arab. Bahasa
Samiyah ini terdiri dari beberapa bahasa yang digunakan oleh anak-anak (keturunan)
Sam bin Nuh, sedang bahasa Sam sendiri sudah tidak diketahui lagi.
Dengan
demikian, Tulisan ini akan mendeskripsikan “Bahasa
Kabilah-Kabilah Arab”.
Semoga bermanfaat. Amiin.
1.2.
Rumusan Masalah
1.Apa pengertian dari bangsa arab?
2.Apa pengertian dari bangsa arab
baidah dan macam-macamnya?
3.Apa pengertian dari bangsa arab
baqiyah dan macam-macamnya?
BAB II
PEMBAHASAN
2.1.
Bangsa Arab
Letak
Geografis
Jazirah
arab diapit oleh dua kerajaan besar yaitu Romawi Timur di sebelah barat sampai
ke laut Adriatik dan Persia di sebelah timur sampai ke sungai Dijlah. Kedua
kerajaan besar itu disebut hegemoni di wilayah sekitar Timur Tengah. Sebenarnya
Jazirah Arab bebas dari pengaruh kedua kerajaan tersebut, kecuali daerah-daerah
subur seperti: Yaman dan daerah-daerah sekitar teluk Persia. Wilayah jazirah
arab di teluk Persia termaksud daerah kekuasaan kerajaan Persia. Dengan
demikian daerah hijau bebas dari pengaruh-pengaruh politik dan budaya dari
luar. Islam yang dasar-dasarnya diletakkan oleh Nabi Saw di Mekkah dan di
Madinah adalah agama yang murni, tidak dipengaruhi baik oleh perkembangan
agama-agama yang ada di sekitarnya maupun kekuasaan politik yang meliputinya.
Jazirah
Arab berbentuk empat persegi panjang, yang sisinya tidak sejajar. Di sebelah
barat terbatas dengan lautan merah, di sebelah selatan dengan laut arab, di
sebelah timur dengan teluk arab (Persia) dan di sebelah utara dengan gurun
pasir Irak dan Syiria. Kemudian Jazirah Arab ini terbagi kepada bagian tengah
yang terdiri dari padang pasir dan gurun-gurun yang jarang penduduknya dan
bahagian tepi merupakan sebuah kota kecil yang melingkari bagian tengah dan
subur daerahnya dan banyak kota yang ada seperti: Bahrain, Oman. Bagian tengah,
terbagi kepada bagian utara di sebut dengan Nejed dan bagian selatan di sebut
dengan al-Ahkaf yang jarang penduduknya karena itu disebut dengan al-Rub
al-Khalli.
Bangsa Arab mempunyai akar panjang dalam sejarah, mereka termasuk
ras atau rumpun bangsa Caucasoid, dalam Subras Mediteranian yang anggotanya
meliputi wilayah sekitar Laut Tengah, Afrika Utara, Armenia, Arabiyah dan
Irania. Bangsa arab hidup berpindah-pindah, nomad, karena tanahnya terdiri atas
gurun pasir yang kering dan sangat sedikit turun hujan. Perpindahan mereka dari
satu tempat ke tempat yang lainnya mengikuti tumbuhnya stepa (padang rumput)
yang tumbuh secara sporadic di tanah arab di sekitar oasis atau genangan air
setelah turun hujan. Bila dilihat dari asal-usul keturunan, penduduk jazirah
arab dapat dibagi menjadi dua golongan besar, yaitu: Qathaniyun (keturunan
Qathan) dan ‘Adaniyun (keturuan Ismail ibnu Ibrahim as).
Sistem Politik/Pemerintahan Bangsa Arab
Pada masyarakat arab pra Islam sudah banyak ditemukan tata cara
pengaturan dalam aktivitas kehidupan sosial yang dapat dibagi pada beberapa sistem-sistem
yang ada di masyarakat, salah satunya adalah system politiknya. Pada garis
besarnya penduduk jazirah dapat dibagi berdasarkan teritorial kepada dua bagian
yaitu:
1.
Penduduk
kota (al-hadharah) yang tinggal di kota perniagaan jazirah Arabia, seperti
Mekkah, Madinah. Kota Mekkah merupakan kota penghubung perniagaan Utara dan
selatan, para pedagang dengan khalifah-khalifah yang berani membeli barang
dagangan dari India dan Cina di Yaman dan menjualnya ke Syiria di Utara.
