BAHASA KABILAH - KABILAH ARAB


BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Bahasa adalah realitas yang tumbuh berkembang sesuai dengan tumbuh kembangnya manusia pengguna bahasa itu. Realitas bahasa dalam kehidupan ini semakin menambah kuatnya eksistensi manusia sebagai makhluk berbudaya dan beragama. Kekuatan eksistensi manusia sebagai makhluk berbudaya dan beragama antara lain ditunjukkan oleh kemampuannya memproduksi karya-karya besar berupa sains, teknologi, dan seni yang tidak terlepas dari peran-peran bahasa yang digunakannya. Namun dalam konteks lain, bahasa bisa dijadikan alat propaganda, bahkan peperangan yang bisa membahayakan sesama jika pengguna bahasa tidak lagi melihat rambu- rambu agama dan kemanusiaan dalam penggunaannya.
Bahasa pula dapat diartikan sebagai sistem suara yang terdiri atas simbol-simbol arbitrer  yang digunakan oleh sesorang atau sekelompok orang untuk bertukar pikiran atau berbagi rasa,dan bahasa adalah sistem yang terbentuk oleh simbol–simbol, diusahakan, dan dapat berubah untuk mengekspresikan tujuan pribadi atau komunikasi antarindividu. Bahasa itu sebagaimana masyarakat pemakai bahasa tersebut, bahasa itu tumbuh, berkembang, dan akhirnya mati (punah). Syekh Ahmad al-Iskandari dan Mustafa Inany telah mengungkapkan hal tersebut bahwa bahasa ‘Ad dan Samud dan lain sebagainya telah lenyap, berita mereka hanya dapat diketahui lewat pemberitaan al-Qur’an dan hadis Rasulullah saw. Bahasa Arab itu sendiri adalah salah satu bahasa Samiyah yakni bahasa Arab kuno, wilayah tempat tinggal mereka di Jazirah Arab. Bahasa Samiyah ini terdiri dari beberapa bahasa yang digunakan oleh anak-anak (keturunan) Sam bin Nuh, sedang bahasa Sam sendiri sudah tidak diketahui lagi.
Dengan demikian, Tulisan ini akan mendeskripsikan “Bahasa Kabilah-Kabilah Arab. Semoga bermanfaat. Amiin.

1.2.   Rumusan Masalah
1.Apa pengertian dari bangsa arab?
2.Apa pengertian dari bangsa arab baidah dan macam-macamnya?
3.Apa pengertian dari bangsa arab baqiyah dan macam-macamnya?


BAB II
PEMBAHASAN
2.1.  Bangsa Arab

Letak Geografis
Jazirah arab diapit oleh dua kerajaan besar yaitu Romawi Timur di sebelah barat sampai ke laut Adriatik dan Persia di sebelah timur sampai ke sungai Dijlah. Kedua kerajaan besar itu disebut hegemoni di wilayah sekitar Timur Tengah. Sebenarnya Jazirah Arab bebas dari pengaruh kedua kerajaan tersebut, kecuali daerah-daerah subur seperti: Yaman dan daerah-daerah sekitar teluk Persia. Wilayah jazirah arab di teluk Persia termaksud daerah kekuasaan kerajaan Persia. Dengan demikian daerah hijau bebas dari pengaruh-pengaruh politik dan budaya dari luar. Islam yang dasar-dasarnya diletakkan oleh Nabi Saw di Mekkah dan di Madinah adalah agama yang murni, tidak dipengaruhi baik oleh perkembangan agama-agama yang ada di sekitarnya maupun kekuasaan politik yang meliputinya.
Jazirah Arab berbentuk empat persegi panjang, yang sisinya tidak sejajar. Di sebelah barat terbatas dengan lautan merah, di sebelah selatan dengan laut arab, di sebelah timur dengan teluk arab (Persia) dan di sebelah utara dengan gurun pasir Irak dan Syiria. Kemudian Jazirah Arab ini terbagi kepada bagian tengah yang terdiri dari padang pasir dan gurun-gurun yang jarang penduduknya dan bahagian tepi merupakan sebuah kota kecil yang melingkari bagian tengah dan subur daerahnya dan banyak kota yang ada seperti: Bahrain, Oman. Bagian tengah, terbagi kepada bagian utara di sebut dengan Nejed dan bagian selatan di sebut dengan al-Ahkaf yang jarang penduduknya karena itu disebut dengan al-Rub al-Khalli.
Bangsa Arab mempunyai akar panjang dalam sejarah, mereka termasuk ras atau rumpun bangsa Caucasoid, dalam Subras Mediteranian yang anggotanya meliputi wilayah sekitar Laut Tengah, Afrika Utara, Armenia, Arabiyah dan Irania. Bangsa arab hidup berpindah-pindah, nomad, karena tanahnya terdiri atas gurun pasir yang kering dan sangat sedikit turun hujan. Perpindahan mereka dari satu tempat ke tempat yang lainnya mengikuti tumbuhnya stepa (padang rumput) yang tumbuh secara sporadic di tanah arab di sekitar oasis atau genangan air setelah turun hujan. Bila dilihat dari asal-usul keturunan, penduduk jazirah arab dapat dibagi menjadi dua golongan besar, yaitu: Qathaniyun (keturunan Qathan) dan ‘Adaniyun (keturuan Ismail ibnu Ibrahim as).

