Alih Kode Pada Kultum Ustadz Abdul Shomad “Belajar Dari Air” Di Youtube


BAB I
RUMUSAN MASALAH
1.1  LATAR BELAKANG
Bahasa merupakan bagian yang sangat penting, diantara realita kebahasaan tentunya terdapat sisi yang menarik untuk dikaji, salah satunya tentang teori alih kode yang terdapat didalam kajian sosilinguistik. Dalam kehidupan sehari-hari tanpa sadar insan di dunia mengalami kajian tersebut. Alih Kode (code switching) menurut Nababan mengatakan[1] suatu daerah atau masyarakat dimana terdapat dua bahasa bahasa disebut daerah atau masyarakat yang berdwibahasa atau bilingual. Kemudian Mackey mengatakan[2] penggunaan dua bahasa oleh seorang masyarakat tutur dalam pergaulannya dengan orang lain secara bergantian disebut bilingualisme. Selanjutnya, Ohoiwutun mengatakan[3] alih kode (code switching) yakni peralihan pemakaian dari suatu bahasa atau dialek ke bahasa atau dailek lainnya. Lebih lanjut Apple dalam Chaer mengatakan[4], alih kode yaitu gejala peralihan pemakaian bahasa karena berubahnya situasi.adanya variasi atau ragam bahasa yang ada dipilih bargantung pada banyak faktor, antara lain, lawan bicara, topik, suasana.[5]
Dalam alih kode penggunaan dua bahasa atau lebih itu ditandai oleh: (a) Masing-masing bahasa masih mendukung fungsi-fungsi tersendiri sesuai dengan konteksnya, (b) fungsi masing-masing bahasa disesuaikan dengan situasi yang relevan dengan perubahan konteks. Dengan adanya ciri-ciri itu menunjukkan bahwa didalam alih kode masing-masing bahasa masih mendukung fungsi-fungsi tersendiri secara ekslusif, dan peralihan kode terjadi apabila penuturnya merasa bahwa situasinya relevan dengan peralihan kodenya. Dengan demikian alih kode menunjukkan suatu gejala adanya saling ketergantungan antara fungsi kontekstual dan situasi relevansional didalam pemakaian dua bahasa atau lebih.[6]
Sesuai dengan realita yang terjadi pada ceramah ataupun tausiyah para ulama’ dan habaib, salah satunya adalah Ustadz Abdul Shomad, Lc. MA. tanpa sadar alih kode sudah di alami oleh beliau disetiap ceramahnya saat ini.
Berdasarkan latar belakang tentang alih kode yang berhubungan dengan bahasa Arab yang seringkali diucapkan beliau inilah penulis mengangkat permasalahan ini dengan judul “Alih Kode Pada Kultum Ustadz Abdul Shomad (Belajar Dari Air) Di Youtube” yang memiliki durasi maksimal 07.43 menit

1.2 RUMUSAN MASALAH
1.      Bagaimana Bentuk Alih Kode Pada Kultum Ustadz Abdul Shomad “Belajar Dari Air”?
2.      Bagaimana Jenis Alih Kode Pada Kultum Ustadz Abdul Shomad “Belajar Dari Air”?

1.3 TUJUAN PENELITIAN
1.      Ingin Mengetahui bentuk Alih Kode Pada Kultum Ustadz Abdul Shomad “Belajar Dari Air”.
2.      Ingin Mengetahui Jenis Alih Kode Pada Kultum Ustadz Abdul Shomad “Belajar Dari Air”.

1.4  MANFAAT PENELITIAN
a.       Teoretis
Penelitian ini diharapkan menjadi sumbangan ide, pikiran, maupun gagasan didalam bidang ilmu bahasa khususnya pada bidang ilmu Sosiolinguistik dengan salah satu sub-dsiplin ilmunya yaitu Alih Kode.
b.      Praktis
Penelitian ini diharapkan bisa dijadikan sebagai bahan bacaan yang bermanfaat maupun referensi dalam penelitian yang relevan dengan penelitian ini, khususnya bagi para mahasiswa Bahasa dan Sastra Uin Sunan Ampel Surabaya.