2.
Penduduk
pedalaman yang mengembara dari satu tempat ke tempat lain. Cara mereka hidup
adalah nomaden, berpindah dari suatu daerah ke daerah lain, mereka tidak
mempunyai perkampungan yang tetap dan mata pencaharian yang tepat bagi mereka
adalah memelihara ternak, domba dan unta.
Kehidupan Keagamaan Masyarakat Arab
Sebelum Islam penduduk Arab menganut agama yang bermacam-macam, dan
Jazirah Arab telah dihuni oleh beberapa ideologi, keyakinan keagamaan. Bangsa
Arab sebelum Islam telah menganut agama yang mengakui Allah sebagai tuhan mereka.
Kepercayaan ini diwarisi turun temurun sejak nabi Ibrahim as dan Ismail as.
al-Qur’an menyebut agama itu dengan Hanif, yaitu kepercayaan yang mengakui
keesaan Allah sebagai pencipta alam, Tuhan menghidupkan dan mematikan, Tuhan
yang memberi rezeki dan sebagainya. Kepercayaan yang menyimpang dari agama yang
hanif disebut dengan Watsniyah, yaitu agama yang mempersyarikatkan Allah dengan
mengadakan penyembahan kepada berhala.
Kebudayaan Arab
Wilayah Timur Tengah menurut Ali Mufrodi meliputi Turki, Iran,
Israel, Libanon, Yordania, Syiria, Mesir dan kerajaan-kerajaan yang ada di
kawasan Teluk Persia. Turki yang berbudaya Turki dan Iran yang berbudaya Persia
tidak dianggap berkebudayaan Arab karena memiliki kebudayaan sendiri-sendiri
demikian juga Mesir yang sudah memiliki budaya Firaun, sedangkan yang masuk
kawasan kebudayaan Arab terdiri dari Timur Tengah Afrika Utara seperti Maroko,
Aljazair, Tunisia dan Libia. yang menurut Haekal antara budaya dan peradaban
tersebut tidak pernah saling mempengaruhi perkembangannya kecuali setelah
adanya akulturasi dan asimilasi dengan peradaban Islam.
Orang-orang arab sebelum islam telah mengalami periode-periode
kemajuan dengan adanya kerajaan-kerajaan sehingga hasil budaya mereka didapati
beberapa bekasnya yang dapat di bagi kepada :
1.
Budaya
materil yang sangat terkenal adalah: bendungan Ma'rib di Yaman dari kerajaan
saba dan begitu juga bekas-bekas kerajaan Tsamud, Aad dan kaum Amalika.
2.
Budaya
non material, sangat banyak juga yang terkenal, di antaranya, syair-syair bangsa
arab yang terkenal dengan cerita-cerita tentang keturunan dan keahlian dalam
membuat patung, keahlian mereka dalam bersyair sebenarnya karena mereka dapat
mengetahui bangsa yang halus dan menarik dengan bahasa yang indah mereka dapat
mewariskan amtsal (pepatah arab) dan pepatah itu merupakan kata-kata orang
bijak seperti Luqman.
Di samping budaya yang didapat dari bangsa Arab sebelum Islam,
mereka terkenal terikat dengan Tahayul dan adat istiadat yang melembaga
diturunkan turun temurun. Tahayul dan adat istiadat ini bertumpu kepada
kepercayaan Watsaniyah. Mereka percaya hantu dan Roh jahat. Mereka juga percaya
kepada kahin (tukang tenun, ramal). Mereka juga meyakini kejadian-kejadian alam
yang halus. Misalnya, kalau terjadi sesat di jalan, hendaklah dibalikkan baju
supaya dapat petunjuk.
Meskipun belum terdapat sistem pendidikan, masyarakat Arabia pada
saat itu tidak mengabaikan kemajuan kebudayaan. Mereka sangat terkenal
kemahirannya dalam bidang sastra yaitu bahasa dan syair. Bahasa mereka sangat
kaya sebanding dengan bahasa Eropa sekarang ini. Keistimewaan bangsa Arabia di
bidang bahasa merupakan kontribusi mereka yang cukup penting terhadap
perkembangan dan penyebaran agama Islam.