Sistem Politik/Pemerintahan Bangsa Arab
Pada masyarakat arab pra Islam sudah banyak ditemukan tata cara pengaturan dalam aktivitas kehidupan sosial yang dapat dibagi pada beberapa sistem-sistem yang ada di masyarakat, salah satunya adalah system politiknya. Pada garis besarnya penduduk jazirah dapat dibagi berdasarkan teritorial kepada dua bagian yaitu:
1.      Penduduk kota (al-hadharah) yang tinggal di kota perniagaan jazirah Arabia, seperti Mekkah, Madinah. Kota Mekkah merupakan kota penghubung perniagaan Utara dan selatan, para pedagang dengan khalifah-khalifah yang berani membeli barang dagangan dari India dan Cina di Yaman dan menjualnya ke Syiria di Utara.
2.      Penduduk pedalaman yang mengembara dari satu tempat ke tempat lain. Cara mereka hidup adalah nomaden, berpindah dari suatu daerah ke daerah lain, mereka tidak mempunyai perkampungan yang tetap dan mata pencaharian yang tepat bagi mereka adalah memelihara ternak, domba dan unta.
Kehidupan Keagamaan Masyarakat Arab
Sebelum Islam penduduk Arab menganut agama yang bermacam-macam, dan Jazirah Arab telah dihuni oleh beberapa ideologi, keyakinan keagamaan. Bangsa Arab sebelum Islam telah menganut agama yang mengakui Allah sebagai tuhan mereka. Kepercayaan ini diwarisi turun temurun sejak nabi Ibrahim as dan Ismail as. al-Qur’an menyebut agama itu dengan Hanif, yaitu kepercayaan yang mengakui keesaan Allah sebagai pencipta alam, Tuhan menghidupkan dan mematikan, Tuhan yang memberi rezeki dan sebagainya. Kepercayaan yang menyimpang dari agama yang hanif disebut dengan Watsniyah, yaitu agama yang mempersyarikatkan Allah dengan mengadakan penyembahan kepada berhala.
Kebudayaan Arab
Wilayah Timur Tengah menurut Ali Mufrodi meliputi Turki, Iran, Israel, Libanon, Yordania, Syiria, Mesir dan kerajaan-kerajaan yang ada di kawasan Teluk Persia. Turki yang berbudaya Turki dan Iran yang berbudaya Persia tidak dianggap berkebudayaan Arab karena memiliki kebudayaan sendiri-sendiri demikian juga Mesir yang sudah memiliki budaya Firaun, sedangkan yang masuk kawasan kebudayaan Arab terdiri dari Timur Tengah Afrika Utara seperti Maroko, Aljazair, Tunisia dan Libia. yang menurut Haekal antara budaya dan peradaban tersebut tidak pernah saling mempengaruhi perkembangannya kecuali setelah adanya akulturasi dan asimilasi dengan peradaban Islam.
Orang-orang arab sebelum islam telah mengalami periode-periode kemajuan dengan adanya kerajaan-kerajaan sehingga hasil budaya mereka didapati beberapa bekasnya yang dapat di bagi kepada :
1.      Budaya materil yang sangat terkenal adalah: bendungan Ma'rib di Yaman dari kerajaan saba dan begitu juga bekas-bekas kerajaan Tsamud, Aad dan kaum Amalika.
2.      Budaya non material, sangat banyak juga yang terkenal, di antaranya, syair-syair bangsa arab yang terkenal dengan cerita-cerita tentang keturunan dan keahlian dalam membuat patung, keahlian mereka dalam bersyair sebenarnya karena mereka dapat mengetahui bangsa yang halus dan menarik dengan bahasa yang indah mereka dapat mewariskan amtsal (pepatah arab) dan pepatah itu merupakan kata-kata orang bijak seperti Luqman.
Di samping budaya yang didapat dari bangsa Arab sebelum Islam, mereka terkenal terikat dengan Tahayul dan adat istiadat yang melembaga diturunkan turun temurun. Tahayul dan adat istiadat ini bertumpu kepada kepercayaan Watsaniyah. Mereka percaya hantu dan Roh jahat. Mereka juga percaya kepada kahin (tukang tenun, ramal). Mereka juga meyakini kejadian-kejadian alam yang halus. Misalnya, kalau terjadi sesat di jalan, hendaklah dibalikkan baju supaya dapat petunjuk.
Meskipun belum terdapat sistem pendidikan, masyarakat Arabia pada saat itu tidak mengabaikan kemajuan kebudayaan. Mereka sangat terkenal kemahirannya dalam bidang sastra yaitu bahasa dan syair. Bahasa mereka sangat kaya sebanding dengan bahasa Eropa sekarang ini. Keistimewaan bangsa Arabia di bidang bahasa merupakan kontribusi mereka yang cukup penting terhadap perkembangan dan penyebaran agama Islam.
Peradaban Arab
Peradaban Arab adalah akibat pengaruh dari budaya bangsa-bangsa di sekitarnya yang lebih maju daripada kebudayaan dan peradaban Arab. Pengaruh tersebut masuk ke Jazirah Arab melalui beberapa jalur, yang terpenting di antaranya adalah :
1.      Melalui hubungan dagang dengan bangsa lain
2.      Melalui kerajaan-kerajaan protektorat, Hirah dan Ghassan
3.      Masuknya misi Yahudi dan Kristen