1.5  SISTEMATIKA PENULISAN
Bab  1  : Diawali dengan latar belakang, kemudian dilanjutkan dengan rumusan masalah, serta kemudian selanjutnya adalah tujuan penelitian, dan kemudian dilanjutkan dengan manfaat penelitian.
Bab 2   : Diawali dengan penelitian terdahulu dan kemudian dilanjutkan dengan landasan teori.
Bab 3   : Diawali dengan jenis metode, kemudian dilanjutkan dengan data, serta dilanjutkan lagi dengan rekaman data, setelah itu dilanjutkan lagi deangan sumber data, dan kemudian dilanjutkan dengan langkahlangkah penelitian.
Bab 4   : Diawali dengan analisis data, kemudian dilanjutkan dengan bentuk alih kode, setelah itu dilanjutkan dengan jenis alih kode.
Bab 5   : Diawali dengan kesimpulan, kemudian dilanjutkan dengan saran.




BAB II

2.1 PENELITIAN TERDAHULU
Penelitian mengenai ilmu sosiolinguistik ini telah banyak dilakukan terutama pengkajian terhadap penggunaan alih kode didalam ragam objek penelitian yang berbeda, akan tetapi masih terbatas pada penggunaan seperti sosial media, atau perbincangan dari para artis. Oleh karena itu, peneliti mendapat kesempatan untuk melakukan penelitian tentang penggunaan alih kode dari ceramah seorang ulama’ muda dan terkenal yang ketika beliau berceramah, beliau sedikit atau banyak menyelipkan kata – kata berbahasa Arab disetiap ceramahnya dan itulah yang akan masuk kedalam penilitian teori alih kode yang telah dipilih oleh peneliti. Diantara banyaknya penelitian yang relevan dengan teori penelitian yang dipilih oleh peneliti saat ini, yaitu mengenai yang telah ada dan sudah termuat lebih dulu didalam Jurnal Internasional, maupun skripsi – skripsi yang sudah selesai disusun.
Penelitian relevan disini adalah untuk membandingkan antara penelitian peneliti sendiri dengan penelitian – penelitian yang sudah dilakukan sebelumnya.

Penelitian pertama dilakukan oleh Syuli Mokodompit (2013) dalam Jurnal yang berjudul “Alih Kode Dalam Twitter”. Penelitian ini mengkaji mengenai beberapa pemilihan alih kode yang bertujuan untuk mendeskripsikan faktor penyebab terjadinya pemilihan alih kode dalam twitter, penelitian ini telah dilakukan dalam twitter sejak bulan Januari sampai Maret pada tahun 2013, tentang bentuk alih kode, dan telah ditemukan beberapa penemuan yaitu: 1) Terdapat bentuk - bentuk alih kode (Inggris) yang berbentuk frase dan kalimat, 2) Penyebab terjadinya alih kode dalam twitter ada beberapa faktor yaitu: Penutur, mitra tutur, pokok Pembicaraan, fungsi dan tujuan. Perbedaan penelitian ini dengan penelitian yang diteliti oleh peneliti sendiri adalah dalam variabel2 dan variabel3, sedangkan persamaan penelitian ini dengan peneiltian peneliti adalah pada variabel1. Penelitian ini menggunakan metode yang sama dengan metode penelitian yang dilakukan oleh peneliti yaitu metode Deskriptif Kualitatif.

Kemudian yang kedua dilakukan oleh Rosdiana (2016) dalam Jurnal SAP yang berjudul “Alih Kode (CODE-SWITCHING) Pada Jejaring Sosial Path”. Penelitian ini mengkaji mengenai beberapa pemilihan alih kode yang bertujuan untuk mendeskripsikan faktor penyebab terjadinya pemilihan alih kode dalam Path. Pada jejaring sosial Path yang terhubung dengan akun penulis yang diunggah oleh para pemilik akun memiliki dua jenis alih kode yaitu alih kode antar kalimat (inter-sentential) dan alih kode dalam kalimat (intra-sentential). Alih kode antar kalimat mendominasi pemunculan alih kode pada status Path para pemilik akun yang sedang diteliti. Perbedaan penelitian ini dengan penelitian yang diteliti oleh peneliti sendiri adalah dalam variabel2 dan variabel3, sedangkan persamaan penelitian ini dengan peneiltian peneliti adalah pada variabel1. Penelitian ini menggunakan metode yang sama dengan metode penelitian yang dilakukan oleh peneliti yaitu metode Deskriptif Kualitatif.