Peradaban Arab
Peradaban Arab adalah akibat pengaruh dari budaya bangsa-bangsa di
sekitarnya yang lebih maju daripada kebudayaan dan peradaban Arab. Pengaruh
tersebut masuk ke Jazirah Arab melalui beberapa jalur, yang terpenting di
antaranya adalah :
1.
Melalui
hubungan dagang dengan bangsa lain
2.
Melalui
kerajaan-kerajaan protektorat, Hirah dan Ghassan
3.
Masuknya
misi Yahudi dan Kristen
2.2.
Bangsa Arab Baidah dan Macam-Macamnya
Bangsa
Arab Ba’idah adalah Bangsa Arab yang kini sudah punah. Di antaranya adalah
‘Aad, Tsamud, Thasm, Jadis, Ashab ar-Rass, dan penduduk Madyan. kemusnahan kaum
Tsamud, Ad, dan Madyan dijelaskan di dalam kitab suci Al qur’an.kaum Ad tinggal
di Hadramaut, kaum Tsamud tinggal di daerah Al A’la sebuah kawasan antara
Madinah dan Tabuk, sedangkan kaum Madyan tinggal di barat laut wilayah Jazirah
Arab (Wilayah Tabuk dan selatan Yordania).
kaum Ad berada
di wilayah yang subur, maka dari itu kebanyakan dari mereka bercocok tanam,
mereka pun gemar membangun bangunan mewah. Kaum Tsamud sendiri datang setelah
kaum Ad musnah. sementara itu dalam kitab suci pun dijelaskan bahwa nasib kaum
Tsamud, dan Madyan tidak jauh berbeda dengan kaum Ad yang lenyap dimusnahkan
oleh Tuhan.[1]
Sejak
dahulu kala, orang Arab memang telah terkenal ahli dalam berdagang terutama
mereka yang berada di wilayah Arab Selatan. Arab Selatan memiliki hubungan dagang yang sangat luas dengan
berbagai kerajaan, hal ini dikarenakan wilayah ini berhadapan langsung dengan
Samudra Indonesia sehingga memudahkan mereka untuk melangsungkan praktek
perdagangan dengan kerajaan kerajaan disekelilingnya terutama Mesir. Daya tarik
utama Arab Selatan bagi orang-orang Mesir adalah Pohon Gaharu, yang bernilai
sangat tinggi, digunakan untuk acara ritual dan pembungkusan mumi.
Meskipun
wilayah Semenanjung Arab dihimpit oleh tiga wilayah yang berkebudayaan tinggi yakni
Mesir, Babilonia, dan Punjab, namun sedikit sekali kemungkinan wilayah ini
terpengaruh oleh kebudayaan Mesir, Babilonia, ataupun Punjab. Budaya Arab
termasuk kedalam budaya maritim. Masyarakatnya disebelah tenggara kemungkinan
menjadi penghubung antara Mesir, Mesopotamia, dan Punjab, tiga pusat utama
perdagangan paling awal.
Agama
di Arab Selatan pada dasarnya adalah sebuah system perbintangan yang memuja dan
menyembah dewa bulan. Bulan dianggap dewa laki laki yang kedudukannya lebih
tinggi dari matahari. Tuhan orang arab utara
Al-Lat yang disebutkan dalam Al Qur’an
mungkin nama lain dari dewa matahari.
Bahasa Bangsa Arab Baidah
Bahasa Arab Baidah bisa juga disebut dengan Arabiyah al-Nuqusy,
karena informasi tentang bahasa ini hanya diperoleh melalui tulisan pada
lempengan batu. Bahasa Arab Baidah dituturkan oleh orang Arab yang berdomisili
di sebelah utara Hijaz yang berdekatan dengan bangsa Aramiah dengan
masing-masing dialeknya.
Adapun dialek yang digunakan terdiri dari tiga yaitu;
1.
Lihyaniyah
yaitu dialek yang dinisbahkan dari nama kabilah atau suku Lihyan yang tinggal
dibagian utara daerah Hijaz beberapa abad sebelum masehi. Sayang informasi yang
akurat tentang kabilah ini belum bisa terditeksi oleh sejarah
2.