2.2.  Bangsa Arab Baidah dan Macam-Macamnya
Bangsa Arab Ba’idah adalah Bangsa Arab yang kini sudah punah. Di antaranya adalah ‘Aad, Tsamud, Thasm, Jadis, Ashab ar-Rass, dan penduduk Madyan. kemusnahan kaum Tsamud, Ad, dan Madyan dijelaskan di dalam kitab suci Al qur’an.kaum Ad tinggal di Hadramaut, kaum Tsamud tinggal di daerah Al A’la sebuah kawasan antara Madinah dan Tabuk, sedangkan kaum Madyan tinggal di barat laut wilayah Jazirah Arab (Wilayah Tabuk dan selatan Yordania).
kaum Ad berada di wilayah yang subur, maka dari itu kebanyakan dari mereka bercocok tanam, mereka pun gemar membangun bangunan mewah. Kaum Tsamud sendiri datang setelah kaum Ad musnah. sementara itu dalam kitab suci pun dijelaskan bahwa nasib kaum Tsamud, dan Madyan tidak jauh berbeda dengan kaum Ad yang lenyap dimusnahkan oleh Tuhan.[1]
Sejak dahulu kala, orang Arab memang telah terkenal ahli dalam berdagang terutama mereka yang berada di wilayah Arab Selatan. Arab Selatan memiliki  hubungan dagang yang sangat luas dengan berbagai kerajaan, hal ini dikarenakan wilayah ini berhadapan langsung dengan Samudra Indonesia sehingga memudahkan mereka untuk melangsungkan praktek perdagangan dengan kerajaan kerajaan disekelilingnya terutama Mesir. Daya tarik utama Arab Selatan bagi orang-orang Mesir adalah Pohon Gaharu, yang bernilai sangat tinggi, digunakan untuk acara ritual dan pembungkusan mumi.
Meskipun wilayah Semenanjung Arab dihimpit oleh tiga wilayah yang berkebudayaan tinggi yakni Mesir, Babilonia, dan Punjab, namun sedikit sekali kemungkinan wilayah ini terpengaruh oleh kebudayaan Mesir, Babilonia, ataupun Punjab. Budaya Arab termasuk kedalam budaya maritim. Masyarakatnya disebelah tenggara kemungkinan menjadi penghubung antara Mesir, Mesopotamia, dan Punjab, tiga pusat utama perdagangan paling awal.
Agama di Arab Selatan pada dasarnya adalah sebuah system perbintangan yang memuja dan menyembah dewa bulan. Bulan dianggap dewa laki laki yang kedudukannya lebih tinggi dari matahari. Tuhan orang arab utara  Al-Lat yang disebutkan dalam Al Qur’an  mungkin nama lain dari dewa matahari.