Ketiga adalah dilakukan oleh Rani Frisilia Kalangit (2016) dalam jurnal yang berjudul “ Alih Kode Dalam Instagram“. Penelitian ini mengkaji mengenai beberapa pemilihan alih kode yang bertujuan untuk mendeskripsikan faktor penyebab terjadinya pemilihan alih kode dalam Instagram. Perbedaan penelitian ini dengan penelitian yang diteliti oleh peneliti sendiri adalah dalam variabel2 dan variabel3, sedangkan persamaan penelitian ini dengan peneiltian peneliti adalah pada variabel1. Penelitian ini menggunakan metode yang sama dengan metode penelitian yang dilakukan oleh peneliti yaitu metode Deskriptif Kualitatif.


2.2 LANDASAN TEORI
                  Dalam melakukan penelitian yang sedang dilakukan oleh peneliti ini, tentunya memiliki relevansi baik dari beberapa kajian disiplin ilmu kebahasaan yang lain selain alih kode, yaitu meliputi kajian dispilin ilmu berikut ini:
a. Ilmu Bahasa / Linguistik
Penelitian ini menggunakan landasan teori yang erat kaitannya dengan bidang ilmu kebahasaan. Bahasa menurut Edward Sapir ‘language is a purely human non-instinctive methode of communicating ideas, emotions, and desires by means of a system of voluntarily produced symbols’[7]

b. Ilmu Sosiolinguistik
Kajian ilmu bahasa yang digunakan dalam penelitian ini adalah ilmu sosiolinguistik. Sosiolinguistik merupakan disiplin ilmu antara ilmu Sosio dan Linguistik, dua bidang ilmu empiris yang mempunyai kaitan yang sangat erat. Sosiolinguistik adalah kajian yang menyusun teori – teori tentang hubungan mayarakat dengan bahasa. sosiolinguistik juga mempelajari dan membahas aspek – aspek kemasyarakatan bahasa khususnya perbedaan – perbedaan yang terdapat dalam bahasa yang berkaitan dengan faktor – faktor kemsyarakatan.[8] Menurut Johan (2009),
we can define sociolinguistics as the study of language in relation to society,[9] like other subjects sociolinguistics is partly empirical and partly theoretical partly a matter of going out and amassing bodies of fact and partly of sitting back and thinking.[10] In particular it allows the beginnings of an annalytical farmework to be worked out, containing terms, such as language, (a body of knowledge or rules), speech (actual utterances), speaker, addressee, topic, and so on. And of course personal experience is a rich source of information on language in relation to society.’[11]
Nababan (1984) “Sosiolinguistik adalah kajian atau pembahasan bahasa sehubungan dengan penutur bahasa itu sebagai anggota masyarakat.”[12]

c. Alih kode
Dalam kajian ilmu sosiolinguistik ini, peneliti memilih menggunakan teori alih kode. Appel (1976: 79) mendefinisikan alih kode itu sebagai gejala peralihan pemakaian bahasa karena berubahnya situasi.[13] Sedangkan, Hymes (1875: 103) berbeda dengan Appel yang mengatakan alih kode itu terjadi antar bahasa, Hymes mengatakan “Code switching has become a common term for alternate us of two or more language, varieties, of languages, or even speech styles”.[14] Ohoiwutun mengatakan alih kode (code switching) yakni peralihan pemakaian dari sutau bahasa atau dialek ke bahasa atau dialek lainnya.[15]

d. Bilingualisme
Kemudian, dalam teori alih kode (code switching) sebenarnya tidak lepas dari pemakaian dua bahasa atau lebih atau yang biasa disebut dengan bilingualisme, Mackey mengatakan[16] penggunaan dua bahasa oleh seorang masyarakat tutur dalam pergaulannya dengan orang lain secara bergantian disebut bilingualisme, sedangkan menurut Nababan mengatakan[17] suatu daerah atau masyarakat dimana terdapat dua bahasa bahasa disebut daerah atau masyarakat yang berdwibahasa atau bilingual.