Samudiyah
yaitu dialek yang dinisbahkan dari nama kabilah atau suku Samud sebagaimana
yang kisahkan di dalam al-Qur'an al-Karim secara ringkas. Suku ini diperkirakan
mendiami wilayah antara Hijaz dan Nejed dekat Damaskus, prasastinya dalam
bahasa Samud kira-kira abad ketiga dan keempat masehi.
3.
Safawiyah,
adapun informasi tentang suku ini juga diperoleh melalui prasasti yang
penulisannya diperkirakan antara abad ketiga dan keenam masehi.
Demikianlah ketiga dialek tersebut yang termasuk bagian dari bahasa
Arab Baidah. Karena adanya saling interaksi para penutur bahasa, maka bahasa
Arab Baidah mempunyai kemiripan dengan bahasa Aramiyah juga mempunyai kemiripan
dengan bahasa Arab, dan aksara yang mereka gunakan adalah Numar, zabat dan
Hauran. Semua yang termasuk dalam kategori Arab Baidah ini lenyap oleh dominasi
Arab Baqiyah.
Nabi-nabi
Allah yang diutus kepada Arab Baidah adalah sebagai berikut.
1.
Nabi
Hud a.s.
Allah
mengutusnya kepada kaum ‘Aad yang tak lain adalah bangsa Arab. Mereka tinggal
di kawasan Ahqaaf (kini Hadhramaut). Mereka adalah kabilah pertama yang me-nyembah
berhala setelah terjadinya topan di masa Nabi Nuh. Mereka adalah orang-orang
yang berfisik sangat kuat dan mcmiliki harta yang sangat banyak dan melimpah.
Mereka mcmbangun bangunan-bangunan megah dan bercocok tanam.
Mereka
melanggar perintah Tuhannya. Kemudian Allah mengutus Hud sebagai Nabi dari
kalangan mereka sendiri. Namun, mereka mendustakannya.
Mereka
bertambah banyak dan bertebaran di berbagai tempat. Sampai-sampai Qahthanbin
‘Aad dan anak-anaknya Menyebar di Yaman yang kemudian dikenal dengan ‘Aad II.
Mereka terus tenggelam dalam keingkaran hingga akhirnya Allah menghancurkan
mereka.
2.
Nabi
Saleh a.s.
Allah
mengutusnya sebagai Rasul kepada kabilah Tsamud yang berdiam di kawasan
al-‘Ala, sebuah kawasan yang berada antara Madinah dan Tabuk. Mereka adalah
kaum yang datang setelah kaum ‘Aad binasa. Mereka adalah orang-orang Arab
sebagaimana kaum ‘Aad dan menyembah berhala-berhala.
Allah mengutus
kepada mereka Nabi-Nya yang bernama Saleh untuk menyeru mereka kepada tauhid.
Namun, mereka menolak ajakan itu. Dengan penuh sinis mereka meminta kepada
Saleh agar mengeluarkan unta dari sebuah bukit. Ternyata Allah memenuhi
permintaan Saleh sebagai mukjizat baginya.
Namun demikian,
alih-alih beriman, mereka malah terus tenggelam di dalam kekufuran. Mereka pun
membunuh unta itu. Setelah tiga hari datanglah kepada mereka suara keras dari
langit dan satu hentakan yang hebat dari bawah hingga binasalah mereka.
3.
Nabi
Syu’aib a.s.
Allah
mengutusnya kepada penduduk Madyan (penduduk Aykah). Mereka tinggal di wilayah
barat laut Jazirah Arab (di wilayah Tabuk dan selatan Yordania). Mereka adalah
orang-orang yang selalu melakukan kerusakan dan dikenal sebagai perampok
jalanan. Selain itu juga, dikenal sebagai orang-orang yang mengurangi
timbangan, dan penyembah pohon besar yang berada di tengah-tengah Aykah. Maka,
dikenalah mereka dengan sebutan orang-orang Aykah. Mereka terus tenggelam dalam
pendustaan. Maka, Allah menyiksa mereka dengan suara yang mengguntur dan
sebagian yang lain dengan awan yang turun.
2.3.
Bangsa Arab Baqiyah dan Macam-Macamnya
Para ahli sejarah membedakan bangsa Arab Bâqiyah menjadi dua, yaitu
Arab Aribah atau Arab Qahtâniyah dan Arab Musta′rabah atau Muta′arribah atau
Adnâniyah.