Bahasa Bangsa Arab Baidah
Bahasa Arab Baidah bisa juga disebut dengan Arabiyah al-Nuqusy, karena informasi tentang bahasa ini hanya diperoleh melalui tulisan pada lempengan batu. Bahasa Arab Baidah dituturkan oleh orang Arab yang berdomisili di sebelah utara Hijaz yang berdekatan dengan bangsa Aramiah dengan masing-masing dialeknya.
Adapun dialek yang digunakan terdiri dari tiga yaitu;
1.      Lihyaniyah yaitu dialek yang dinisbahkan dari nama kabilah atau suku Lihyan yang tinggal dibagian utara daerah Hijaz beberapa abad sebelum masehi. Sayang informasi yang akurat tentang kabilah ini belum bisa terditeksi oleh sejarah
2.      Samudiyah yaitu dialek yang dinisbahkan dari nama kabilah atau suku Samud sebagaimana yang kisahkan di dalam al-Qur'an al-Karim secara ringkas. Suku ini diperkirakan mendiami wilayah antara Hijaz dan Nejed dekat Damaskus, prasastinya dalam bahasa Samud kira-kira abad ketiga dan keempat masehi.
3.      Safawiyah, adapun informasi tentang suku ini juga diperoleh melalui prasasti yang penulisannya diperkirakan antara abad ketiga dan keenam masehi.
Demikianlah ketiga dialek tersebut yang termasuk bagian dari bahasa Arab Baidah. Karena adanya saling interaksi para penutur bahasa, maka bahasa Arab Baidah mempunyai kemiripan dengan bahasa Aramiyah juga mempunyai kemiripan dengan bahasa Arab, dan aksara yang mereka gunakan adalah Numar, zabat dan Hauran. Semua yang termasuk dalam kategori Arab Baidah ini lenyap oleh dominasi Arab Baqiyah.
Nabi-nabi Allah yang diutus kepada Arab Baidah adalah sebagai berikut.
1.      Nabi Hud a.s.
Allah mengutusnya kepada kaum ‘Aad yang tak lain adalah bangsa Arab. Mereka tinggal di kawasan Ahqaaf (kini Hadhramaut). Mereka adalah kabilah pertama yang me-nyembah berhala setelah terjadinya topan di masa Nabi Nuh. Mereka adalah orang-orang yang berfisik sangat kuat dan mcmiliki harta yang sangat banyak dan melimpah. Mereka mcmbangun bangunan-bangunan megah dan bercocok tanam.
Mereka melanggar perintah Tuhannya. Kemudian Allah mengutus Hud sebagai Nabi dari kalangan mereka sendiri. Namun, mereka mendustakannya.
Mereka bertambah banyak dan bertebaran di berbagai tempat. Sampai-sampai Qahthanbin ‘Aad dan anak-anaknya Menyebar di Yaman yang kemudian dikenal dengan ‘Aad II. Mereka terus tenggelam dalam keingkaran hingga akhirnya Allah menghancurkan mereka.
2.      Nabi Saleh a.s.
Allah mengutusnya sebagai Rasul kepada kabilah Tsamud yang berdiam di kawasan al-‘Ala, sebuah kawasan yang berada antara Madinah dan Tabuk. Mereka adalah kaum yang datang setelah kaum ‘Aad binasa. Mereka adalah orang-orang Arab sebagaimana kaum ‘Aad dan menyembah berhala-berhala.
Allah mengutus kepada mereka Nabi-Nya yang bernama Saleh untuk menyeru mereka kepada tauhid. Namun, mereka menolak ajakan itu. Dengan penuh sinis mereka meminta kepada Saleh agar mengeluarkan unta dari sebuah bukit. Ternyata Allah memenuhi permintaan Saleh sebagai mukjizat baginya.
Namun demikian, alih-alih beriman, mereka malah terus tenggelam di dalam kekufuran. Mereka pun membunuh unta itu. Setelah tiga hari datanglah kepada mereka suara keras dari langit dan satu hentakan yang hebat dari bawah hingga binasalah mereka.
3.      Nabi Syu’aib a.s.
Allah mengutusnya kepada penduduk Madyan (penduduk Aykah). Mereka tinggal di wilayah barat laut Jazirah Arab (di wilayah Tabuk dan selatan Yordania). Mereka adalah orang-orang yang selalu melakukan kerusakan dan dikenal sebagai perampok jalanan. Selain itu juga, dikenal sebagai orang-orang yang mengurangi timbangan, dan penyembah pohon besar yang berada di tengah-tengah Aykah. Maka, dikenalah mereka dengan sebutan orang-orang Aykah. Mereka terus tenggelam dalam pendustaan. Maka, Allah menyiksa mereka dengan suara yang mengguntur dan sebagian yang lain dengan awan yang turun.