BAB III

3.1 METODE PENELITIAN
a. Jenis Metode
Jenis metode penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif yang bertujuan untuk mendeskripsikan suatu bentuk kebahasaan yang ditentukan dalam penelitian secara apa adanya. Dalam penelitian kualitatif data yang dikumpulkan terutama berupa kata-kata, kalimat atau gambar yang memiliki arti yang lebih dari pada sekedar angka atau frekuensi[18].
b.     Data
Keseluruhan jumlah data yang telah diteliti berjumlah 10 data yang didapatkan oleh peneliti, diantaranya yaitu;
1.      Bismillahirrahmanirrahim, assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh, alhamdulillah wash-shalatu wassalamu ‘ala Rasulillah wa ‘ala ali wa shahbihi wa man tabbi’ahu wa man walah, ikhwati rahimakumullah
2.      ‘Audzubillahi minasy-syaithanirrajim wa ja’alna minal ma’ kulla syai’in hay.
3.      Yaa ayyuhal ladziina amanu idzaa kuntum ila shalah fashilu wujuhakum wa aidiyakum ilal marafiqi wamsahu biru’usikum wa arjulakum ilal ka’bain.
4.      Afala ta’qilun? Afala tatafakkarun?.
5.      Fabi ayyi ala irabbikuma tukadzdziban.
6.      Abdan Syakura.
7.      Wa qalilum-min ‘ibadiyas-syakur.
8.      Qalilum-ma tasykurun
9.      Alhamdulillah subhanallah wal hamdulillah wa la ilaha illallah wallahu akbar.
10.  Wassalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh.


c.       Rekaman data

Rekaman data diambil dari video yang sudah di convert menjadi audio, berikut hasil rekaman data yang sudah ditulis ulang oleh peneliti:

Penutur : “Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh, alhamdulillah wash-shalatu wassalamu ‘ala Rasulillah wa ‘ala ali wa shahbihi wa man tabi’ahu wa man walah, ikhwati rahimakumullah. Saudara – saudaraku yang dimuliakan Allah Subhanahu wa ta’ala, dihadapan kita saat ini ada makhluk Allah bernama air. Salah satu keistimewaan air, Allah ta’ala berfirman dalam al-Qur’an : ‘Audzubillahi minasy-syaithanirrajim wa ja’alna minal maa’ kulla syai’in hay’ segala yang hidup ini diciptakan dari air, asal muasal kehidupan kita tapi ada pelajaran penting yang dapat diambil dari air ini. Air selalu mengalir, dia tidak bisa ditahan, ketika dia ditahan dikepung maka dia akan menjadi perlawanan yang besar, perlawanan itu bernama banjir bandang. Air nampaknya lemah ketika dia sedikit, ketika kecil tapi ketika dia sudah berkumpul menjadi besar dia menjadi kekuatan yang luar biasa.

Belajar dari air, air nampaknya tidak punya apa – apa, setetes demi setetes. Tapi jangan lupa ketika dia menetes tanpa henti maka batu yang kuat yang besar yang kokoh hari demi hari tahun demi tahun akan berlobang akan terbelah bahkan mungkin akan luluh hancur berkeping – keping.

Belajar dari air, air jangan dikotori jangan dinodai, karena ibadah kita “Yaa ayyuhal ladzina aamanu (Hai orang – orang yang beriman) idza kuntum ila shalah (kalau kamu mau shalat) fashilu wujuhakum (basuh wajah) wa aidiyakum ilal maraafiq (tangan sampai siku) wamsakhu biru’usikum (usap kepalamu sampai telingan) wa arjulakum ilal ka’bain (kaki sampai mata kaki)” dan alat untuk mensucikan itu adalah air. Ada air suci bisa dibuat minum tapi dia tidak mensucikan. Air musti dijaga kesuciannya, kalau tidak maka dia tidak akan bermanfaat dan tidak akan berguna untuk apa – apa tapi ada air yang memang dia najis, dia bisa mengotori baju, karena percikannya saja kaki kita, maka batal shalat kita. Maka kita belajar dari air.