1.
Arab
Aribah atau Qahtâniyah
Arab
Aribah atau Qahtâniyah adalah keturunan dari Qahtân yang di dalam Taurat
disebut Yaqzan. Mereka mendiami wilayah Yaman. Kabilah-kabilah Arab Aribah ini
antara lain adalah kabilah Jurhum, Kahlan, dan Himyar. Menurut catatan sejarah,
mereka pernah mendirikan kerajaan-kerajaan besar yang melahirkan kebudayaan dan
peradaban tinggi pada zamannya.
2.
Arab
Musta′rabah atau Muta′arribah
Arab
Musta′rabah atau Muta′arribah adalah keturunan Nabi Ismâ′îl AS. Mereka mendiami
kawasan Hijaz. Disebut Musta′rabah atau Muta′arribah karena nenek moyang mereka
yang pertama, Nabi Ismâ′îl AS, tidak berbahasa asli Arab, melainkan berbahasa
Ibrani atau Suryani. Setelah menikah dengan wanita dari Kabilah Jurhum, Nabi
Ismâ′îl AS mengenal bahasa Arab. Kemudian mereka disebut pula Adnâniyah karena
salah seorang dari keturunan Nabi Ismâ′îl AS ada yang bernama Adnân. Bangsa
Arab menghuni kawasan yang oleh Barat disebut Middle East atau Timur Tengah
atau as Syarq al Awsath. Dalam literatur Arab klasik disebut semenanjung atau
Jazirah Arab (Syibh al Jazîrat al ″Arabiyyah), di mana batasnya menurut ijmâ′
para ′ulamâ′ adalah daerah yang dimulai dari Abadan, terus melewati pantai, ke
pantai Yaman, terus ke Jeddah, lalu ke Qalzum (Laut Merah). Dari Qalzum
melewati padang sahara terus ke perbatasan Iraq.(Gus Arifin, Samsul Hadi Karim).
Bahasa Bangsa Arab Baqiyah[2]
Bahasa Arab Baqiyah adalah bahasa yang dipergunakan secara mutlak
oleh bangsa Arab (orang-orang Arab) baik dalam tulisan, karangan kesusastraan
dan sebagainya, seperti yang ada sekarang ini. Dan secara langsung dapat kita
saksikan dalam al-Qur'an dan al-Hadits. Bahasa Arab Baqiyah ini tumbuh dan
berkembang di negeri Nejed dan Hijaz. Kemudian tersebar luas ke sebagian besar
negeri Semit dan Hamit. Dari sinilah timbul dialek. Dialek yang dipergunakan di
masa kini di negeri Hijas, Nejed, Yaman dan daerah sekitarnya seperti Emirat
arab, Palestina, Yordania, Syiria, Libanon, Irak, Kuait, Mesir, Sudan, Libia,
al-Jazair, dan Maroko.
Bahasa Arab Baqiyah terbagi menjadi dua bagian, yaitu:
1.
Bahasa
Arab Aribah, mereka itu berasal dari Qahtan. Bani qathan dengan dua suku
induknya, Kahlan dan Himyar mendirikan Himyar dan Tababi'at. Disebut dalam
al-Qur'an "Tabba". Selain itu mereka pulalah mendirikan kerajaan
Saba' kira-kira abad ke- 8 SM. Bani Qahtan inilah yang memerintah semenanjung
Arabiyah sesudah al-Arab al-Baidah.
2.
Bahasa
Arab Mustaribah keturunan nabi Ismail, mereka kemudian terkenal dengan nama
"bani Adnan", suku inilah yang merebut kekuasaan bani Qahtan. Bani
Adnan tingal di Hijaz, Nejed dan Tihamah. Bani ini mempunyai empat suku induk
yaitu Rabi'ah, Mudhar, Iyad dan Anmar. Dari kabilah Adhan ini lahirlah beberapa
kabilah, di antaranya Lahillah, kabila bani Kinanah yang selanjutnya melahirkan
kabilah Quraisy. Setelah seluruh semenanjung Arabiyah tunduk di bawah kekuasaan
Islam, barulah pasukan Islam mencoba melakukan ekspansi ke daerah-daerah diluar
dan dimulai pada zaman khalifah pertama Abu Bakar Assidiq dan diteruskan khalifah berikutnya. Mereka
menaklukkan Syiriya (Syam) Irak, Mesir, Sudan, Maroko, (Maghribi), Damaskus dan Palestina, semenjak
itu bahasa Arab menjadi bahasa resmi di daerah itu.