2.3. Bangsa Arab Baqiyah dan Macam-Macamnya
Para ahli sejarah membedakan bangsa Arab Bâqiyah menjadi dua, yaitu Arab Aribah atau Arab Qahtâniyah dan Arab Musta′rabah atau Muta′arribah atau Adnâniyah.
1.      Arab Aribah atau Qahtâniyah
Arab Aribah atau Qahtâniyah adalah keturunan dari Qahtân yang di dalam Taurat disebut Yaqzan. Mereka mendiami wilayah Yaman. Kabilah-kabilah Arab Aribah ini antara lain adalah kabilah Jurhum, Kahlan, dan Himyar. Menurut catatan sejarah, mereka pernah mendirikan kerajaan-kerajaan besar yang melahirkan kebudayaan dan peradaban tinggi pada zamannya.
2.      Arab Musta′rabah atau Muta′arribah
Arab Musta′rabah atau Muta′arribah adalah keturunan Nabi Ismâ′îl AS. Mereka mendiami kawasan Hijaz. Disebut Musta′rabah atau Muta′arribah karena nenek moyang mereka yang pertama, Nabi Ismâ′îl AS, tidak berbahasa asli Arab, melainkan berbahasa Ibrani atau Suryani. Setelah menikah dengan wanita dari Kabilah Jurhum, Nabi Ismâ′îl AS mengenal bahasa Arab. Kemudian mereka disebut pula Adnâniyah karena salah seorang dari keturunan Nabi Ismâ′îl AS ada yang bernama Adnân. Bangsa Arab menghuni kawasan yang oleh Barat disebut Middle East atau Timur Tengah atau as Syarq al Awsath. Dalam literatur Arab klasik disebut semenanjung atau Jazirah Arab (Syibh al Jazîrat al ″Arabiyyah), di mana batasnya menurut ijmâ′ para ′ulamâ′ adalah daerah yang dimulai dari Abadan, terus melewati pantai, ke pantai Yaman, terus ke Jeddah, lalu ke Qalzum (Laut Merah). Dari Qalzum melewati padang sahara terus ke perbatasan Iraq.(Gus Arifin, Samsul Hadi Karim).
Bahasa Bangsa Arab Baqiyah[2]
Bahasa Arab Baqiyah adalah bahasa yang dipergunakan secara mutlak oleh bangsa Arab (orang-orang Arab) baik dalam tulisan, karangan kesusastraan dan sebagainya, seperti yang ada sekarang ini. Dan secara langsung dapat kita saksikan dalam al-Qur'an dan al-Hadits. Bahasa Arab Baqiyah ini tumbuh dan berkembang di negeri Nejed dan Hijaz. Kemudian tersebar luas ke sebagian besar negeri Semit dan Hamit. Dari sinilah timbul dialek. Dialek yang dipergunakan di masa kini di negeri Hijas, Nejed, Yaman dan daerah sekitarnya seperti Emirat arab, Palestina, Yordania, Syiria, Libanon, Irak, Kuait, Mesir, Sudan, Libia, al-Jazair, dan Maroko.
Bahasa Arab Baqiyah terbagi menjadi dua bagian, yaitu:
1.      Bahasa Arab Aribah, mereka itu berasal dari Qahtan. Bani qathan dengan dua suku induknya, Kahlan dan Himyar mendirikan Himyar dan Tababi'at. Disebut dalam al-Qur'an "Tabba". Selain itu mereka pulalah mendirikan kerajaan Saba' kira-kira abad ke- 8 SM. Bani Qahtan inilah yang memerintah semenanjung Arabiyah sesudah al-Arab al-Baidah.
2.      Bahasa Arab Mustaribah keturunan nabi Ismail, mereka kemudian terkenal dengan nama "bani Adnan", suku inilah yang merebut kekuasaan bani Qahtan. Bani Adnan tingal di Hijaz, Nejed dan Tihamah. Bani ini mempunyai empat suku induk yaitu Rabi'ah, Mudhar, Iyad dan Anmar. Dari kabilah Adhan ini lahirlah beberapa kabilah, di antaranya Lahillah, kabila bani Kinanah yang selanjutnya melahirkan kabilah Quraisy. Setelah seluruh semenanjung Arabiyah tunduk di bawah kekuasaan Islam, barulah pasukan Islam mencoba melakukan ekspansi ke daerah-daerah diluar dan dimulai pada zaman khalifah pertama Abu Bakar Assidiq  dan diteruskan khalifah berikutnya. Mereka menaklukkan Syiriya (Syam) Irak, Mesir, Sudan, Maroko,  (Maghribi), Damaskus dan Palestina, semenjak itu bahasa Arab menjadi bahasa resmi di daerah itu.
Tersebarnya bahasa Arab Baqiyah tidak lepas dari pengaruh dan perang Islam  pada saat itu yang melakukan perluasan wilayah. Tunduknya wilayah tersebut memungkinkan bahasa Arab Baqiyah dipelajari, apalagi bagi kaum muslimin yang inti ajarannya ditulis dengan bahasa Arab (al-Qur'an). Fakta inilah yang menyebabkan bahasa Arab Baqiyah bertahan sampai sekarang. Melacak historis bahasa Arab Baqiyah kapan munculnya tidak diketahui secara pasti karena data yang menjelaskan hal itu baik tulisan-tulisan prasasti ataupun dalam bentuk lain tidak ada. Peninggalan yang menjelaskan keberadaan bahasa Arab Baqiyah yaitu adab jahiliah ini berupa peninggalan sastra yang berasal dari sekelompok penyair-penyair masa jahiliah beserta pula cendikiawan (hukama) dan orator-oratornya. Tetapi peninggalan itu tidak dikumpulkan dan ditulis kecuali pada abad-abad pertama Islam. Menurut para ahli, bahasa Arab tumbuh dan berkembang pada abad ke 5 masehi. Hal ini terjadi karena kebiasaan orang-orang Arab lebih mengandalkan hafalannya, dan keterampilan menulis belum menjadi tradisi.
Setelah datangnya Islam bahasa Arab berkembang terus dan baru mengalami kemunduran sampai dengan jatuhnya kota Bagdad ketangan bangsa Tartar di bawah pimpinan cucu Khulagu Khan pada tahun 1258 M. kemudian bahasa menemukan jati dirinya kembali setelah masa kejayaan bangsa-bangsa Turki sampai datangnya masa Arab Modern pada abad ke 19 Masehi.






BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
-         Jazirah arab diapit oleh dua kerajaan besar yaitu Romawi Timur di sebelah barat sampai ke laut Adriatik dan Persia di sebelah timur sampai ke sungai Dijlah.
-         Pada masyarakat arab pra Islam sudah banyak ditemukan tata cara pengaturan dalam aktivitas kehidupan sosial yang dapat dibagi pada beberapa sistem-sistem yang ada di masyarakat, salah satunya adalah system politiknya. Pada garis besarnya penduduk jazirah dapat dibagi berdasarkan teritorial kepada dua bagian yaitu: Penduduk kota (al-hadharah) dan Penduduk pedalaman yang mengembara dari satu tempat ke tempat lain.
-         Peradaban Arab adalah akibat pengaruh dari budaya bangsa-bangsa di sekitarnya yang lebih maju daripada kebudayaan dan peradaban Arab. Pengaruh tersebut masuk ke Jazirah Arab melalui beberapa jalur.
-         Bangsa Arab Ba’idah adalah Bangsa Arab yang kini sudah punah. Di antaranya adalah ‘Aad, Tsamud, Thasm, Jadis, Ashab ar-Rass, dan penduduk Madyan. kemusnahan kaum Tsamud, Ad, dan Madyan dijelaskan di dalam kitab suci Al qur’an.kaum Ad tinggal di Hadramaut, kaum Tsamud tinggal di daerah Al A’la sebuah kawasan antara Madinah dan Tabuk, sedangkan kaum Madyan tinggal di barat laut wilayah Jazirah Arab (Wilayah Tabuk dan selatan Yordania). Adapun dialek yang digunakan terdiri dari tiga yaitu; Lihyaniyah, Samudiyah, Syafawiyah.
-         Bahasa Arab Baqiyah adalah bahasa yang dipergunakan secara mutlak oleh bangsa Arab (orang-orang Arab) baik dalam tulisan, karangan kesusastraan dan sebagainya, seperti yang ada sekarang ini. Bahasa Arab Baqiyah terbagi menjadi dua bagian, yaitu; Aribah dan Musta’ribah.


[1] Philip K. Hitti, History Of Arab, (Jakarta; Serambi Ilmu Semesta, 2010), Hal 39.
[2] Abdul Wahid, Ilmu al-lughah, Hlm. 90

Komentar

Postingan Populer