‘Apakah kita ingin menjadi air yang suci?’
‘atau justru air najis naudzubillah’

Tapi kita ingin menjadi suci dan mensucikan. Suci buat diri kita sendiri, bisa pula bermanfaat buat orang lain. Air makhluk Allah Subhanahu wa ta’ala, ketika orang tidak dapat makan dia bisa bertahan tiga bulan lamanya, andai gandum tidak tumbuh andai padi mati tapi ketika tidak ada air orang akan bertahan hanya tiga hari saja selesai tiga hari kehidupan ini akan selesai, tapi ketika orang berfikir Allah ajak manusia ini untuk berfikir “Afala ta’qilun?” (Kenapa kamu tidak berakal?), kenapa tidak gunakan akal pikiranmu “Afala tatafakkarun” (Mengapa kamu tidak berpikir?) , padahal air yang tawar ini hanya ada di daratan, sementara samudera laut yang begitu luas, asin tapi Allah Subhanahu wa ta’ala dengan rahman dan rahimnya Dia buat bukit – bukit ini masih bertahan air yang segar, orang bisa minum orang bisa mandi, tanam – tanaman tumbuh, maka “Fabi ayyi ala irabbikuma tukdz-dziban” (Nikmat mana lagi yang engkau dustakan?), Mengapa tidak  bersyukur kepada Allah? Syukur dengan ucapan memperbanyak tahmid Alhamdulillah, Alhamdulillah. Syukur dengan perbuatan melaksanakan segala perintah Allah menjauhi segala larangan Allah, mengaku diri ini rendah. Andaikan kau tidak jaga ini, andai engkau tidak menurunkan air ini yaa Allah pastilah aku sudah lama mati dan binasa,  ini semua adalah karunia dan nikmat Allah yang besar yang musti disyukuri seorang pribadi muslim, sehingga dia menjadi ‘abdan syakura (Hamba Allah yang bersyukur) tapi ternyata yang bersyukur itu tidak banyak, makannya Allah katakan “Wa qalilum-min ‘ibadiyasy-syakur” (Hanya sedikit saja hamba-Ku yang bersyukur), “Qalilam-ma tasykurun” (Sedikit diantara kalian yang pandai bersyukur). Syukur nampakkan, tunjukkan, perlihatkan. Kufur tutupi, tak nampak, maka kita tinggal memilih apakah menjadi yang bersyukur menampakkan nikmat Allah, ada bekas – bekas nikmat Allah itu pada diri kita, tunjukkan bahwa Allah pernah memberikan nikmat atau kita menjadi justru orang – orang yang kufur tak pernah merasa bahwa ini adalah karunia besar dari Allah. Seolah –olah Allah Subhahu wa ta’ala menurunkan nikmat, padahal nikmat ini besar sekali sampai hari ini kita hidup karena air, betul tapi air itu Allah Subhanahu wa ta’ala yang menurunkannya menjadi air, disucikan dengan air, meminum air dan itu semua adalah nikmat Allah Subhanahu wa ta’ala maka, ketika seorang mukmin berpikir merenung sejenak pikirnya adalah syukur, diamnya adalah dzikir, geraknya adalah dzikir. Lalu lidahnya bergerak Alhamdulillah subhanallah walhamdulillah walaa ilaha illallah wallahu akbar. Kalau dia diam, dia diam sedang berfikir ‘Apalagi nikmat Allah yanng belum kusyukuri? Mengapa juga aku belum menjadi hamba Allah yang pandai  bersyukur?’ mari kita syukuri, semoga kita termasuk hamba – hamba Allah yang sedikit yang pandai bersyukur. Terimakasih, Wassalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh.”

d.      Sumber Data

Sumber data dari penelitian ini adalah Ustadz Abdul Shomad, Lc. MA, Data penelitian ini berbentuk ujaran dari beliau pada saat menyampaikan kultum, dan data yang diperoleh peneliti berjumlah 10 data. Metode pengambilan data menggunakan teknik rekaman. Teknik analisis data menggunakan metode etnografi komunikasi yaitu komponen tutur dari miliknya Dell Hymes (SPEAKING).

3.2  LANGKAH – LANGKAH PENELITIAN
Adapun langkah – langkah yang dilakukan oleh peneliti sebelum melakukan penelitian yaitu sebagai berikut:

1.      Observasi
Dalam melakukan  penelitian  ini peneliti melakukan observasi terlebih dahulu dengan cara mencari kumpulan video kultum ustadz Abdul Shomad di Youtube yang  mana  didalam kultum tersebut terdapat penggunaan alih kode yang digunakan oleh penuturnya.

2.      Mengumpulkan Data
Peneliti mencatat semua data yang ada direkaman video tersebut secara rinci dari awal sampai akhir.