Tersebarnya bahasa Arab Baqiyah tidak lepas dari pengaruh dan
perang Islam pada saat itu yang
melakukan perluasan wilayah. Tunduknya wilayah tersebut memungkinkan bahasa
Arab Baqiyah dipelajari, apalagi bagi kaum muslimin yang inti ajarannya ditulis
dengan bahasa Arab (al-Qur'an). Fakta inilah yang menyebabkan bahasa Arab
Baqiyah bertahan sampai sekarang. Melacak historis bahasa Arab Baqiyah kapan
munculnya tidak diketahui secara pasti karena data yang menjelaskan hal itu
baik tulisan-tulisan prasasti ataupun dalam bentuk lain tidak ada. Peninggalan
yang menjelaskan keberadaan bahasa Arab Baqiyah yaitu adab jahiliah ini berupa
peninggalan sastra yang berasal dari sekelompok penyair-penyair masa jahiliah
beserta pula cendikiawan (hukama) dan orator-oratornya. Tetapi peninggalan itu
tidak dikumpulkan dan ditulis kecuali pada abad-abad pertama Islam. Menurut
para ahli, bahasa Arab tumbuh dan berkembang pada abad ke 5 masehi. Hal ini
terjadi karena kebiasaan orang-orang Arab lebih mengandalkan hafalannya, dan
keterampilan menulis belum menjadi tradisi.
Setelah datangnya Islam bahasa Arab berkembang terus dan baru
mengalami kemunduran sampai dengan jatuhnya kota Bagdad ketangan bangsa Tartar
di bawah pimpinan cucu Khulagu Khan pada tahun 1258 M. kemudian bahasa
menemukan jati dirinya kembali setelah masa kejayaan bangsa-bangsa Turki sampai
datangnya masa Arab Modern pada abad ke 19 Masehi.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
-
Jazirah
arab diapit oleh dua kerajaan besar yaitu Romawi Timur di sebelah barat sampai
ke laut Adriatik dan Persia di sebelah timur sampai ke sungai Dijlah.
-
Pada
masyarakat arab pra Islam sudah banyak ditemukan tata cara pengaturan dalam
aktivitas kehidupan sosial yang dapat dibagi pada beberapa sistem-sistem yang
ada di masyarakat, salah satunya adalah system politiknya. Pada garis besarnya
penduduk jazirah dapat dibagi berdasarkan teritorial kepada dua bagian yaitu: Penduduk
kota (al-hadharah) dan Penduduk pedalaman yang mengembara dari satu tempat ke
tempat lain.
-
Peradaban
Arab adalah akibat pengaruh dari budaya bangsa-bangsa di sekitarnya yang lebih
maju daripada kebudayaan dan peradaban Arab. Pengaruh tersebut masuk ke Jazirah
Arab melalui beberapa jalur.
-
Bangsa
Arab Ba’idah adalah Bangsa Arab yang kini sudah punah. Di antaranya adalah
‘Aad, Tsamud, Thasm, Jadis, Ashab ar-Rass, dan penduduk Madyan. kemusnahan kaum
Tsamud, Ad, dan Madyan dijelaskan di dalam kitab suci Al qur’an.kaum Ad tinggal
di Hadramaut, kaum Tsamud tinggal di daerah Al A’la sebuah kawasan antara
Madinah dan Tabuk, sedangkan kaum Madyan tinggal di barat laut wilayah Jazirah
Arab (Wilayah Tabuk dan selatan Yordania). Adapun dialek yang digunakan terdiri
dari tiga yaitu; Lihyaniyah, Samudiyah, Syafawiyah.
-
Bahasa
Arab Baqiyah adalah bahasa yang dipergunakan secara mutlak oleh bangsa Arab
(orang-orang Arab) baik dalam tulisan, karangan kesusastraan dan sebagainya,
seperti yang ada sekarang ini. Bahasa Arab Baqiyah terbagi menjadi dua bagian,
yaitu; Aribah dan Musta’ribah.


Komentar
Posting Komentar