3.      Identifikasi
Peneliti selanjutnya mengidentifikasi data – data yang termasuk kedalam teori penelitian “alih kode.

4.      Analisis
Peneliti menganalisis data - data dari segi bentuk dan jenis alih kode.

5.      Kesimpulan
Peneliti memberi kesimpulan dari hasil penelitian yang didapatkan.






BAB IV
PEMBAHASAN

4.1 ANALISIS DATA
Dari hasil data penelitian yang telah didapatkan oleh peneliti, ditemukan bahwa jenis alih kode yang digunakan oleh penutur adalah alih kode ekstern dimana maksud dari alih kode ekstern adalah alih kode yang terjadi antar bahasa[19]. kemudian, untuk memperjelas adanya data – data dalam penelitian tersebut peneliti akan memaparkan perihal bahasa dalam konteks sosialnya yang melibatkan peristiwa tutur dengan delapan komponen yang biasa disebut dengan S-P-E-A-K-I-N-G,menurut Dell Hymes. Peristiwa tutur sendiri adalah terjadinya atau berlangsungnya interaksi linguistik dalam satu bentuk ujaran atau lebih yang melibatkan dua pihak yaitu penutur dan lawan tutur dengan satu pokok tuturan didalam tempat, waktu, dan situasi tertentu.[20] Dalam data penelitian ditemukan oleh peneliti bahwa adanya peristiwa tutur ini melibatkan dua orang atau lebih yaitu dengan satu orang penutur beliau adalah Ustadz Abdul Shomad, kemudian yang menjadi mitra tuturnya adalah para crew yang ikut andil dalam proses pembuatan rekaman video kultum beliau serta penonton yang menyaksikan kultum beliau melalui channel Tafaqquh Video di Youtube. Dilihat dari pemandangan alamnya yang masih sejuk sudah dapat diketahui bahwa rekaman video kuktum ini diambil ketika masih pagi hari (ba’da shubuh) sekitar jam 5 atau jam 6 wilayah setempat.
Adapun pihak – pihak yang terlibat dalam rekaman video kultum ini yaitu para anggota broadcast yang ada dibalik layar serta penuturnya ustadz Abdul Shomad, Lc. MA. Tujuan dibuatnya video rekaman kultum ini adalah untuk membuat siapapun yang menonton ikut bermuhasabah diri dan menyadari bagaimana hakikat kehidupan kita yang ada korelasinya dengan air, banyak sekali pesan moral utamanya pesan agama yang disampaikan dalam video rekaman ini. Bentuk ujaran yang digunakan oleh penutur adalah ujaran bahasa Indonesia khas orang Melayu dan bahasa Arab.   Penutur dalam objek penelitian ini adalah Ustadz Abdul Shomad, Lc. MA, untuk mitra tutur nya sendiri adalah para jama’ah yang hadir didalam forum kajian tersebut baik yang berada didalam ruangan maupun diluar ruangan. Pesan yang disampaikan berupa nasihat yang dinarasikan dalam bentuk tausiyah atau ceramah. Intonasi yang digunakan oleh penutur adalah intonasi sedang dan dalam konteks pembahasan yang serius. Didalam rekaman video kultum ini penutur menggunakan clip on sebagai pengganti mic, untuk memperjelas hasil penuturan dalam rekaman. Penyampaian tuturan yang dilakukan oleh penutur menggunakan penuturan dalam bentuk narasi dimana penutur seperti bercerita kepada mitra tuturnya perihal ilmu yang ingin disampaikan oleh penutur.
4.2 BENTUK ALIH KODE
Alih kode bisa terjadi dikarenakan kemampuan dasar penutur yang menguasai dua bahasa atau lebih, demikian pula yang terjadi pada kultum ustadz Abdul Shomad. Beliau termasuk kedalam salah seorang ulama’ masa kini yang banyak disukai oleh para muda-mudi, maupun para orangtua, didalam ceramah beliau khususnya didalam kultum beliau yang bertemakan “Belajar Dari Air” ini peneliti menemukan adanya alih kode yang digunakan, baik dalam bentuk frasa maupun kalimat. Disini peneliti menemukan data berjumlah 10 data, yaitu :

NO
BENTUK ALIH KODE
KALIMAT
FRASA
1
Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh, alhamdulillah wash-shalatu wassalamu ‘ala Rasulillah wa ‘ala ali wa shahbihi wa man tabi’ahu wa man walah, ikhwati rahimakumullah.




2
Audzubillahi minasy-syaithanirrajiIm wa ja’alna minal maa’ kulla syai’in hay’.

3
Yaa ayyuhal ladzina aamanu (Hai orang – orang yang beriman) idza kuntum ila shalah (kalau kamu mau shalat) fashilu wujuhakum (basuh wajah) wa aidiyakum ilal maraafiq (tangan sampai siku) wamsakhu biru’usikum (usap kepalamu sampai telingan) wa arjulakum ilal ka’bain (kaki sampai mata kaki).




4
Afala ta’qilun
5
Afala tatafakkarun
6
Fabi ayyi ala irabbikuma tukdz-dziban.


7
Wa qalilum-min ‘ibadiyasy-syakur.
8
Qalilam-ma tasykurun.
9
Alhamdulillah subhanallah walhamdulillah walaa ilaha illallah wallahu akbar.

10
Wassalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh.



4.2 JENIS ALIH KODE
            Menurut Gumperz (dalam Piantari, dkk , 2011) ada dua jenis alih kode; situasional code switching (kecenderungan komunitas bilingual atau multilingual dalam menggunakan bahasa atau ragam bahasa yang berbeda pada situasi sosial yang berbeda) dan metaphorical code switching (kecenderungan dalam masyarakat bilingual atau multilingual untuk beralih kode (bahasa atau ragam bahasa) dalam percakapan untuk membahas topik ke dalam wilayah percakapan lain).[21]
Poplack seperti yang dikutip oleh Romaine (dalam Piantari, dkk, 2011) juga membedakan tiga tipe dari alih kode, berikut pembagiannya;
a. Tag switching, is simply the insertion of a tag in one language in an utterance which is
entirely in the other language, e.g. you know, I \mean, right?
b. Inter sentential switching, involves a significant amount of syntactic complexity and
conformity to the rules of both languages; therefore speakers performing this kind of
switching are usually fairly proficient in the participating languages.
c. Intra sentential switching refers to the switching that occurs inside the same clause or sentence which then contains elements of both languages. This type of switching appear to involve special principles governing how the syntax and morphology of both languages may interacted and consequently adopted only by bilinguals with high levels of fluency. (Piantari, dkk, 2011)[22]
Poplack membagi alih kode menjadi tiga tipe, yaitu alih Tag, atau penyisipan Tag dalam satu bahasa dalam ucapan yang seluruhnya menggunakan bahasa lain. Tipe yang kedua adalah alih kode Intersentential, dalam tipe ini terjadi peralihan kalimat-kalimat yang cukup kompleks. Oleh karena itu, pada umumnya speaker mampu melakukan alih kode tersebut karena mahir dalam bahasa yang dipilihnya. Dan tipe yang ketiga adalah alih kode Intra sentential. Hal ini terjadi di dalam klausa yang sama atau kalimat yang kemudian mengandung unsur kedua bahasa. Tipe ini melibatkan prinsip-prinsip khusus yang mengatur bagaimana sintaksis dan morfologi kedua bahasa dapat berinteraksi.[23]
            Dari beberapa pembagian jenis alih kode menurut Gumperz dan Poplack, jenis alih kode yang terdapat pada kesepuluh hasil data penelitian termasuk kedalam jenis alih kode situasional code switching (kecenderungan komunitas bilingual atau multilingual dalam menggunakan bahasa atau ragam bahasa yang berbeda pada situasi sosial yang berbeda) dan alih kode Intra sentential, jadi jenis alih kode yang ada pada hasil penelitian ini adalah Alih kode antar kalimat (inter-sentential switching) dan Alih kode dalam kalimat. Alih Kode dalam kalimat (intra-sentential switching). Sementara itu, alih kode yang terjadi dalam kalimat (intra-sentential switching) mencakupi alih kode dalam bentuk kata dan frasa. Frasa dan kata yang muncul dalam alih kode meliputi jenis kelas kata nomina, ajektiva, verba, dan adverbia. Kata-kata dengan alih kode tersebut muncul dalam bentuk:  kata tunggal[24] dan bagian dari kalimat.




BAB V
PENUTUP
5.1 KESIMPULAN
Bisa disimpulkan bahwa disini peneliti sedang meneliti bentuk dan jenis alih kode pada kultum ustadz Abdul Shomad dimana peneliti menemukan hasil datanya sejumlah 10 data, yang mengandung dua bentuk yaitu frasa dan kalimat, sedangkan dalam jenis alih kodenya sendiri peneliti menemukan bahwa keseluruhan data yang masuk kedalam alih kode ekstern dikarenakan peralihan bahasa yang digunakan oleh penutur adalah bahasa Arab. Jenis alih kode yang ditemukan dari hasil penelitian ini adalah alih kode situasional code switching (kecenderungan komunitas bilingual atau multilingual dalam menggunakan bahasa atau ragam bahasa yang berbeda pada situasi sosial yang berbeda) dan alih kode Intra sentential, jadi jenis alih kode yang ada pada hasil penelitian ini adalah Alih kode yang terjadi dalam kalimat.




DAFTAR PUSTAKA
            Sumber Buku:
Dimyathi, Afifudin. 2014. SOSIOLINGUISTIK. Surabaya: UINSA Press.
Edwards, John. 2009. Language and Identity. Cambridge: Cambridge University Press.
Hudson. 1996.  Sociolinguistics Second Edition. Cambridge: Cambridge University Press.
Rokhman, Fatkhur. 2013.  Sosiolinguistik Suatu Pendekatan Pembelajaran Bahasa dalam Masyarakat Multikultural. Yogyakrta: Graha Ilmu.
Rosdiana. 2016. ALIH KODE (CODE-SWITCHING) PADA JEJARING SOSIAL PATH. Jurnal SAP, Vol. 1 No. 2.
Sumarsono. 2009. SOSIOLINGUISTIK. Yogyakarta: SABDA.
Sutopo, H. B. 2002. Metodologi penelitian kualitatif: Dasar teori dan terapannya dalam penelitian (Qualitative reseach methodology: Basic theories and their application to reseach). Surakarta: Sebelas Maret University Press.

Sumber Internet:
Shomad, Abdul. 2016. Belajar Dari Air. Riau: Tafaqquh Video.



[1] Afifudin Dimyathi, SOSIOLINGUISTIK, (SURABAYA: UINSA Press, 2014), hlm. 97
[2] Ibid,
[3] Ibid, hlm. 98
[4] Ibid,
[5] Sumarsono, SOSIOLINGUISTIK, (Yogyakarta: SABDA, 2009), hlm. 201
[6]Fathur Rokhman, Sosiolinguistik Suatu Pendekatan Pembelajaran Bahasa dalam Masyarakat Multikultural, (Yogyakrta: Graha Ilmu, 2013), hlm. 37
[7] John Edwards, Language and Identity, (Cambridge: Cambridge University Press, 2009), hlm. 53
[8] Afifudin Dimyathi, SOSIOLINGUISTIK, (Surabaya: Uin Sunan Ampel Press, 2014), hlm. 4
[9] Hudson, Sociolinguistics Second Edition, (Cambridge: Cambridge University Press, 1996), hlm. 1
[10] Ibid.,
[11] Ibid.,
[12] Sumarsono, SOSIOLINGUISTIK, (Yogyakarta: SABDA, 2009) hlm, 4
[13] Afifudin Dimyathi, SOSIOLINGUISTIK, (Surabaya: Uin Sunan Ampel Press, 2014), hlm. 96
[14] Ibid, hlm. 97
[15] Ibid, hlm. 98
[16] Ibid, hlm.. 97
[17] Ibid.,
[18] H. B. Sutopo, Metodologi penelitian kualitatif: Dasar teori dan terapannya
dalam penelitian (Qualitative reseach methodology: Basic theories and
their application to reseach), (Surakarta: Sebelas Maret University Press, 2002), hlm. 35
[19] Afifudin Dimyathi, SOSIOLINGUISTIK, (SURABAYA: UINSA Press, 2014), hlm. 106
[20] Ibid., hlm. 38
[21] Rosdiana,  ALIH KODE (CODE-SWITCHING) PADA JEJARING SOSIAL PATH, Jurnal SAP Vol. 1 No. 2
[22] Ibid,
[23] Ibid,
[24] Ibid,

Komentar

Postingan Populer